Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Terapi Metadon????

Tinggalkan komentar

Mengapa Pantang Program Terapi Metadon
dan Pertukaran Jarum Suntik

Awal tahun 2000, lebih dari 70% pasien AIDS di RS-RS Indonesia menunjukan trend penderita teridentifikasi memiliki riwayat hidup sebagai pecandu narkoba dari penggunaan jarum suntik (jenis opium). Asumsi mereka tertular HIV adalah dari penggunaan jarum suntik yang diduga tidak steril. Dari realita tersebut kemudian disimpulkan dalam perspektif penanggulangan HIV/AIDS bahwa penggunaan jarum suntik adalah penyebab terbesar penularan HIV sehingga perlu diberlakukan program Harm Reduction. Program ini bertujuan meminimalisasi dampak penyalahgunaan narkoba jenis opium dari sudut penularan HIV, dengan memberikan pelayanan pemberian/penggantian jarum suntik steril kepada pecandu dan atau pengganti jenis narkoba dari putaw (IDU/jarum suntik) ke metadon (oral).



Pecandu narkoba dari jarum suntik seolah booming teridentifikasi AIDS dikarenakan:

  1. Resiko tinggi Penularan HIV; mereka memiliki dua resiko tinggi penularan baik dari penggunaan jarum suntik bergantian dan atau perilaku seks berganti-ganti pasangan (hampir 100% pecandu narkoba terlibat perilaku seks berganti-ganti pasangan)
  2. Asupan GIZI yang buruk; penghentian obat akan menyebabkan mereka kesakitan (sakaw) sehingga mereka harus mengkonsumsi obat tersebut. Anggaran untuk membeli obat akan menjadi prioritas utama bahkan bila tidak memiliki uang mereka dengan mudahnya terlibat tindak kriminal. Hal-hal di luar obat menjadi tidak dipikirkan termasuk pola makan mereka, akibatnya adalah asupan gizi mereka sangat buruk
  3. Pola hidup tidak sehat, kebanyakan dari mereka pola hidupnya tidak sehat. Asupan gizi yang buruk menjadikan tubuh mereka cenderung lemah sehingga mereka kurang melakukan aktifitas yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan mereka, seperti olah-raga. Sebaliknya aktifitas seks bebas dan alkohol terus berjalan.
  4. Masa Inkubasi HIV ke AIDS lebih pendek; mereka yang tertular HIV dengan asupan gizi dan pola hidup sehat yang buruk menjadikan perkembangan virus HIV lebih cepat dari penderita HIV lainnya. Normal untuk orang-orang Asia, masa inkubasi HIV ke AIDS kurang lebih 5 tahun. Pada penderita dari kalangan pecandu narkoba jarum suntik kurang lebih 1-2 tahun.
Akar permasalahan penyalahgunaan narkoba adalah Aspek Psikis, yaitu ORIENTASI NILAI, pemahaman nilai si individu dengan dirinya sendiri, pemahanan nilai antara individu dengan lingkungannya, pemahaman nilai si individu dengan masa lalunya, pemahaman nilai si individu dengan masa depannya. Orientasi/pemahaman nilai-nilai pada individu terbentuk oleh pola asuh/didik orang tua/keluarga dan pengaruh interaksi dengan lingkungannya (termasuk teknologi informasi global). Keputusan untuk menjadi pecandu adalah keputusan individu maka penghentian menjadi pecandu pun adalah keputusan individu tersebut. Ketika si individu memutuskan untuk pertama kali pakai (obat) dan selanjutnya menjadi pecandu maka bisa dikatakan bahwa terjadi pemahaman nilai yang tidak benar pada individu tersebut. Ketika mereka menjadi pecandu maka akan banyak nilai-nilai dan atau norma-norma sosial, budaya, hukum, dan agama yang dilanggar, mereka akan cenderung dijauhi oleh dominan masyarakat. Dampak Asosial akan memperburuk aspek psikis pecandu, maka yang utama diperlukan untuk penanggulangan pecandu adalah REHABILITASI PSIKIS, KONSTRUKSI BARU ORIENTASI NILAI.Penghentian obat, dalam artian detoksifikasi memutus pemakaian obat dalam tahapan rehabilitasi narkoba adalah hal yang paling mudah. Tidak ada orang mati karena sakaw. Tahapan tersulit adalah mempersiapkan si (ex) pecandu untuk tidak relaps (kambuh pakai kembali), mempersiapkan mereka mengatasi sugesti dan godaan-godaan pakai kembali yang muncul setiap saat. Tahapan inilah yang disebut rehabilitasi psikis dan sosial. Tidak ada satupun modalitas rehabilitasi yang mampu memberikan jaminan “sembuh”. Ke”sembuh”an sangat tergantung pada motivasi pecandu itu sendiri. Keluarga dan lingkungan hanya sebatas mampu memberikan dukungan dan ketegasan (pecandu seringkali memanipulasi perasaan/kesedihan keluarga).Tahun 2009, data terakhir trend penderita AIDS adalah dari penularan lewat perilaku seks. Hampir 100% pecandu narkoba terlibat seks bebas berganti-ganti pasangan, bukan cuma dari pecandu jenis opium tetapi juga dari jenis psikotropika (extacy dan Sabu). Kami sepakat bahwa program Harm Reduction dalam prespektif penanggulangan HIV/AIDS adalah benar, tapi dalam prespektif penanggulangan penyalahgunaan Narkoba sama sekali tidak menyelesaikan masalah.Program penggantian jarum suntik bahkan sama sekali tidak menghentikan pecandu untuk mengkonsumsi opium/putaw. Mereka masih mengkonsumsi obat, mereka masih melakukan tindak kriminal untuk kebutuhan membeli obat, mereka masih melakukan seks bebas berganti-ganti pasangan, sebagian dari wanita yang menjadi pecandu cenderung melakukan prostitusi untuk memperoleh uang membeli obat. Penyalahgunaan dan peredaran gelap jalan, tindak kriminal jalan, perilaku seks bebas jalan, dan prostitusi juga tetap jalan.Program terapi metadon, seringkali Dokter (apakah tahu atau tidak) tidak menjelaskan detail dan benar efek dalam tahapan-tahapan pengobatannya kepada calon pasien. Pelaku lapangan rekrutmen pasien narkoba untuk terapi metadon banyak juga tidak dibekali pemahaman yang detail dan benar. Mereka hanya berpacu pada target “memperoleh” pasien. Pecandu jarum suntik akan dengan senang hati berpindah ke terapi metadon karena; harga murah (karena masih subsidi), legal, dan utamanya adalah persediaan obat terjamin.Pengalaman rekan yang mengikuti terapi metadon;

  1. Ketika memutuskan untuk berhenti “sakaw” nya lebih lama 1-2 bulan, dibanding sakaw jenis putaw 1-2 minggu, maka pecandu kalau mau berhenti mikir sakitnya yang lama tidak jadi berhenti
  2. Penurunan dosis seringkali menjadi permainan dokter, mereka cenderung tidak ingin menurunkan dosis, maka si pasien harus pintar untuk minta penurunan dosis
  3. Aturan penggunaan metadon harus di RS setempat, nyatanya saat ini pasien boleh membawa keluar jatah mingguan dan dipakai di luar RS, maka akan ada kemungkinan disalahgunakan. Kalau aturan pemakainnya saja oleh Dokter/tim terapi sudah diberikan kelonggaran, apakah si dokter/tim terapi menyediakan waktunya untuk si pasien konsultasi lebih lanjut berkaitan terapi psikisnya
Prediksi Kedepan
  1. Metadon adalah narkotika golongan II, yang artinya tingkat ketergantungannya masih cukup tinggi. Dengan masa tenggang sakawnya yang lama kecenderungan untuk berhenti akan lebih sulit.
  2. Harga metadon saat ini masih di subsidi oleh pemerintah, bagaimana bila subsidi tersebut dicabut. Bukan tidak mungkin 5 atau 10 tahun ke depan subsidi untuk metadon dicabut. Subsidi pupuk anorganik yang kebutuhan dasar petani saja dicabut apalagi subsidi obat bagi pecandu. Bisa dibayangkan berapa ribu orang pecandu metadon akan sakaw bila tidak mampu membelinya
  3. Metadon adalah obat yang “dilegalkan” dengan jumlah pasien yang stabil bahkan cenderung meningkat, apakah tidak akan ada kecenderungan untuk dikomersilkan, kerja sama antara dokter dan perusahaan farmasi. Anti bodi flu burung saja yang dikendalikan WHO/PBB saja dikomersilkan apalagi metadon

Hal-hal di atas yang menjadi alasan mengapa komunitas kami DRUG FREE COMMUNITY berpantangan dengan program Harm Reduction. Kepada teman-teman yang saat ini mengikuti terapi metadon sama sekali kami tidak membenci anda sebagai pasien, setulus hati kami berdoa agar teman-teman segera memperoleh “kesembuhan”. Kami hanya tidak setuju adanya program tersebut dan tentunya berikut program-program kampanye gerakan terapi metadon ataupun penggantian jarum suntik.
Ketika kamu memutuskan untuk berhenti maka segerakanlah jangan ditunda… kamu telah habiskan waktu kemarin dengan sia-sia… jangan biarkan waktu di depanmu menjadi sia-sia pula… Kami ada untuk kalian… bersama menjadikan Indonesia Lebih Baik…
Iklan

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s