Arsip

Peringatan HANI 2012

Tim Baksos Pelayanan Kesehatan DFC dan YBSI

Tim Baksos Pelayanan Kesehatan DFC dan YBSI

 

Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) setiap tanggal 26 Juni, Drug Free Community (DFC) bekerjasama dengan Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku (YBSI) menyelenggarakan kegiatan Bakti Kesehatan dan Sosialisasi Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Bakti Kesehatan berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis dilaksanakan pada Hari Minggu, tanggal 1 Juli 2012, di wilayah RT 01, 02, dan 05 – RW 02, Jalan Kupang Segunting, Kelurahan Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari. Bakti Kesehatan sebagai program rutin YBSI dalam event peringatan HANI ini lebih ditekankan untuk sosialisasi bagaimana seharusnya mengkonsumsi obat dengan benar, tidak disalahgunakan. Pada dasarnya obat adalah untuk membantu mengurangi dan mengobati gejala-gejala sakit, tetapi juga berefek ganda dapat menyebabkan ketergantungan.

Lokasi bakti kesehatan ini adalah perkampungan yang dulunya dikenal sebagai salah satu sarangnya penyalahgunaan narkoba, seperti disampaikan salah satu tokoh pemudanya Priyo Prasojo, yang juga dulu adalah mantan pecandu sekaligus pengedar. Dulu banyak pemuda kampung yang terlibat penyalahgunaan bahkan sebagian juga terlibat peredaran gelap narkoba, dengan pendekatan spiritual dan aktifitas di Karang Taruna secara perlahan banyak yang sudah terlepas dari ketergantungan. Keberhasilan mengentaskan para pemuda dari ketergantungan narkoba secara mandiri menjadi pertimbangan bagi YBSI dan DFC untuk melakukan penjajagan kerjasama berkelanjutan saling belajar dan berbagi pengalaman dalam rangka mendukung program pemerintah P4GN, Program Penanggulangan penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba.

Acara peringatan HANI untuk tahun 2012 ini juga diselenggarakan acara Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Eropa, bertempat di Sekretariat Jalan Raya Darmo 8A Surabaya. Pada acara nobar ini dibagikan juga pembatas buku yang berisi daftar Institusi Penerima Wajib Lapor bagi pecandu, diharapkan masyarakat dapat melaporkan anggota keluarganya yang menjadi pecandu untuk bisa segera dibantu mendapatkan rehabilitasi. Disampaikan oleh Mila M. Djamhari selaku Leader DFC bahwa masih perlu banyak sosialisasi ke masyarakat perihal akses untuk mendapatkan rehabilitasi, yang paling utama adalah menyadarkan kepada pecandu dan keluarga bahwa Sehat itu adalah Hak dan Kewajiban pecandu.

Virly Mavitasari dari YBSI menjelaskan bahwa YBSI sebagai lembaga yang konsen di bidang kesehatan sangat peduli dan mendukung setiap kegiatan yang terkait masalah penanggulangan bahaya narkoba, terutama yang terkait dengan masalah masa depan generasi bangsa. Acara Peringatan HANI adalah kerjasama rutin tahunan dengan DFC dan didukung MPM Motor sudah terselenggara sejak tahun 2004. Tahun ini mengambil tema Selamatkan Anak Bangsa dari Bahaya Penyalahgunaan Narkotika.

Pemeriksaan tekanan darah dari para relawan Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya

Pemeriksaan tekanan darah dari para relawan Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya

Masyarakat yang sabar menunggu pelayanan kesehatan

Masyarakat yang sabar menunggu pelayanan kesehatan

 

Sosialisasi IPWL versi Nobar

Sosialisasi IPWL versi Nobar

 

Nobar Piala Eropa di Sekretariat Bersama Drug Free Community - Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku - AfterCare Mahameru

Nobar Piala Eropa di Sekretariat Bersama Drug Free Community – Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku – AfterCare Mahameru

 

Pembatas buku media sosialisasi IPWL dan VCT di Suabaya

Pembatas buku media sosialisasi IPWL dan VCT di Suabaya

 

 

 

 

Siapa Takut Bikin Rehabilitasi Versi “Sakkareppe Dewe” (Antropologi)

Masih ingat bagaimana saat aku diterima sebagai Sekretaris Eksekutif DPC GRANAT (Juni 2001) sama sekali nol pengetahuan tentang narkoba apalagi tentang terapi ketergantungan narkoba… sebagai SE mestinya aku cuma bertanggungjawab pada operasional sekretariat, yang saat ini menjadi sekretariat DFC. Dengan latar belakang pekerjaan sebelumnya di bidang community development dan didukung latar belakang “skol” antropologi ditambah lagi aktifitas aku di berbagai organisasi sosial dan politik, sekedar menjadi SE bukanlah sebuah pilihan yang baik. Dewan Pimpinan Cabang Kota Surabaya dan Dewan Pimpinan Daerah Jawa Timur GRANAT memberi kesempatan banyak buat aku mengaktualisasi diri di GRANAT.

Langkah pertama untuk belajar tentang narkoba adalah dari para sahabat aku, yang ternyata selama ini mereka adalah pecandu. Selama ini aku memang tidak pernah mengerti terlalu banyak kehidupan mereka. Langkah kedua, belajar dari internet yang saat itu belum cukup banyak memberikan informasi tentang narkoba. Langkah ketiga, duduk mendengarkan kuliah private dari para pengurus GRANAT baik tingkat Surabaya maupun tingkat Jawa Timur. Semua tentang narkoba mulai dari aspek medis, sosial, hukum, dan rehabilitasi dituangkan ke dalam otak aku… Apakah hanya cukup dengan mendengarkan mereka???? jawabnya pasti adalah TIDAK.

Pooling-pooling saat sosialisasi bahaya narkoba aku lakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan pengetahuan dan kasus narkoba. Focus Group Disscusion di kalngan pecandu adalah ilmu yang berharga. Kontrol hukum di Kepolisian, Kejaksaaan, dan PN adalah santapan wajib, sampai kajian kasus proses peradilan narkoba di lingkungan Kota Surabaya berdasarakan data kualitatif mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, dan PN. Investigasi laporan dari masyarakat tentang peredaran gelap narkoba sampai ikut dalam tim razia narkoba di diskotik adalah ilmu tersendiri buat aku.

Tentang Rehabilitasi, DPD GRANAT Jatim pernah memilikinya. Drop In Center Yayasan Insan Pengasih Indonesia, Inabah Suralaya, dan Wahana Kinasih sangat terbuka untuk aku belajar pada mereka. Kajian tentang rehabilitasi di Surabaya pun pernah aku lakukan. Apakah cukup puas sampai disini???? jawabnya pasti TIDAK. Mengakomodasi pecandu-pecandu yang ingin berhenti dan menjadi relawan GRANAT adalah laboratorium hidup tentang dunia pecandu dari dekat. Hidup sehari-hari bersama mereka dengan segala tipu daya dan manipulasi mereka menjadi pemahaman baru tentang “kecerdasan” mereka. Sebagian besar dari mereka berusia remaja/muda. Segala daya dan upaya untuk menghentikan mereka dari kecanduan dengan pemahaman yang terbatas aku miliki maksimal aku lakukan.

Ilmu tidak pernah gratis, semua butuh proses dan biaya. Kehilangan barang-barang kantor karena dicuri pecandu adalah sebuah nilai yang harus ditebus, selain waktu, tenaga, dan pikiran aku untuk pendampingan sekaligus observasi mereka. Aku tidak ingin berbangga apalagi untuk sombong bahwa dengan kerjasama yang cukup manis di seluruh jajaran Pengurus dan Relawan GRANAT, kami “berhasil” menghentikan kecanduan sebagian dari mereka. Saat ini mereka cukup mandiri tanpa bantuan dana dan pelatihan dari lembaga manapun selain dari GRANAT pada saat mereka menjadi bagian dari GRANAT. Ada yang jadi broker, ada yang jadi tukang service komputer, dan ada yang jadi manager marketing salah satu property, bahkan saat ini mereka masih saling mendukung sesamanya dengan membentuk kelompok usaha bersama. Menjadikan mereka berhenti dan memotivasi mereka untuk berdaya adalah hal terindah yang aku dapatkan dari sekian tahun di dunia penanggulangan narkoba. Apakah itu sudah cukup???? Manusia yang berpikir dan selalu ditambah ilmunya tiap hari, akan menjadi zalim bila hanya puas berbuat sampai disini.

House of Rangga... KUBE alumni relawan DPC GRANAT Surabaya

House of Rangga… KUBE alumni relawan DPC GRANAT Surabaya

Aku sadar bahwa dulu banyak dari “klien” aku adalah anak muda maka pencarian ilmu tentang ketergantungan narkoba di kalangan orang dewasa menjadi sebuah target berikutnya. Pemahaman tentang pecandu di kalangan dewasa banyak belajar di lingkungan para sahabat aku tetapi itu belum cukup. Tidak lagi beraktifitas di GRANAT Kota Surabaya tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar dan belajar tentang narkoba dan terapi ketergantungan narkoba. Bersama bendera DFC ada kesempatan kembali untuk melakukan kajian dan pengembangan tentang terapi ketergantungan narkoba. Bila magang di lembaga rehabilitasi resmi milik pemerintah ditolak mentah-mentah, apakah harus berhenti untuk berbuat, jawabnya adalah tidak.

After Care Irba Pitoe/Mahameru menjadi sebuah kawah candradimuka pemahaman pragmatis aku tentang dunia pecandu dikalangan usia dewasa. Banyak terjadi perdebatan antara aku yang non pecandu dengan kalangan pecandu tentang masalah adiksi. Tanpa mengurangi hormat dan menghargai perspektif mereka, aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Dengan latar belakang antropologi (ilmu tentang manusia/nilai) dan community development mempengaruhi perspektif aku memahami tentang masalah adiksi.

Mantan Pecandu (House of Rangga - After Care Mahameru Jatim) mengerjakan pemesanan papan nama

Mantan Pecandu (House of Rangga – After Care Mahameru Jatim) mengerjakan pemesanan papan nama

Terima rental, percetakan, sampai service komputer dan elektronik. Keterbatasan modal bukan berarti alasan untuk berhenti berdaya

Terima rental, percetakan, sampai service komputer dan elektronik. Keterbatasan modal bukan berarti alasan untuk berhenti berdaya

Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tentang terapi dan rehabilitasi ketergantungan narkoba, tanpa mengurangi tanggungjawab aku sebagai Leader DFC. Apa yang aku lakukan masih dalam garis organisasi, yang aku yakin akan didukung oleh tim DFC. Siapa takut bikin terapi dan rehabilitasi ketergantungan narkoba versi aku, versi “sakkareppe dewe” alias versi antropologi (orientasi Nilai). TR Holistik… Kajian dan pengembangan terapi berbasis antropologi.

Catatan :

Terapi ini adalah terapi alternatif dan tidak rawat inap, kecuali saat proses detoksifikasi (kurang dari satu bulan).

Hormat aku untuk Guru-guruku di bidang Narkoba dan Comdev :

1. Alm. Bapak Sony (Care Internasional)

2. Alm. Bapak Eddy Pirih (Ketua DPD GRANAT Jatim)

3. Alm. Bapak Slamet, SH. (Mantan Jaksa, Dosen Pasca Sarjana Hukum UNAIR, dan DPD GRANAT Jatim)

4. Bapak Sonny Wibisono (Mantan Ketua DPC GRANAT Surabaya)

5. Bapak dr. Eddy Sofyan Herman (dokkes Polrestabes Surabaya dan DPD GRANAT Jatim)

6. Bapak Singky Suwadji (Mantan Sekretaris DPD GRANAT Jatim)

7. Bapak Henry Yosodiningrat, SH. (Ketua DPP GRANAT)

8. Sdr. Ibrahim (mantan Staf DIC YIPI)

9. Sahabatku (Legowo, Arman, Totok, dan Fadjar)

10. Seluruh Relawan GRANAT termasuk di dalamnya yang mantan pecandu

11. Seluruh Relawan DFC (kalian juga guru buat aku)

12. Sahabat sekaligus mitra kerjaku (Made dan Rollys)

13. Bapak dr. Rahmat Hargono (Guru Pertamaku tentang AIDS)

14. Bapak Dede Oetomo M.Pd. (Guruku tentang NILAI dan HEGEMONI)

15. Bapak dr. Hisnisdarsyah (guru sekaligus mitra kerja)

Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Rekomendasi dan Rancangan Program CBT

Rekomendasi dan Rancangan  Program CBT di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi

Pelaksana Harian Badan Narkotika Propinsi Jawa Timur

2010

Dari temuan data hasil kajian cepat dapat dipetakan permasalahan narkoba di Kecamatan Genteng yang harus menjadi skala prioritas untuk segera ditangani;

  1. Penyalahgunaan obat batuk dextro di kalangan pelajar di Kecamatan Genteng
  2. Penyalahgunaan prosedur pengkonsumsian subutex sebagai terapi subtitusi
  3. Kurang pedulinya pencandu yang teridentifikasi positif HIV untuk melakukan kontrol kesehatan
  4. Kebutuhan terapi dan rehabilitasi
  5. Tidak optimalnya program P4GN di Kabupaten Banyuwangi karena tidak adanya alokasi anggaran khusus.

Penyalahgunaan dextro di kalangan pelajar di Kecamatan Genteng cukup marak bahkan sudah mulai terjadi pemaksaan antar pelajar. PKJM-KKO mengungkapkan bahwa 2 (dua) tahun terakhir ini pasien gangguan jiwa karena bahan adiksi banyak didominasi dari panyalahguna dextro kurang lebih jangka pemakaian dua tahun, sebagian besar mereka dari Kecamatan Muncar. Kalau dibiarkan maka kondisi serupa akan dialami oleh pelajar dari Kecamatan Genteng. Parahnya lagi adalah akan muncul pecandu-pecandu baru di mulai dengan penyalahgunaan dextro, yang dijual bebas di apotik dan toko obat.

Subutex sebagai terapi subtitusi dalam rangka mengurangi dan atau mencegah penularan HIV sebagai dampak dari penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik, yang seharusnya dioral di bawah pengawasan dokter terlatih ternyata disalahgunakan dengan tetap disuntik. Hal ini akan menyebabkan penggumpalan dan pecah pembuluh darah, benjolan pada kelenjar getah bening, dan kematian akibat OD dan atau intoksikasi.

Jumlah pecandu narkoba positif HIV di Kabupaten Banyuwangi ada 104 orang, yang tidak teridentifikasi jauh lebih besar. Sedikitnya jumlah pecandu putaw dan sabu di Kecamatan Genteng 140 orang, mereka sangat beresiko tertular HIV dikarenakan modus penyalahgunaan putaw dan sabu adalah menggunakan jarum suntik. Pada saat observasi lapangan setidaknya kami menemukan lebih dari 10 pecandu positif HIV, bahkan dua diantaranya dalam kondisi kritis dan jarak dua minggu saat laporan ini ditulis kami mendapatkan informasi keduanya sudah meninggal. Disampaikan dari Klinik/Poli VCT RSUD Genteng bahwa ODHA dari kalangan pecandu adalah kelompok yang jarang melakukan control kesehatan.

Terapi dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba di Kecamatan Genteng sudah menjadi kebutuhan baik bagi pecandu, keluarga, dan atau masyarakat. Pecandu pada dasarnya juga sudah lelah secara fisik dan ekonomi mereka ingin berhenti, meskipun sebagian dari mereka lebih memilih terapi subutex atau metadon karena tidak tahan sakit saat pemutusan obat. Orang tua dan atau keluarga juga lelah dan trauma dengan kondisi anggota keluarganya yang kecanduan. Masyarakat juga semakin ketakutan bila itu akan menimpa anak atau saudara mereka.

Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di Kabupaten Banyuwangi tidak optimal karena tidak ada alokasi anggaran yang menyertai pembentukan Badan Narkotika Kabupaten. Program P4GN masuk di masing-masing kedinasan, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Dinas Sosial. Sedangkan BNK sendiri di dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan mengalami kesulitan dalam mengakses anggaran. Hasil FGD di kalangan Stakeholder Kabupaten tidak dapat menjanjikan program-program penanggulangan narkoba di luar rutinitas yang sudah dilakukan karena terkait dengan kebijakan secara keseluruhan Pemerintah Daerah Banyuwangi sendiri, terlebih baru berlangsung suksesi Kepala Daerah atau Bupati.

5.1. REKOMENDASI

Dari identifikasi permasalahan di atas maka rekomendasi kami sebagai berikut;

  1. Penyelenggaraan Terapi dan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat atau Community Based Therapy (CBT) secara komperhensip dan holistik di Kecamatan Genteng.
  2. Advokasi kebijakan perencanaan program pembangunan daerah Kabupaten Banyuwangi yang berpihak pada program P4GN.

Penyelenggaraan program CBT sudah menjadi kebutuhan yang mendesak memperhatikan perkembangan kasus narkoba yang terjadi di Kecamatan Genteng. Program CBT sendiri bukan hanya semata untuk pemulihan pecandu aktif tetapi juga untuk pemberdayaan pasca pemulihan pecandu dan keluarga,  penguatan ketahanan keluarga dan atau masyarakat, penguatan ketahanan sekolah, dan pengembangan jejaring kerja sama untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Masalah narkoba bukan masalah sederhana yang hanya bisa diselesaikan oleh masyarakat sendiri, masalah narkoba adalah masalah besar yang melibatkan berbagai aspek, mulai aspek medis, sosial budaya, ekonomi, keamanan, dan hukum. Penyelenggaraan CBT perlu dukungan dari berbagai pihak terutama stakeholder Kecamatan dan Kabupaten. Diharapkan ada upaya-upaya yang mendorong adanya kebijakan dalam penyusunan perencanaan program pembangunan daerah yang memasukkan program P4GN di dalam renstradanya. Penguatan BNK meliputi penguatan kelembagaan, penguatan SDM, dan penguatan anggaran merupakan bagian dari kebijakan yang akan mendukung keberhasilan program CBT. Permasalahan narkoba dan penanggulanggannya diharapkan satu pintu dengan mengintegrasi dan atau mensinergikan seluruh dinas dan lembaga terkait dalam Master Schedule P4GN Kabupaten Banyuwangi.

5.2. RANCANGAN PROGRAM CBT

Rancangan Program Terapi dan Rehabilitasi Berbasis Komunitas atau Community Based Therapy (CBT) dilakukan secara komperhensip dan holistic dimana keterlibatan masyarakat menjadi penentu keberhasilan dari program CBT ini. Pemerintah dalam hal ini Badan Narkotika Nasional (BNN) beserta jajarannya BNNP/BNK dan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi adalah fasilitator atau mediator yang memfasilitasi upaya-upaya yang diselenggarakan dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan oleh masyarakat. Sebagai awal sebuah program CBT diharapkan BNN dan atau Pemda memfasilitasi bukan saja penguatan SDM (Capacity Building) pelaksana CBT di Kecamatan Genteng dengan pelatihan-pelatihan yang menunjang pelaksanaan CBT, misal pelatihan konselor, pengorganisasian, penjangkauan, hingga advokasi hukum, tetapi juga memberikan dukungan pembiayaan sebagai stimulan. Berikut ini adalah tabel dari Rancangan Pengembangan Program community Based Therapy (CBT);

Rancangan program pengembangan CBT ini secara sederhana dibagi dalam 6 (enam) aspek secara bertahap dan juga simultan, yaitu; Workshop CBT, Pemulihan Pecandu, After Care, Penguatan Ketahanan Keluarga dan Masyarakat, Penguatan Ketahanan Sekolah, dan Networking. Workshop CBT bertujuan untuk membangun kesepahaman dan komitmen kepedulian dimana output nya adalah terbentuk Relawan CBT, yang akan menjadi tulang punggung pelaksanaan CBT di Kecamatan Genteng. Relawan CBT ini adalah masyarakat Kecamatan Genteng sendiri yang memiliki kepedulian terhadap pelaksanaan program CBT. Setelah terbentuk relawan maka dilakukan penguatan kapasitas relawan di dalam penanganan masalah CBT dengan pembekalan/pelatihan tentang pengorganisasian, konseling, penjangkauan, dan advokasi hukum. Workshop ini juga bertujuan untuk menyusun Master Plan Strategi dan Rencana Kerja CBT.

Tahap berikutnya adalah Pemulihan Pecandu dan After Care pasca pemulihan, tahapan ini bertujuan untuk memutus ketergantungan narkoba (rehabilitasi medis), pemulihan psikis dan sosial, dan dilanjutkan pemberdayaan sosial ekonomi. Rehabilitasi medis atau detoksifikasi bisa dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas Genteng Kulon atau RSUD Genteng. Penguatan kapasitas paramedis untuk menguasai penatalaksanaan pada penyalahgunaan narkoba menjadi prioritas. Jangka waktu untuk detoksifikasi adalah antara 1 (satu) minggu – 1 (satu) bulan selanjutnya dikembalikan kepada masyarakat dalam hal ini adalah Relawan CBT untuk membangun motivasi dan orientasi tujuan hidup serta pembekalan-pembekalan ketrampilan usaha dan atau wirausaha.

Penguatan ketahanan keluarga dan masyarakat serta penguatan ketahanan sekolah dapat dilakukan secara bersamaan dengan tahapan pemulihan dan after care karena sasarannya berbeda. Tujuan dari penguatan ketahanan keluarga dan masyarakat adalah (1) Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk memberikan dukungan pada pemulihan pecandu; (2) Menciptakan lingkungan masyarakat yang aman bagi tumbuh kembang anak dan remaja; dan (3) Advokasi Hukum dalam bentuk pendampingan sadar hukum.

Selain penguatan ketahanan pada keluarga dan masyarakat perlu juga dilakukan penguatan ketahanan sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari lingkungan tumbuh kembang anak dan atau remaja. Ditemukannya kasus penyalahgunaan dextro dan sex bebas di lingkungan pelajar maka sudah saatnya sekolah mulai turut peduli di dalam pengawasan dan pembinaan siswa berkaitan dengan pencegahan dan penanganan kasus bila siswa terlibat penyalahgunaan dan atau bermasalah dan beresiko tinggi terpengaruh penyalahgunaan narkoba. Penguatan kapasitas guru terhadap masalah narkoba dan pendampingan/konseling perlu diberikan.

Aspek atau tahapan terakhir adalah networking atau pengembangan jaringan guna mensinergikan segala potensi untuk mewujudkan misi dari CBT khususnya dan pemberdayaan masyarakat pada umumnya. Pengembangan jaringan dilakukan untuk memperoleh akses informasi dan pembiayaan. Pengembangan jaringan ini bisa diperoleh dari lembaga pemerintah yang khusus menangani masalah narkotika yaitu BNN beserta jajaran vertikalnya BNNP Jawa Timur dan BNNK Banyuwangi. Selain itu pengembangan jaringan bisa juga dilakukan dengan menggandeng Coorperate Social Responsible (CSR) dan atau LSM/NGO baik dari dalam dan atau luar negeri.




FGD Stakeholder Kecamatan

FGD Stakeholder Kecamatan dibuka Bapak Camat dan Kapolsek Genteng

FGD Stakeholder Kabupaten Banyuwangi

FGD Stakeholder Kabupaten Banyuwangi dihadiri Kalakhar BNK

Ditulis oleh Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

DFC Vs. After Care Mahameru Jawa Timur

Sosialisasi Konsultasi, Informasi, dan Advokasi Rehabilitasi Pecandu

Sosialisasi Konsultasi, Informasi, dan Advokasi Rehabilitasi Pecandu Kerja Sama After Care Mahameru Jawa Timur dan Drug Free Community

Sebelumnya saya minta maaf bila tulisan ini akan menyinggung beberapa pihak terkait. Saya Mila Djamhari baik sebagai pribadi dan sebagai Leader DFC perlu merasa membuat tulisan ini untuk memberikan konfirmasi atas beberapa berita yang tersebar luas di kalangan LSM peduli Narkoba di Jawa Timur khususnya di Surabaya, perihal keterlibatan saya dan DFC di After Care Mahameru Jawa Timur. Mengapa saya HARUS menggunakan media terbuka karena selama ini semua berita meluas tanpa pernah satu pihak pun ada itikad untuk konfirmasi pada saya secara langsung, dengan media ini saya berharap bisa menjadi penjelasan secara umum.

Bulan Oktober 2009 saya diundang oleh BNP untuk menghadiri pertemuan After Care di Irba 7 Surabaya. Pada saat tersebut ternyata ada pergantian pengurus After Care Jawa Timur, yang saya tidak mengerti alasannya. Saat itu Koordinator After Care menyatakan mengundurkan diri sebagai koordinator dengan alasan kesibukan. Singkat kata terbentuk pengurus baru. Pada saat itu saya juga ditawari untuk duduk sebagai pengurus, tetapi saya menolak karena; pertama saya bukan pecandu (eks), kedua saya adalah Leader DFC organisasi swadaya dan independen, dan ketiga saya adalah fasilitator pemberdayaan masyarakat (konsultan) maka posisi saya jelas bukan sebagai komunitas yang menjadi sasaran dari program pemberdayaan. Atas dasar itu maka saya dan DFC lebih memposisikan diri membantu apapun sebatas kemampuan yang kami miliki.

Perjalanan waktu After Care Jawa Timur pada kondisi kritis, mulai dari masalah keuangan, masalah ancaman terusir dari rumah yang menjadi sekretariat, pengurus yang saling lempar tanggung jawab, sampai mundurnya pembina After Care. Selama ini saya sadar bahwa keberadaan saya di After Care tidak diharapkan oleh pihak-pihak tertentu karena saya pernah membuat tulisan di FB yang mengatakan bahwa After Care hanya semata sebagai proyek. Meskipun keberadaan saya tidak dikehendaki tetapi oleh beberapa pengurus saya masih dimintai bantuan. Tujuan awal saya hanya ingin melihat sejauhmana implementasi program after care sebagai program Nasional di dalam keberlanjutan program terapi dan rehabilitasi pecandu. Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dan sebagai wujud nyata kerja DFC saya tidak ingin program Nasional ini gagal dan hancur.

Ketika ada masalah tersebut saya tidak melihat baik pembina maupun orang-orang dan atau LSM-LSM yang dulu terlibat pembentukan After Care ini peduli dan mendampingi menyelesaikan masalah. Semua hanya saling lempar tanggung jawab bahkan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan beberapa pihak. Sebuah program pemberdayaan bila dianggap gagal maka tanggungjawab kegagalan tersebut tidak serta merta hanya dilimpahkan kepada pengurus semata, apalagi di dalam internal pengurus justru juga saling menyalahkan. Kegagalan program pemberdayaan adalah juga kegagalan pembina yang memiliki kewenangan dan tugas mengawal program. Orang-orang yang terlibat sebagai pendiri dan juga terlibat manfaat pada saat pelaksanaan program mestinya juga punya tanggung jawab moral untuk membantu menyelesaikan masalah.

Permasalahan yang banyak disorot adalah masalah penggunaan keuangan pembinaan dari BNN tahun anggaran 2009 yang diduga disalahgunakan oleh beberapa pengurus, hanya menjadi bahan untuk menyudutkan semata tanpa ada solusi. Justru yang terjadi adalah memindahkan inventaris After Care ke BNK yang seharusnya adalah ke BNP karena After Care Jawa Timur adalah program yang berada di wilayah kewenangan BNP Jawa Timur. Alasan pemindahan inventaris termasuk komputer, yang saat itu sedang dibutuhkan untuk menyusun laporan adalah takut “diamankan” oleh beberapa pengurus. Tuduhan yang lain adalah bahwa mereka diduga mengkonsumsi kembali narkoba.

Mengganti pengurus adalah hal yang paling gampang, tetapi bukan itu substansi pemberdayaan. Mestinya semua saling introspeksi bahwa kegagalan After Care adalah kontribusi dari semua pihak. Permasalahan keuangan, setelah saya diijinkan mereka untuk membantu penyusunan laporan keuangan yang diminta BNN, saya melihat masih dalam batas wajar dan bisa dipertanggungjawabkan. Mereka benar menggunakan uang pembinaan dari BNN tetapi secara hukum mereka juga tidak bisa disalahkan. Alokasi uang pembinaan dari BNN adalah untuk dana pembinaan Konselor Adiksi sebesar Rp.850.000/bulan untuk tiap pengurusnya. Di dalam catatan kas bon hampir semua pengurus melakukan pinjaman bila dikonversikan menjadi dana pembinaan maka menjadi impas. Pembagian dana pembinaan mungkin bisa dianggap tidak merata tetapi bila dari sisi keadilan atas beban pekerjaan dan keaktifan mereka di dalam menjalankan program maka bisa dikatakan wajar dan adil.

Pemanfaatan alokasi Dana Pembinaan After Care tahun anggaran 2009:

  1. Operasional Sekretariat (seperti perbaikan sekretariat, listrik, dll)
  2. Administrasi (ATK, print, Foto Copy, dll)
  3. Pelatihan Broadcast dan Sablon
  4. Konsumsi NA tiap minggu
  5. Event (Launching Sekretariat, Aksi Dukungan ARV, MRAN, Peserta Festifal Film Indie)
  6. Tunjangan Pembinaan (termasuk transport dan biaya komunikasi) pengurus/Konselor Adiksi
  7. dll.

Saya tahu betul bahwa SPJ Dana Pembinaan After Care tahun anggaran 2009 bunyinya adalah diperuntukan untuk dana pembinaan konselor adiksi, maka bila ada pihak-pihak yang memaksa HARUS pengurus After Care membuat Laporan Keuangan detail kegiatan After Care tahun berjalan 2010 adalah mengada-ada. Sebagai proses pembelajaran dan tanggung jawab mereka atas pemanfaatan dana tersebut maka saya membantu mendampingi mereka untuk menyusun laporan seperti yang diminta. Laporan detail pemanfaatan keuangan akan disampaikan ke BNN melalui BNP. Bagi siapapun yang merasa perlu melihatnya silahkan mengkonfirmasi kepada pihak BNP karena bukan kapasitas saya dan atau After Care untuk laporan dan tembusan kepada pihak-pihak di luar BNN dan BNP.

Soal tuduhan mengkonsumsi kembali saya kembalikan kepada logika semua pihak, siapakah yang harusnya paling bertanggungjawab. Dalam konsep rehabilitasi versi manapun yang namanya potensi pecandu relaps kemungkinan besar adalah YA dan itu menjadi taruhan sepanjang hidupnya. Pengurus dan anggota after care konsepnya adalah pecandu yang selesai rehabilitasi karena after care adalah program kelanjutan. Seseorang yang sudah pasti memiliki potensi untuk menyalahgunakan keuangan untuk mengkonsumsi narkoba diberikan uang puluhan juta tanpa pengendalian dan program yang jelas. Seharusnya mereka merasa gagal untuk memotivasi dan mendampingi pecandu untuk tetap terus berhenti bukan malah sebaliknya menjadikan mereka TERDAKWA. Bila semua pihak gencar berkata bahwa pecandu adalah KORBAN apakah saat ini pecandu yang jadi pengurus After Care ini bukan juga KORBAN, korban dari program yang tidak dikawal dengan benar.

After Care Mahameru tidak bisa dikatakan gagal juga karena selama kurun waktu Oktober 2009- Juli 2010 telah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan:

  1. Ikrar Anti Narkoba dan Perkenalan After Care Jatim ke Publik, Nopember 2009
  2. Narcotic Anonymouse setiap hari Selasa sore
  3. Launching Sekretariat After Care, KUBE Kafe, dan KUBE Sablon di Sekretariat, Jalan Irba 7 Surabaya, Maret 2010
  4. KUBE Kafe/Warung (semula di Jalan Irba 7 karena diminta keluar oleh pengelola rumah maka dipindah sementara di Jalan Raya Darmo8A Surabaya
  5. KUBE Salon (karena bermasalah dengan pengelola rumah maka tidak bisa dilanjutkan)
  6. Pelatihan Multimedia Broadcast, Maret 2010 (menghasilkan 2 iklan layanan masyarakat tentang bahaya narkoba)
  7. KUBE Broadcast, sudah beberapa kali melayani permintaan dokumentasi
  8. Mengikuti Lokakarya After Care seluruh Indonesia, April 2010
  9. Pelatihan Sablon, Mei 2001
  10. Aksi Dukungan ARV bersama LSM-LSM lain, Mei 2010
  11. Malam Renungan AIDS di Taman Bungkul Surabaya, 21 Mei 2010
  12. Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional – Sosialisasi Rehabilitasi versi Nonton Bareng Piala Dunia, 18 Juni-12 Juli 2010
  13. Partisipasi di acara KAZA Soerabaia Community Xhibition di Plasa Kapas Krampung, 29-31 Juli 2010
  14. Hotline Konsultasi, Informasi, dan Advokasi Korban Narkoba dan Rehabilitasi

Dokumentasi seluruh kegiatan yang diselenggarakan sudah diserahkan ke BNP Jawa Timur

Sebagai bentuk pertanggungjawaban beberapa langkah yang telah dilakukan:

  1. Menyusun Laporan Kegiatan Januari-Juni 2010
  2. Menyusun Program Kerja 2010-2011
  3. Menyusun SPJ Tahun Anggaran 2010
  4. Menyusun Laporan Keuangan Dana pembinaan 2009
  5. Koordinasi dengan Kepala Bidang Terapi dan Rehabilitasi BNP Jawa Timur
  6. Review Kepengurusan After Care Mahameru, periode 2010-2015
  7. Kerja sama dengan Laboratorium Sosial Kesehatan – Puslitbangkes Kemenkes RI di Jalan Indrapura 17 Surabaya untuk Sekretariat baru After Care Mahameru
  8. Koordinasi dengan Dinas Sosial Kota Surabaya untuk fasilitasi Jamkesmas/jamkesda bagi pecandu yang akan rehabilitasi dan atau bagi ODHA yang membutuhkan pelayanan kesehatan lebih lanjut.

Meskipun dalam kondisi kritis dan jadi sorotan, After Care Mahameru  di dalam rencana kerja kedepan akan melakukan :

  1. Penjangkauan ke korban dan keluarga korban narkoba dengan tujuan memotivasi mereka untuk mengikuti program rehabilitasi
  2. Kerja sama dengan DFC dan Laboratorium Sosial Kesehatan Kemenkes RI di Surabaya untuk Program Kajian dan Pengembangan Terapi dan Rehabilitasi Berbasis Orientasi Nilai. Infrastruktur ruang dan perlengkapan sudah tersedia. Saat ini sedang dalam proses MoU antara BNP dengan Puslitbangkes untuk detail bentuk kerja samanya. Implementasi efektif awal tahun 2011.
  3. Capacity Building anggota After Care baik dalam bentuk ketrampilan dan kapasitas personal. Kegiatan ini bisa dalam bentuk pelatihan-pelatihan dan atau Focus Group Discussioan.
  4. Optimalisasi KUBE Broadcast yang saat ini sedang penjajagan dengan salah satu PH di Surabaya. Segera akan dilakukan koordinasi sistem managemen KUBE.
  5. Optimalisasi KUBE Sablon bekerjasama dengan Komunitas Red Line untuk pengadaan produk-produk promo mereka.
  6. Pengembangan jaringan dengan lembaga-lembaga terkait, seperti Labsoskes Puslitbangkes, Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku, Forum Jejaring Peduli AIDS, Komunitas Entertain, dan Paguyuban Cak dan Ning Surabaya.

Mereka tidak bisa dibilang GAGAL karena mereka bekerja belum genap 10 bulan dan banyak kegiatan yang sudah mereka laksanakan. Kesalahan mereka hanya masalah managemen keuangan yang mengandalkan dana pembinaan dari BNN sehingga mereka mengalami krisis keuangan saat dana pembinaan yang diharapkan turun tidak segera turun, tetapi pemanfaatan dana sendiri masih berada pada batas kewajaran.

Saya dan DFC selama beraktifitas bisa dibilang tidak pernah menerima manfaat materi dari BNK/BNP/BNN baik dalam bentuk proyek atau dana pembinaan. Posisi kami disini adalah sebagai wujud nyata komitmen kami di dalam program penanggulangan narkoba. Saya hanya berpikir sederhana saja, bagaimana menyelamatkan program Nasional yang sebenarnya secara konsep bagus sekaligus bagaimana memotivasi pengurus After Care untuk bertanggung jawab, memperbaiki kesalahan (meskipun menurut saya bukan mutlak kesalahan mereka), dan menjalankan program sebagaimana semestinya.

Saya sebagai Leader DFC diundang hadir pada pertemuan mereka, kami mengenal mereka, kami memiliki program tentang mereka, kami memiliki kemampuan untuk membantu mereka, maka kami akan menjadi manusia zalim bila kami tidak membantu mereka. Setiap ilmu wajib diamalkan walaupun hanya satu ayat dan saya memiliki banyak ilmu maka saya akan berdosa bila saya tidak mengamalkannya.

Kami mohon kepada semua pihak yang merasa perlu berbicara soal After Care Mahameru Jawa Timur, bila memang kalian memiliki konsep jelas dan pasti untuk mendampingi mereka tolong lakukan, jangan hanya sekedar menyudutkan dan mencari-cari kesalahan terus tanpa memberi solusi. Mereka saudara kita, kalau mereka kalian anggap salah maka sudah menjadi kewajiban sebagai saudara untuk saling mengingatkan. Bila kehadiran kami tidak kalian kehendaki membantu After Care Mahameru Jawa Timur ini, kami dengan ikhlas akan meninggalkannya tetapi tentunya dengan catatan kalian komitmen untuk membantu mereka.

Surabaya, 2 Agustus 2010

Mila M. Djamhari, S.Sos.

Catatan :

Hal di atas hanya sebagian masalah yang terpetakan dan bisa disajikan secara publik, masih ada beberapa masalah yang tidak mungkin dimuat. Bila diperlukan oleh pihak-pihak terkait maka saya siap menjelaskan semua.

Berikut ini adalah dokumentasi kegiatan After Care Mahameru Jawa Timur:

Official Partner

Official Partner

Penyebaran leaflet pada acara KAZA Soerabaia Community

Penyebaran leaflet pada acara KAZA Soerabaia Community

Talk Show After Care di KAZA Soerabaia Community

Talk Show After Care di KAZA Soerabaia Community

Kaza Soerabaia Community di Plasa Kapas Krampung

Kaza Soerabaia Community di Plasa Kapas Krampung

Anjungan bersama After Care Mahameru dan DFC

Anjungan bersama After Care Mahameru dan DFC

Sosialisasi Rehabilitasi Versi Nobar Piala Dunia

Sosialisasi Rehabilitasi Versi Nobar Piala Dunia

Sosialisasi Rehabilitasi Versi Nobar Piala Dunia
Sosialisasi Rehabilitasi Versi Nobar Piala Dunia

Leaflet Sosialisasi Rehabilitasi Amanat UU RI No. 35/2009 Tentang Narkotika

Leaflet Sosialisasi Rehabilitasi Amanat UU RI No. 35/2009 Tentang Narkotika

MRAN 21 Mei 2010 MRAN 21 Mei 2010

MRAN 21 Mei 2010

MRAN 21 Mei 2010

Band binaan After Care Mahameru

Band binaan After Care Mahameru

MRAN 21 Mei 2010: Anjungan Konsultasi dan Informasi

MRAN 21 Mei 2010: Anjungan Konsultasi dan Informasi

Pelatihan Sablon, Mei 2010

Pelatihan Sablon, Mei 2010

Pelatihan Sablon, Mei 2010

Pelatihan Sablon, Mei 2010

Aksi Dukungan ARV, Mei 2010

Aksi Dukungan ARV, Mei 2010

Aksi Dukungan ARV, Mei 2010

Aksi Dukungan ARV, Mei 2010

Aksi Dukungan ARV, Mei 2010

Aksi Dukungan ARV, Mei 2010

Lokakarya After Care Se Indonesia, Jakarta, April 2010

Lokakarya After Care Se Indonesia, Jakarta, April 2010

Pelatihan Multimedia Broadcast, Mei 2010

Pelatihan Multimedia Broadcast, Maret 2010

Pelatihan Multimedia Broadcast, Mei 2010

Pelatihan Multimedia Broadcast, Maret 2010

Pelatihan Multimedia Broadcast, Mei 2010

Pelatihan Multimedia Broadcast, Maret 2010

Launching Sekretariat After Care dan KUBE, Maret 2010

Launching Sekretariat After Care dan KUBE, Maret 2010

Launching Sekretariat After Care dan KUBE, Maret 2010

Launching Sekretariat After Care dan KUBE, Maret 2010

Sekretariat After Care

Sekretariat After Care

KUBE Salon

KUBE Salon

KUBE Warung

KUBE Warung

Perkenalan After Care 29 Nopember 2009

Perkenalan After Care 29 Nopember 2009

Pengurus AC bersama Kalakhar BNK Surabaya

Pengurus AC bersama Kalakhar BNK Surabaya

Relawan DFC mendukung acara Perkenalan After Care

DFC mendukung acara Perkenalan After Care

Ikrar Kampung Bersih Narkoba

Ikrar Kampung Bersih Narkoba

Dokumentasi MRAN “Indonesia Unite For AIDS”

yang Gendut dari DFC yang Peduli.....

Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis YBSI dan MPM Honda

Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis YBSI dan MPM Honda
Tim Medis YBSI dan FJPA, DFC , dan Surya Community

Tim Medis YBSI dan FJPA, DFC , dan Surya Community

Anjungan Forum Jejarang Peduli AIDS

Anjungan Forum Jejarang Peduli AIDS

Anjungan Wahana Visi Indonesia

Tim After Care Mahameru Jawa Timur.... Leader Aksi Dukungan Lisensi Wajib ARV pada MRAN 21 Mei 2010

Tim After Care Mahameru Jawa Timur.... Leader Aksi Dukungan Lisensi Wajib ARV pada MRAN 21 Mei 2010

Tanda Tangan Dukungan Lisensi Wajib ARV di Lembar Kain

Tanda Tangan Dukungan Lisensi Wajib ARV di Lembar Kain

Tanda Tangan Dukungan Lisensi Wajib ARV di Lembar Kertas

Tanda Tangan Dukungan Lisensi Wajib ARV di Lembar Kertas

Cak & Ning Surabaya 2010 Memandu Renungan

Cak & Ning Surabaya 2010 Memandu Renungan

Renungan diiringi lagu lilin-lilin kecil penuh hikmat

Renungan diiringi lagu lilin-lilin kecil penuh hikmat

Foto Dokumentasi lebih banyak lagi lihat di…

http://www.facebook.com/album.php?aid=10282&id=1700745376&saved#!/album.php?aid=10282&id=1700745376