Benarkah Orang Miskin/Terlantar Dijamin Negara???

Berikut ini kelanjutan kisah si Cantik Isma, adik dampingan kakak-kakak ORCIKS (Organisasi Cinta Kasih Surabaya)

Setelah Isma masuk di Ruang BONA 2, esok paginya kakak-kakak ORCIKS berbagi tugas, ada yang kirim makanan buat adik-adik Isma di rumah kecilnya di perkampungan TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara) Simpang Dukuh. Ada kak Yunita yang bertugas mengurus Surat Keterangan Terlantar untuk persyaratan mengurus jaminan kesehatan di pengendali ASKES/BPJS.

Tahap pertama adalah mengajukan permohonan untuk mendapatkan Surat Keterangan Terlantar kepada Kelurahan setempat domisili pasien, perkampungan TPS Simpang Dukuh masuk ke dalam Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng. Hari Senin, Senin, 26 Januari2014, Kak Yunita dengan semangat pagi datang ke Kelurahan Genteng, tetapi sayang ternyata pihak Kelurahan belum tersosialisasi dengan baik bagaimana mekanisme pembuatan jamkesmas versi pasien miskin terlantar/tidak beridentitas. Orang tua adikIsma kebetulan memiliki KK terdaftar di Kelurahan Mojo, tetapi Isma dan adik-adiknya belum memiliki akte kelahiran dan tentunya tidak terdaftar di KK orang tua. Saat di Kelurahan Genteng Kak Yulia diarahkan ke Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng. Masih dengan semangat Kak Yulia datang ke Kelurahan Mojo, sayangnya Surat Keterangan Terlantar yang dibuat terjadi kesalahan. Surat keterangan terlantar adalah untuk orang-orang yang tidak memiliki identitas, di Kelurahan Mojo disebutkan yang mengajukan permohonan adalah Ibunya dengan identitas lengkap dan menyatakan anaknya terlantar. Pada tahap ini Kakak-kakak ORCIKS akhirnya menyerah karena waktu juga yang harus diperhitungkan.

Pengalaman DFC mengurus permohonan Surat Keterangan Terlantar dari Kelurahan memang butuh sosialisasi lebih dulu pada perangkat Kelurahan karena tidak semua perangkat kelurahan dan atau Lurahnya memahami prosedur/mekanisme pengurusan jaminan kesehatan buat orang-orang terlantar.  Selasa, 27 Januari 2014, Kak Fajar kembali lagi ke Kelurahan Mojo untukmemperbaiki redaksional Surat tersebut, sayangnya Lurahnya sedang tidak ada di tempat dan baru akan datang jam 3 sore. Isma masuk RS hari Sabtu, rasanya terlalu lama kalau harus menunggu Lurahnya datang setelah jam3, artinya akan ada waktu tertunda satu hari lagi. Semangat Kakak-kak ORCIKS perlu mendapatkan pujian, meski baru pertama kali mengurus surat dan ada kendala tetap semangat untuk mempelajarinya lebih lanjut. Selanjutnya karena terbentur waktu yang harus cepat pengurusan surat terlantar tersebut akhirnya dilakukan Kak Fajar dibantu DFC secara langsung.

Kami datang ke Kelurahan Dr. Soetomo tempat dimana Sekretariat DFC berdomisili, kami menyebutkan sebagai dampingan DFC tujuannya untuk memudahkan prosedur yang diburu waktu. Alhamdulillah dalam waktu kurang setengah jam Surat Keterangan Terlantar dari Kelurahan sebagai pengantar untuk mendapatkan Surat Keterangan Terlantar dari Dinas Sosial Kota Surabaya. Selanjutnya kami datang ke Dinas Sosial Kota Surabaya di jalan Kedungsari untuk minta Surat Keterangan Terlantar Dinas Sosial sebagai pengantar ke pengendali ASKES/BPJS. Kami datang membawa Surat dari Kelurahan dan foto copy Surat Keterangan Rawat Inap, alhamdulillah kurang dari satu jam surat dari Dinas Sosial Kota Surabaya sudah selesai.

Surat Keterangan Rawat Inap untuk Pengantar ke Kelurahan dan Dinas sosial Kota

Surat Keterangan Rawat Inap untuk Pengantar ke Kelurahan dan Dinas sosial Kota

Surat Keterangan Terlantar dari Dinas Sosial Kota Surabaya

Surat Keterangan Terlantar dari Dinas Sosial Kota Surabaya

Setelah surat dari Dinas Sosial selesai kami membawanya ke RSUD Dr. Soetomo untuk diajukan ke pengendali ASKES/BPJS esok paginya. Hari Rabu 28 Januari 2014, dibantu Cak Die Relawan Kesehatan DFC akhirnya Surat Jaminan Kesehatan Nasional untukpasien terlantar atas nama adik Isma selesai, Surat ini akan berlaku seterusnya untuk pengobatan adik Isma sampai sembuh, berikutnya untuk kontrol-kontrol pemulihan dan atau bila sakit semuanya dijamin oleh Negara.

Tidak sulit untuk mengurus jaminan kesehatan bagi orang miskin dan atau terlantar, memang butuh sedikit kesabaran untuk melakukan advokasi pada pihak-pihak terkait yang belum cukup memahami mekanisme penerbitan Surat Jaminan Kesehatan bagi masyarakat miskin/terlantar. Tulisan selanjutnya akan membahas secara detail kiat-kiat mengurus surat jaminan kesehatan bagi orang miskin dan terlantar, pastikan diri kita ikhlas menjadi relawan bagi sesama kita.

Bagi yang berminat untuk belajar lebih kongkrit bagaimana mengurus surat jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin dan terlantar silahkan kontak kami di 0818 505 404

Mila Machmudah

UUD 1945

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PEMBUKAAN

( P r e a m b u l e)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Siapa bilang orang miskin/terlantar ditolak Rumah Sakit….

Seringkali kita membaca berita bahwa ada Rumah Sakit menolak pasien miskin berobat karena tidak mampu menyediakan uang muka biaya pengobatan. Seringkali kita juga mendengar kabar kabar bahwa orang miskin memilih berobat ke dukun dari pada ke Rumah Sakit karena tidak punya uang. Banyak cerita pasien miskin di Rumah Sakit sering mendapatkan perlakuan yang berbeda disbanding pasien umum. Tidak sedikit kita juga dipertontonkan orang-orang sakit jiwa yang dipasung atau dirantai karena keluarga sudah tidak mampu membiayai pengobatannya.

UUD 1045 Pasal 34 secara jelas menyebutkan bahwa orang miskin dan terlantar dipelihara oleh Negara. Bagaimana sesungguhnya implementasi program tersebut secara nyata di masyarakat. Apakah benar Negara sudah melaksanakan perintah UUD tersebut. Dalam konteks hukum dan perundang-undangan sudah ditetapkan Undang Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No.24 Tahun 2012 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 1 Januari 2014 adalah awal diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Bagaimana dengan pelaksanaan di lapangan???

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas berita-berita yang pernah diterbitkan dari berbagai media. Kami akan bercerita kejadian yang kami lihat sendiri, sederhananya tulisan ini adalah sebuah testimoni. Drug Free Community sudah cukup sering menangani kasus pasien terlantar sejak tahun 2012. Awalnya memang banyak kendala, berjalannya waktu kami belajar dari berbagai kendala dan memperbaiki koordinasi dengan pihak terkait, akhirnya kami mendapatkan kemudahan dan kemudahan.

Kali ini kami akan menulis kasus yang baru saja terjadi, 26 Januari 2014.

Jam 16.30 WIB, kami mendapatkan telpon dari Kak Fajar relawan ORCIKS (Organisasi Cinta Kasih Surabaya), mengabarkan bahwa salah satu adik dampingannya sakit panas batuk kurang lebih 3 minggu dan akan di bawa ke Rumah Sakit. Kami katakana padanya untuk segera membawa ke IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dan bilang ke bagian loket bahwa pasien adalah warga miskin/terlantar dampingan LSM dan meminta untuk dapat PIUTANG. Sengaja kami tidak segera menuju IRD karena kami ada relawan yang memang 24 jam siaga di RSUD Dr. Soetomo bila dibutuhkan, agar Kak Fajar bisa melakukan advokasi mandiri. Setengah jam kemudian ada telpon lagi dari Kak Fajar yang mengatakan sudah sampai di IRD dan anak yang sakit sudah ditangani dokter jaga tanpa satu rupiah pun bayar. Cerita Kak Fajar dia langsung diberikan berkas status untuk diserahkan ke Dokter yang menangani pasien setelah cukup mengatakan bahwa pasien adalah warga miskin dampingan LSM dan akan diurus Surat Miskin/Terlantarnya hari Senin, 28 Januari 2014. Tahap satu pendaftaran pasien dilewati Kak Fajar dengan mudah tanpa biaya tanpa jaminan.

Sebelum cerita lebih lanjut, sekilas tentang ORCIKS adalah satu komunitas anak muda yang memiliki kepedulian untuk melakukan pendampingan pembelajaran pada anak-anak marginal yang berada di sekitar Taman Prestasi Jalan Ketabang Kali Surabaya. 1 Januari kemarin tepat 3 Tahun mereka eksis secara mandiri membiayai kegiatan-kegiatannya. Mereka setiap Sabtu dan Minggu mendampingi belajar dan memberikan ketrampilan-ketrampilan di Taman Prestasi. Adik-adik dampingan mereka sekitar 50 anak mulai dari belum sekolah sampai anak usia SMA. Mereka membahasakan diri pada adik-adiknya dengan sebutan Kakak, mereka ada sekitar 20 Kakak.

ORCIKS 2013... indahnya kebersamaan Kakak-kakak yang indah hatinya bersama adik-adik dampingan yang cantik dan ganteng

ORCIKS 2013… indahnya kebersamaan Kakak-kakak yang indah hatinya bersama adik-adik dampingan yang cantik dan ganteng di Taman Prestasi Surabaya saat HUT ORCIKS ke-2

Kembali ke kasus, adik kecil mereka yang sakit adalah Isma umur 11 tahun, kelas 4 SD segera ditangani paramedis di IRD seperti pasien-pasien yang lain tanpa ada diskriminasi perlakuan pada pasien dan atau keluarga pasien. Tahap kedua adalah menebus resep dan tindakan-tindakan medis lainnya. Setelah melakukan observasi awal dokter memberikan resep yang harus segera ditebus, pergilah Kak Fajar ke apotik dan kami hanya melihat dari belakang setelah menerangkan cara menebus resep yaitu dengan membawa berkas status pasien. Tidak lama kemudian Kak Fajar datang dengan membawa obat dan alat yang diperlukan untuk tindakan medis selanjutnya. Tahap Kedua menebus resep berhasil juga dilewati oleh Kak Fajar tanpa biaya tanpa jaminan.

Isma... Adik dampingan ORCIKS...

Isma… Adik dampingan ORCIKS… Senyum semangat untuk sembuh…

Selanjutnya pasien menjalani perawatan dengan diagnose TB dan harus opname dengan berbagai tindakan medis yang diperlukan. Sekitar Minggu dini hari pasien dipindahkan di ruang rawat inap anak Bona 2 RSUD Dr. Soetomo tanpa harus membayar satu sen pun ke kasir IRD. Ketika pasien masih dirawat di IRD kakak-kakak ORCIKS yang lain datang untuk berkunjung dan BELAJAR bagaimana mengakses pengobatan bagi masyarakat miskin/terlantar yang dijamin oleh Negara. Ada Kak Eko, Kak Indra, Kak Nay, Kak Intan, Kak Yulia, Kak Hita, dan Kak Yunita. Dari Drug Free Community ada saya dan Danu Marmansyah, selain Fasilitator di DFC Danu adalah salah satu Penasihat di ORCIKS. Tahap Ketiga pasien meninggalkan IRD dan masuk ruang rawat inap masih tanpa biaya dan tanpa jaminan.

dari kiri ke kanan... Mas Danu Marmansyah Fasilitato DFC dan Penasihat ORCIKS, MIla Machmudah Leader DFC, dan Kak Fajar pendamping dari ORCIKS...

dari kiri ke kanan… Mas Danu Marmansyah Fasilitato DFC dan Penasihat ORCIKS, MIla Machmudah Leader DFC, dan Kak Fajar pendamping dari ORCIKS…

Pagi hari Kak Fajar yang masih setia mendampingi pasien dan keluarga diberi resep obat untuk ditebus di apotik Rumah Sakit. Datanglah Kak Fajar ke apotik, sampai disana Kak Fajar menyerahkan resep dan bicara ke petugas apotik bahwa pasien adalah warga miskin/terlantar dampingan LSM. Kali ini Kak Fajar gagal menebus obat, bukan karena harus bayar tetapi Kak Fajar tidak memiliki ID Card LSM. Segera Kak Fajar menghubungi Cak Di relawan kami DFC yang memang siaga di UPIPI 24 Jam. Empat relawan kesehatan kami memang dilengkapi ID Card dan Surat Tugas terkait dengan program kerja kami ADVOKASI Kesehatan di RSUD Dr. Soetomo. Segera Cak Di meluncur ke apotik anak yang kebetulan jaraknya cukup dekat dengan UPIPI. Tahap Keempat menebus obat saat pasien sudah di ruang rawat inap dapat diselesaikan tanpa biaya tanpa jaminan tetapi harus dengan menunjukan ID Card.

Cak Di... Relawan Kesehatan DFC

Cak Di… Relawan Kesehatan DFC

Bagaimana dengan kakak-kakak ORCIKS yang lain???? Setelah proses belajar singkat di IRD, ada pembagian tugas di antara mereka. Sebagian besok Hari Senin akan mengurus Surat Keterangan Terlantar untuk mendapatkan Jaminan Sosial Kesehatan, dimulai dari Kelurahan setempat adik Isma tinggal yaitu Kelurahan Ketabang Kali untuk mendapatkan Surat Keterangan bahwa pasien benar berdomisili terakhir di sekitar daerah Ketabang Kali/Simpang Dukuh. Selanjutnya Surat Keterangan tersebut akan dibawa ke Dinas Sosial Kota Surabaya untuk mendapatkan Surat Keterangan Terlantar yang dipergunakan untuk pembebasan biaya Rumah Sakit. Setelah mendapatkan Surat Keterangan terlantar dari Dinas Sosial Kota Surabaya maka surat akan dibawa ke pengendali ASKES/BPJS.

Bagaimana kisah kakak-kakak ORCIKS yang indah hatinya mengurus surat-surat tersebut akan kami ceritakan berikutnya….

ORCIKS - Semen Gresik ORCIKS Berkreasi dengan Barang Bekas ORCIK Romadhon 2013

Endang… Profil Penderita AIDS Tahan Banting…

“diguyang banyu ga teles… diobong geni ga kobong”

Endang, panggilan perempuan dengan nama lengkap Endang Rinitorini, lahir di Surabaya tahun 1968. Janda ditinggal mati dengan 3 anak  (satu juga sudah meninggal) dan satu cucu yatim piatu.

Di umur 20 tahunan menikah dengan laki-laki dari Menado tanpa restu keluarga suaminya. Dalam pernikahan ini dikaruniai 3 (tiga) orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Ketika anak-anak masih kecil sang suami kembali ke Menado dan tanpa kabar. Singkat cerita dia berangkat ke Menado untuk mencari suaminya, sampai disana ternyata sang suami sudah dinikahkan kembali oleh keluarganya dengan perempuan lain. Dalam kondisi kecewa dan kelaparan di kampung orang, dia terjebak dalam lingkaran seks komersial (prostitusi) dan narkoba untuk mempertahankan hidup. Dari kisah hidup inilah Endang tertular virus HIV.

Seperti penderita-penderita HIV lainnya, saat pertama mengetahui dirinya positif HIV maka dunia terasa seperti kiamat, takut dan sedih menghempaskannya dalam rasa putus asa. Dia merasa jijik dengan tubuhnya, dia takut anak-anaknya tertular virus bila berdekatan dengan dia. Suami kedua nya memberikan semangat untuk terus bertahan karena hidup mati bukan ditentukan oleh virus tetapi oleh takdir. Saat dia sudah mulai semangat, suaminya meninggal kecelakaan dihantam truk, tidak berselang lama putrinya meninggal dunia setelah melahirkan anak laki-laki. Suami putrinya beserta keluarganya ingin merebut anak yang baru dilahirkan. Dalam kondisi tersebut Endang beserta dua anak dan satu cucu kembali ke Surabaya dalam kondisi yang memprihatinkan.

Kembali di Surabaya, Endang dan anak cucunya tinggal di rumah sempit di perkampungan padat penduduk daerah Dinoyo, Tegalsari, Surabaya. Perempuan tangguh ini dengan cara dan bahasanya yang sederhana dan semangat meledak-ledak mampu meyakinkan orang-orang di sekitarnya untuk bisa menerima dia dengan satus penderita HIV, dia sangat terbuka untuk mengatakan bahwa dirinya adalah ODHA. Dinoyo bisa jadi merupakan satu-satunya kampung yang secara terbuka menerima kehadiran penderita HIV di tengah-tengah mereka tanpa stigma dan atau pun diskriminasi. Endang, perempuan yang cuma lulus SMP mampu meyakinkan masyarakat di sekitarnya bahwa virus HIV tidak menular hanya karena hidup bersama.

Perempuan yang hobby karaoke dan memang suaranya mantab ini memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya berbagi pengetahuan dan semangat untuk penderita baru HIV dan AIDS di RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebagai Relawan Kesehatan. Mendampingi pasien-pasien baru menjelaskan bagaimana mengkonsumsi obat/ARV dengan baik dan benar, memberikan dorongan semangat agar tidak dikalahkan oleh virus yang menggerogoti kekebalan tubuh. Bersama relawan-relawan DFC yang lain saling bersinergi membantu bagaimana mengakses layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

endang Rinitorini

Endang atau Rini atau Sude panggilan akrabnya adalah perempuan tangguh yang berani melepaskan masa lalu kelamnya dan sangat mendukung penutupan lokalisasi karena buat dia rejeki akan datang dari manapun dan harta yang diperoleh dari hasil haram tidak akan membawa berkah. Meski miskin dia yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan dia dan anak cucunya kelaparan dan atau menderita bila dia semangat untuk bekerja secara halal dan ikhlas berbagi dengan sesamanya yang membutuhkan. Cita-citanya untuk menghabiskan masa tuanya cukup sederhana yaitu memiliki warung kopi, dimana dia bisa menghabiskan waktu dengan menjadi konselor tanpa ijasah, dia ingin berbagi semangat bagaimana dia bisa keluar dari ketergantungan pada narkoba, bagaimana dia berjuang untuk tetap sehat meski virus ada dalam tubuhnya, dia juga ingin berbagi informasi bagaimana hidup bersama penderita HIV.

Meminjam istilah yang sering dia sampaikan ke banyak orang tentang dirinya… diguyang banyu ga teles… diobong geni ga kobong…. (diguyur air tidak basah… dibakar api tidak terbakar)… perempuan tangguh yang kami miliki…

duduk sebelah kiri bersama Srikandi GRANAT Indonesia

duduk sebelah kiri bersama Srikandi GRANAT Indonesia

menggunakan topi dan selendang ungu saat peringatan HAS 2012

menggunakan topi dan selendang ungu saat peringatan HAS 2012

Kaos Merah saat pertemuan dengan dampingan dan Yayasan Hotline

Kaos Merah saat pertemuan dengan dampingan dan Yayasan Hotline

Endang menemani Dika (alm) saat baru saja ibunya meninggal, 3 minggu kemudian Dika meninggal...

Endang menemani Dika (alm) saat baru saja ibunya meninggal, 3 minggu kemudian Dika meninggal…

Untuk bisa berbincang-bincang, konsultasi, curhat, bahkan pendampingan pengobatan bisa langsung menghubungi nomor HP mbak Endang berikut ini;

0812 3147 5169  -  0857 4668 9843

ALDA untuk ADHA… Rekening Peduli Anak dengan HIV & AIDS…

ALDA  QQ  ENDANG RINITORINI

No. Rekening 0756018086

Bank Jatim Capem Darmo

 

Buku rekening 29 ADHA dampingan DFC...

Buku rekening 29 ADHA dampingan DFC…

Apakah kami disebut MENGEMIS bila kami HARUS membuka rekening untuk anak-anak yang termarginalkan karena terpapar dan atau terinfeksi HIV????

Apakah kami HARUS sendiri memikirkan nasib mereka, sedangkan sebagian relawan kami juga adalah perempuan-perempuan yang juga terinfeksi dan miskin…

Kami terlalu lemah untuk bekerja sendiri, kami butuh kepedulian anda atas dasar cinta dan kasih….

Sejak 2007 DFC berdiri hingga saat ini mampu untuk mandiri di dalam operasional kegiatannya, tetapi saat ini di saat DFC memutuskan untuk mendampingi anak-anak dengan HIV & AIDS yang termarginalkan terasa berat untuk tetap bertahan mandiri tanpa bantuan dana dari pihak lain. Anak-anak dampingan butuh bantuan lebih dari sekedar biaya operasional kami, mereka butuh tambahan nutrisi, mereka butuh biaya terapi kesehatan rutin, mereka butuh bantuan biaya pendidikan, dan mereka juga butuh rekreasi. ADHA dampingan DFC adalah anak-anak yang lahir terinfeksi dari orang tuanya, sebagian besar dari mereka sudah tidak memiliki orang tua, dan mereka ada dalam lingkungan keluarga miskin. Berharap pengalaman seorang Dika, ADHA umur 5 tahun yang dicampakkan oleh keluarganya meninggal karena TB dan busung lapar tidak terulang untuk ADHA-ADHA yang lain, ADHA berhak untuk tumbuh sehat dan pintar.

ALDA untuk ADHA… Rekening Peduli Anak dengan HIV dan AIDS…

ALDA adalah nama dari bayi cantik suspect HIV dari orang tuanya, yang ditinggal di panti asuhan dan diserahkan kepada kami. Nama ALDA selanjutnya kami gunakan untuk menjadi simbol nama-nama anak-anak suci yang kurang beruntung karena terlahir dengan virus dan atau sakit kronis, khususnya anak-anak dengan HIV dan AIDS dampingan kami.

Endang Rinitorini adalah salah satu relawan kesehatan DFC untuk pendampingan pasien-pasien miskin dan terlantar di RSUD Dr. Soetomo, khususnya penderita HIV dan AIDS. Endang Rinitorini umur 46 tahun  adalah perempuan positif HIV yang sudah ditinggal mati suaminya dengan tanggungan dua anak dan satu cucu yang yatim piatu. Perempuan tangguh yang tidak menyerah kalah pada HIV, berjuang untuk hidupnya dan anak cucunya. Perempuan yang ingin menghabiskan waktunya untuk membantu sesama penderita HIV menjalani hidup dengan semangat dan ceria.

Bila kami HARUS MENGEMIS untuk mereka, ijinkan kami mengetuk hati para sahabat Drug Free Community untuk berkenan berbagi sedikit rejeki buat mereka, Insya Allah seluruh aktifitas dana bantuan yang kami terima akan kami laporkan secara terbuka.

HAK Anak Lahir Tanpa HIV…

Tepat 1 Januari 2014, membuka lembar Tahun baru dengan berita duka. Sebut saja Angel, ADHA (Anak dengan HIV & AIDS) Balita umur 2 tahun meninggal dunia, satu dari 29 ADHA dampingan DFC yang baru saja mendapatkan bantuan dana biaya pendidikan/kesehatan dari Kementrian Sosial Desember 2014. Belum sempat dana dalam rekening tabungan dicairkan untuk membeli susu, ternyata takdir berkehendak lain. Kematian mungkin adalah yang terbaik buat dia, sejak lahir harus bergelut melawan HIV di tubuh mungilnya, terlebih virus sudah menyerang ke dalam saraf yang  menyebabkan lumpuh dan buta.

Angel, ADHA Balita bukan satu-satunya bayi yang terinfeksi HIV, berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sampai dengan 31 Oktober 2013 (update terakhir 26 Desember 2013) ada 1.279 kasus penularan HIV dari transmisi kelahiran. Berikut berdasarkan golongan umur tercatat jumlah anak dengan AIDS adalah :

Gol Umur

AIDS

<1

185

1 – 4

824

5 – 14

362

Total

1.371

Kelahiran bayi-bayi terinfeksi HIV ini banyak tidak disadari orang tuanya, banyak kasus justru orang tua baru diketahui positif HIV setelah anaknya sakit atau meninggal karena terinfeksi HIV. Tujuan seseorang memiliki anak seringkali hanya sebagai romantisme sepasang suami istri yang merasa belum lengkap tanpa kehadiran anak, sehingga kelahiran anak bukan lagi menjadi HAK Anak tetapi lebih menjadi HAK suami istri atau HAK ayah ibu.

Bila kita menempatkan kelahiran sebagai HAK Anak maka sudah sepantasnya kita merencanakan dan mempersiapkan kelahiran bayi baru dengan baik. HAK seorang anak dilahirkan dengan kondisi SEHAT, maka sudah sepantasnya orang tua TIDAK menularkan HIV kepada bayi-bayinya. Saat ini sudah ada program pencegahan penularan HIV dari transmisi kelahiran yaitu Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT). Bagi orang tua yang positif HIV disarankan untuk tidak memiliki bayi karena ada resiko tinggi bayi akan terlantar bila kehilangan orang tuanya lebih cepat. Dalam program PMTCT ini juga melarang ibu memberikan ASI, sedangkan kita semua tahu bahwa ASI adalah yang terbaik untuk seorang bayi. Bayi tanpa ASI sesungguhnya juga mengurangi HAK Anak untuk tumbuh sehat dan cerdas.

Memiliki anak oleh sebagian orang dianggap HAK, maka siapapun orang termasuk orang-orang terinfeksi HIV berhak memiliki anak. Selain HAK maka ada KEWAJIBAN yang menyertai, begitu pula dengan orang-orang yang terinfeksi HIV ingin memiliki anak maka dia wajib;

  1. Mengikuti program PMTCT demi mencegah penularan virus melalui transmisi kehamilan dan kelahiran
  2. Mempersiapkan susu formula dan nutrisi tambahan untuk mengganti ASI yang terlarang untuk diberikan pada bayi

Bagaimana kita bisa mencegah agar tidak ada bayi-bayi baru yang dilahirkan dengan disertai virus HIV????

  1. Bila kita adalah orang-orang yang berperilaku resiko tinggi tertular HIV maka sebaiknya kita segera melakukan tes HIV. Perilaku-perilaku beresiko tinggi adalah seks bebas dan narkoba jarum suntik. Meskipun kita hanya satu kali saja melakukan hubungan seks dan atau pun menggunakan jarum suntik tidak steril maka kita sudah masuk orang-orang beresiko karena kita tidak akan pernah tahu bahwa pasangan seks atau partner jarum suntik kita positif HIV atau tidak.
  2. Bila kita akan menikah sudah sepantasnya kita juga memiliki HAK untuk meminta pasangan kita secara bersama-sama melakukan tes HIV, memiliki pasangan yang sehat adalah HAK setiap orang.
  3. Bila kita telah melakukan tes HIV dan ternyata positif maka sudah sepantasnya kita WAJIB tidak menularkan kepada siapapun, baik kepada pasangan hidup kita dan atau pun kepada anak yang ingin kita miliki.

Tahukah anda bahwa kasus HIV yang terdeteksi sampai bulan Oktober 2013 tercatat 118.792 kasus HIV dan 45.650 kasus AIDS, total semuanya adalah 164.442 orang.  Bagaikan gunung es yang muncul di atas hanyalah sebagian kecil saja. Dari 45.650 kasus AIDS penularan tertinggi adalah dari aktifitas seksual, dari faktor resiko heteroseksual mencapai 27.782 kasus dan homo – biseksual 1.134 kasus. Penggunaan jarum suntik juga merupakan faktor resiko tinggi penularan HIV mencapai 7.962 kasus.

Faktor Resiko

AIDS

Heteroseksual

27.782

Homo – Biseksual

1.134

Jarum suntik narkoba

7.962

Transfusi darah

92

Transmisi perinatal

1.279

Tidak diketahui

7.147

Tahukah anda bahwa penderita AIDS dari kalangan anak muda cukup tinggi, ada 17.188 kasus AIDS dengan kisaran usia 15-29 tahun. Ini baru kasus AIDS yang terdeteksi bagaimana dengan kasus yang masih stadium HIV, bagaimana dengan yang belum/tidak terdeteksi. Wajah cantik dan tampan bukan jaminan dia bebas HIV bila perilaku mereka beresiko tertular HIV. Sudah saatnya kita SADAR DIRI segera PERIKSAKAN DIRI kita bebas dari virus HIV. Sudah saatnya kita juga tahu status pasangan kita karena kita punya HAK untuk tidak tertular. Mengetahui sejak dini kondisi kita akan membantu untuk terapi pengobatan agar kualitas kesehatan tetap terjaga. Tes HIV sebelum NIKAH bukan dalam konteks STIGMA atau DISKRIMINASI tetapi setiap orang memiliki kewajiban untuk mencegah lahirnya bayi-bayi baru agar tidak terinfeksi.

Sudah saatnya kita dan pasangan kita untuk tes HIV !!!

atau biasa disebut VCT (Voluntary Counseling Testing)….

Rumah Sakit/Puskesmas di Surabaya yang melayani VCT :

No.

Rumah Sakit/Puskesmas Alamat No. Telepon

1.

RSUD Dr. Soetomo Jl. Prof. Dr. Moestopo No. 6-8 031 5014077/5501011

2.

RSAL Dr. Ramelan Jl. Gadung No. 1 /Jl. A-Yani No. 1 031 8438153/8438453

3.

RSUD Menur Jl. Menur No. 120 031 5022436

3.

RS Bhayangkara Jl. A –Yani No. 116 031 8296602

4.

RSUD Dr. Soewandhi Jl. Tambakrejo No. 45-47 031 3717141

5.

Puskesmas Perak Timur Jl. Jakarta No. 9 031 3524247

6.

RS Karang Tembok Jl. Karang Tembok No. 39 031 3713836

7.

Kantor Kesehatan Pelabuhan Jl. Perak Timur No. 514-516 031 3293901

8.

Puskesmas Putat Jaya Jl. Kupang Gunung Barat VI/25 031 3524247

9.

Puskesmas Sememi Jl. Raya Kendung Sememi 031 7413631

Penulis Mila Machmudah