Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Stop Diskriminasi Pada ODHA sesi 3

Tinggalkan komentar

Meretas Jalan Harapan…

HIV/AIDS memang virus mematikan, tetapi bila kita berperilaku yang tidak beresiko penularan maka kita akan terhindar dari penularan virus tersebut. Bila kita mampu meyakinkan diri kita dan pasangan hidup kita untuk saling setia maka kita pun akan terlindungi dari penularannya. Bagaimana bila orang terdekat kita teridentifikasi positif HIV? Bagaimana bila ada orang di lingkungan pergaulan kita adalah ODHA? Bagaimana bila kita adalah paramedis yang harus menangani pasien HIV/AIDS?

ODHA terlepas dari bagaimana mereka tertular HIV dan bagaimana masa lalu mereka tetaplah manusia, yang memiliki hak yang sama untuk menjalani hidup bersama-sama masyarakat lainnya. Bila sebagian dari ODHA adalah mereka-mereka yang memiliki masa lalu buruk, apakah mereka tidak memiliki hak untuk menjadi lebih baik. Biarkan kita kembalikan penghakiman hanya mutlak Hak Allah, karena sesungguhnya manusia tidak memiliki hak untuk menghakimi manusia lainnya labih baik atau lebih buruk dari dirinya. Setiap manusia menjalani ujian hidupnya dan akan mempertanggung jawabkan kepada Tuhannya.

Bila saat ini kita atau keluarga kita tidak terinfeksi HIV mungkin besok atau lusa bisa kita sendiri yang terinfeksi. Setiap manusia yang hidup selalu diberikan ujian dan masalah, dan keimanan seseorangpun kadang naik kadang turun,. Mungkin saat kita diuji masalah dan bersamaan saat keimanan kita turun, mungkin kita terjebak dalam perilaku yang beresiko tertular HIV. Hidup selalu mejadi misteri dan itu hak mutlak Allah.

Sedikit gambaran bagaimana hidup yang harus dijalani ODHA. Saat mereka menerima hasil tes bisa dibilang seperti vonis kematian, karena umur hidup mereka secara logika medis tidak lebih dari 10 tahun kedepan. Bila kita mereka, bisa dibayangkan bagaimana mimpi dan cita-cita yang kita buat mungkin tidak akan mampu kita nikmati, kita seolah hanya diberi ruang dan waktu sempit untuk menikmati hidup, kita tidak mampu bermimpi lebih. Hidup adalah meraih mimpi-mimpi, tetapi bagaimana dengan mereka seolah hidup tanpa mimpi, kalaupun bermimpi sangat terbatas.

Mereka bisa bertahan sampai waktu tersebut pun dengan terapi yang sangat tidak menyenangkan. Bila kita jadi mereka, bayangkan bahwa setiap hari 2 (kali) kita harus rutin mengkonsumsi ARV untuk menahan laju perkembangan virus, tidak boleh terlambat apalagi alpa, sekali terlambat atau alpa beresiko virus akan resisten dengan ARV, secara sederhana virus menjadi lebih kebal dan kuat. Bisa dibayangkan bila kita tidak memiliki kekebalan tubuh maka mudah sekali penyakit masuk dan susah diobati. Terapi untuk ODHA pun saat ini belum mampu meneymbuhkan hanya sebatas menahan perkembangan virusnya, itupun sampai saat ini masih terus dilakukan riset terhadap hasil dan efek dari obat-obatan itu sendiri.

Prasangka negatif dan ketakutan kita kepada teman-teman ODHA marilah kita sudahi, mereka bukan hantu tetapi mereka adalah sahabat dan saudara kita juga. Kita tidak akan tertular karena bercanda dan tertawa bersama, kita tidak akan tertular karena tinggal serumah, kita tidak akan tertular karena berjabat tangan, kita tidak akan terular karena sentuhan atau pelukan, Kita tidak akan tertular karena mengunakan peralatan makan bersama, kita tidak akan tertular karena menggunakan MCK yang sama, dan kita tidak akan tertular karena gigitan nyamuk, lalu mengapa kita harus takut hidup berdampingan dengan mereka.

Bila kita adalah paramedis maka sudah saatnya segera memahami standar prosedur penanganan pasien HIV/AIDS, dengan kita mengetahui secara benar penanganannya maka kita akan menghindari keadaan yang mengakibatkan resiko kecelakaan medis, dan tidak ada alasan pembenaran lagi untuk kita takut menangani pasien ODHA. Keputusan memilih profesi sebagai paramedis tentunya juga sebuah konsekuensi untuk bersikap profesional dan sepantasnya sesuai sumpah profesi, melayani setiap pasien tanpa membeda-bedakan. ODHA juga memiliki kedudukan dan hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Menerima mereka dengan senyum akan menjadi obat tersendiri untuk memotivasi mereka terus berbahagia, karena rasa bahagia mereka akan berpengaruh pada kesehatan mereka. Sesungguhnya banyak sakit yang kita derita adalah dari pikiran kita sendiri termasuk perasaan tidak berbahagia.

Buat teman-teman ODHA, masih banyak masyarakat yang penuh cinta menerima kalian apa adanya, buanglah prasangka bahwa kami akan menyakiti kalian. Sebagian dari kami mungkin bersikap jahat pada kalian, tetapi percayalah masih banyak dari kami yang bersikap baik.  Bila sampai hari ini kalian tidak mempercayai kami mungkin selamanya kalian sendiri tidak akan pernah mengetahui apakah kami akan menerima kalian atau tidak. Sebagian dari kalian pernah melakukan “kesalahan” dan kalian menikmatinya, mengapa saat ini kalian tidak berani mencoba “kesalahan” untuk mempercayai kami.

Bila diantara orang yang terdekat dengan kita positif HIV (ODHA), menangis atau lepaskan sedih kalian karena dengan menangis maka sedih itupun akan luruh bersama jatuhnya air mata. Segera cukupkan kesedihan itu jangan biarkan berlama-lama, orang yang kita sayangi justru lebih butuh kita untuk tegar dan memotivasi untuk terus berbahagia. Bersama-sama mengenal lebih dalam bagaimana hidup dengan HIV, bukan sesuatu yang menyenangkan harus rutin tiap hari minum obat/ARV untuk menahan lajunya pertumbuhan virus yang menyerang kekebalan tubuh, mereka butuh dukungan kita untuk tidak malas atau menghentikan mengkonsumsi obat tersebut. Mereka harus juga didukung untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang justru memperburuk kesehatannya, seperti harus didukung untuk berhenti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, berhenti melakukan perilaku seks beresiko, dan berhenti mengkonsumsi narkoba. Mengajak mereka untuk bergaya hidup sehat, berolahraga, mengkonsumsi makanan sehat, dan berpikir sehat, positif, dan bahagia.

Bila di lingkungan kita hidup berdampingan dengan ODHA maka perlakukan mereka dengan adil. Bila mereka pantas untuk mendapatkan perhatian kita maka mereka berhak untuk mendapatkannya. Positif HIV bukan vonis mati, bila mereka bisa menghargai kesehatan mereka sendiri maka kitapun wajib menghargai kesehatan mereka. Bila diantara mereka adalah ibu-ibu yang tertular dari suami mereka dan anak-anak yang tertular dari orang tua mereka, maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat beragama untuk membantu dan menyayangi sesama. Mereka butuh dukungan lebih karena mereka adalah korban apalagi bila sang suami atau orang tua si anak sudah meninggal berarti mereka harus berjuang bukan hanya untuk melawan HIV tetapi berjuang untuk benar-benar memenuhi hak hidup mereka, sandang, pangan, papan, dan pekerjaan/pendidikan. Bila ternyata kita hidup berdampingan dengan ODHA yang secara sadar mengabaikan dan atau tidak menghargai kesehatan mereka sendiri biarkanlah mereka menjalani sendiri.

Saatnya STOP Stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA!!! Menepis prasangka meretas jalan harapan…. Tidak ada perjuangan tanpa pahlawan… Saatnya menggores sejarah untuk menjadi pahlawan…. Saatnya berhenti mengujat karena kita bersahabat…  Saatnya berhenti berpraduga karena kita bersaudara… Saatnya bersama membuat dunia lebih baik dan lebih indah….

Cinta… berikan ruang tersendiri buat mereka… dengan cinta maka kita akan mampu menyentuh dan memeluk hati mereka… dengan cinta marilah kita jalani bersama hidup yang tiada seorangpun tahu batasnya… biarlah kematian tetap menjadi misteri… marilah kita tetap bermimpi dan berjuang meraihnya… selama ada detak selama itu pula setiap manusia berhak memiliki dunia…

Selesai……

Penulis Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s