Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

STOP Diskriminasi pada ODHA (sesi 1)

2 Komentar

Kembali terulang terjadinya diskriminasi kepada penderita AIDS di salah satu RS di Jakarta, lebih miris lagi si penderita adalah Balita yang bukan karena salah dan inginnya tertular HIV dari orang tuanya. Mengapa masih terjadi stigma buruk sekaligus perlakuan diskriminasi kepada mereka yang terinfeksi HIV. Apakah masyarakat kita telah kehilangan rasa kasih sayangnya, sedangkan agama-agama di Indonesia selalu mengajarkan tentang kasih sayang pada sesama. Apa dan siapa yang salah????

Ada cerita sederhana dari keponakan saya yang baru kelas 1SD, ada pertanyaan pada saat tes pelajaran social/PPKN, pertanyaannya adalah apa yang kamu lakukan kalau ada teman yang sakit? Dia jawab dijauhi. Menurut kunci jawaban jelas salah, yang benar adalah ditengok. Pertanyaan sekarang pada para orang tua, apakah yang “diajarkan” kepada anak-anaknya yang masih kecil kalau ada temannya sakit, saya yakin 100% orang tua akan melarang anaknya untuk bermain dengan anak yang sakit, alasannya pasti karena takut tertular. “Ajaran” ini juga yang disampaikan oleh kakak saya kepada anaknya tadi, meskipun dia juga adalah seorang guru SD. Apa dan siapa yang salah dalam cerita ini???

Mungkin cerita di atas dianggap tidak sepadan dengan kasus perlakuan diskriminasi kepada penderia HIV/AIDS yang dilakukan oleh paramedis, yang relatif pemahaman mereka tentang kesehatan dan penyakit jauh lebih baik dari pada masyarakat awam.  Asumsi bahwa dokter dan perawat yang profesinya adalah di bidang kesehatan harusnya tahu bagaimana penanganan penderita AIDS. Apakah mereka semua tahu? Jawabnya belum tentu. HIV/AIDS bukan sekedar penyakit batuk, diare, ispa, demam berdarah, tifus, gizi buruk, atau pun penyakit-penyakit lain yang sangat biasa didapati di masyarakat. AIDS bukan penyakit biasa dan umum, sehingga tidak semua paramedis pun memahami secara detail apalagi penanganannya. Bila mereka tidak mengetahui cara penangganan AIDS apakah mereka bisa juga disalahkan saat mereka “takut” menangani penderita AIDS. Apakah “ketakutan” mereka bisa juga disalahkan????

Mengapa saya berani berkata bahwa mereka paramedis meskipun profesinya di bidang kesehatan dan penyakit belum tentu memahami kasus AIDS dan penanganannya. Ada pengalaman sekitar tahun 2002 dengan Kepala RS Pamardi Siwi (BNN), perihal sulitnya penanganan kasus pasien penyalahgunaan narkoba. Dokter tersebut menyampaikan kepada saya bahwa (setidaknya sampai dengan tahun 2002) belum ada materi (SKS) khusus tentang narkoba berikut latar belakang, dampak, dan penanganannya, yang diajarkan pada mahasiswa kedokteran.

Apa yang disampaikan dokter tersebut ternyata saya rasakan langsung, kebetulan selain aktifis anti narkoba, saya juga aktif sebagai relawan di salah satu yayasan yang bergerak di bidang kesehatan dan tentunya melibatkan teman-teman dari kedokteran dan keperawatan. Salah satu kegiatan kami adalah pemeriksaan dan pengobatan gratis, bila ada yang mengeluh pusing kepala dan atau linu-linu, mudah sekali bagi mereka untuk memberikan obat depresan (anti nyeri). Logikanya sesuai terapi/aturan medis bahwa untuk mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri maka diberikan obat anti nyeri. Bagaimana dengan perilaku pasien yang merasa sakit sedikit minum obat, padahal dosis obat akan selalu meningkat, apakah dikemudian hari tidak mengakibatkan mereka kecanduan? Sebuah fakta bahwa ibu saya meninggal akibat siriosis (pengerasan hati) dampak dari pengkonsumsian obat anti nyeri berlebihan. Apa dan siapa yang salah???

Narkoba dan AIDS bukan penyakit biasa yang bisa diselesaikan hanya dengan terapi medis semata. Narkoba dan AIDS sebuah gejala penyakit yang memiliki kompleksitas permasalahan, mulai dari sisi medis, psikologi, sosial, kultur/budaya, dan juga nilai-nilai humanis. Realitanya tidak semua paramedis dan masyarakat cukup memahami penanganan kasus Narkoba dan AIDS. Selama ini program penanggulangan AIDS masih dominan pada pencegahannya. Ironisnya seringkali penyuluh/pemateri hanya cari mudahnya saja untuk menjelaskan tentang Narkoba dan AIDS, mereka seringkali menyampaikan bahwa Narkoba dan AIDS adalah momok atau hantu yang harus dihindari, dijauhi, diberantas, hingga diperangi. Apakah masyarakat bisa disalahkan bila dalam benaknya mereka memahami Narkoba dan AIDS sebagai momok atau hantu?????

Kembali pada bahasan tentang diskriminasi pada ODHA. Permasalahan di permukaan jelas adanya perlakuan diskriminasi masyarakat termasuk dari kalangan medis kepada mereka yang terinfeksi HIV dan atau penderita AIDS, yang umumnya kita kenal mereka dengan ODHA (orang yang hidup dengan HIV/AIDS). Apakah salah ODHA sebagai manusia yang memiliki hak sama di muka bumi ini menuntut perlakuan yang adil bagi mereka.  Mereka memiliki hak yang sama dan itu dilindungi atas nama HAM untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan perlakuan sosial seperti masyarakat lain. Apakah kita cukup juga menyalahkan masyarakat yang secara sadar tidak sadar berlaku diskriminasi kepada ODHA sedang mereka belum cukup terpahamkan bagaimana hidup berdampingan dengan ODHA dan atau penanganan medis pada mereka dengan benar dan tepat.

Tulisan ini bukan sekedar untuk mencari apa dan siapa yang salah, tetapi mencoba melihat permasalahan tidak hanya di permukaan saja melainkan juga akar permasalahannya dari berbagai perspektif bukan semata perspektif medis/penyakit.

Bersambung….

Penulis,

Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Iklan

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

2 thoughts on “STOP Diskriminasi pada ODHA (sesi 1)

  1. salam kenal
    mohon kunjungan balik mas

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s