Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Press Release MRAN “Indonesia Unite for AIDS”

2 Komentar

yang Muda... yang Kreatif... yang Ekspresif... dan yang Peduli

INDONESIA UNITE for AIDS

Hari Kebangkitan Nasional & Malam Renungan AIDS Nusantara

“Berbagi Cinta dan Kasih, Berdampingan Tanpa Stigma dan Diskriminasi”

“Aksi Dukungan Lisensi ARV untuk Penanggulangan Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia”

Taman Bungkul Surabaya, 21 Mei 2010

Memperhatikan Komitmen Pemerintah dalam Strategi dan Rencana Aksi Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014 oleh KPA Nasional :

  1. Indonesia adalah salah satu negara di Asia dengan epidemi yang berkembang paling cepat (UNAIDS, 2008). Departemen Kesehatan memperkirakan, Indonesia pada tahun 2014 akan mempunyai hampir tiga kali jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS dibandingkan pada tahun 2008 (dari 277.700 orang menjadi 813.720 orang). Ini dapat terjadi bila tidak ada upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang bermakna dalam kurun waktu tersebut.
  2. Komitmen nasional dan global termasuk Millenium Development Goals 2015 dalam penanggulangan HIV dan AIDS dapat tercapai, bila 80% populasi paling berisiko terjangkau oleh program yang efektif dan minimal 60% populasi berisiko tersebut berperilaku aman. Sehingga mereka sendiri dan masyarakat umum dapat terlindung dari infeksi. Dengan demikian diharapkan kemudian epidemi HIV selain dapat ditahan secara bertahap juga dapat diturunkan.
  3. Strategi penanggulangan HIV dan AIDS ditujukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup ODHA, serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat, agar setiap individu menjadi produktif dan bermanfaat untuk pembangunan.
  4. Penanggulangan HIV dan AIDS memasuki babak baru dalam implementasinya. Kondisi sosial dan ekonomi yang berubah cepat sangat berpengaruh pada upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Salah satu tantangannya adalah masih perlu peningkatan lingkungan yang lebih kondusif, untuk mengurangi stigma dan diskriminasi, ketidaksetaraan gender dan pelanggaran Hak Asasi Manusia dengan melibatkan organisasi masyarakat dan keagamaan serta sektor pendidikan.

Perkembangan sosial terakhir terkait permasalahan penanggulangan HIV dan AIDS :

  1. Secara khusus masalah adanya Stigma dan Diskriminasi masyarakat pada ODHA seringkali menjadi kendala bagi para ODHA sendiri untuk terbuka tentang statusnya. Kasus balita Adam di Jakarta yang ditolak oleh Rumah Sakit karena diindikasikan positif HIV merupakan salah satu perlakuan diskriminasi yang diterima ODHA. Ketidaktahuan masyarakat perihal cara pencegahan dan penanganan ODHA menjadikan mereka takut bersentuhan dengan ODHA.
  2. Komisi Perlindungan Anak (KPA) mengungkapkan 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi. Sebanyak 62,7 persen remaja pernah melakukan hubungan badan atau dalam istilah remaja ML (making love). Survei KPA yang dilakukan terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia juga menemukan 93 persen remaja pernah berciuman, dan 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan oborsi (press release Kementrian Informasi dan Komunikasi, tahun 2010). Seks bebas merupakan perilaku resiko tinggi penularan HIV dan Infeksi Menular Seksual, asumsinya bila remaja Indonesia saat ini sangat mudah melakukan aktifitas seks bebas maka penularan HIV dan IMS pun akan meningkat secara signifikan.

Dalam momen Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dan momen Malam Renungan AIDS Nusantara, kami ingin mengajak semua lapisan masyarakat dan komunitas anak muda :

  1. Mengundang, mengajak, dan meningkatkan kepedulian seluruh elemen masyarakat dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS. Mencegah dan melindungi masyarakat dari penularan HIV.
  2. Menciptakan dan memperluas lingkungan kondusif yang memberdayakan masyarakat sipil untuk berperan secara bermakna, sehingga stigma dan diskriminasi terhadap populasi kunci, ODHA dan orang-orang yang terdampak oleh HIV dan AIDS berkurang.
  3. Mendukung kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS yang  harus memperhatikan nilai-nilai agama, budaya, norma kemasyarakatan, menghormati harkat dan martabat manusia, serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.

Selain hal tersebut di atas ada permasalahan khusus yang penting diperhatikan :

  1. Lisensi wajib ARV yang dikeluarkan berdasarkan Peraturan Presiden akan segera berakhir masa perjanjiannya, di tahun 2011 untuk jenis Nevirapine, 2012 untuk Lamivudine, dan 2013 untuk Efavirenz. Bila masa Lisensi Wajib ARV ini tidak segera diperbarui maka Negara tidak bisa memproduksi ARV Generik, artinya ketersediaan ARV sebagai obat dalam terapi bagi ODHA akan terancam ketersediaannya, kalaupun tersedia maka harganya akan sulit terjangkau oleh ODHA karena berlaku harga Paten, yang bisa 10 kali libat dari harga generik bahkan lebih. ARV adalah obat yang digunakan dalam terapi bagi ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) dengan tujuan menekan jumlah HIV sehingga virus tidak secara signifikan merusak kekebalan tubuh orang yang telah terinfeksi oleh virus ini.
  2. Bila ketersediaan ARV ini terancam maka bisa dibayangkan 18.000 ODHA di Indonesia yang saat ini bergantung pada terapi ARV akan mengalami penurunan kualitas kesehatannya.
  3. Fenomena HIV dan AIDS adalah seperti gunung es, selain 18.000 ODHA yang telah terdata masih lebih banyak lagi orang-orang yang kemungkinan positif HIV belum terdata. Bila tidak ada jaminan ketersediaan ARV dalam hal ini dianggap obat untuk ODHA maka bisa diprediksi masyarakat dengan resiko tinggi akan enggan untuk melakukan VCT (tes HIV) karena dianggap percuma, kalaupun positif tapi obatnya tidak tersedia. Semakin banyaknya masyarakat dengan resiko tinggi enggan melakukan VCT maka akan menjadi tidak terkontrol perkembangan penularan HIV, mereka akan menularkan kepada semakin banyak orang, termasuk kepada pasangan-pasangan mereka (para istri atau suami). Bila seorang istri tertular dan hamil maka kemungkinan besar akan melahirkan bayi dengan positif HIV. Kedepan kita (Negara) akan semakin mengalami kesulitan untuk menanggulangi epidemi HIV dan AIDS di Indonesia.

Memperhatikan permasalahan khusus tersebut di atas kami merasa perlu melakukan Aksi Dukungan Lisensi ARV untuk Penanggulangan Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia. Aksi ini ingin mengingatkan berbagai pihak terkait baik Pemerintah khususnya Kementrian Kesehatan dan pihak-pihak Luar Negeri yang memiliki kewenangan atas Hak Paten ARV bahwa masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan adanya ketersediaan ARV Generik dengan tujuan untuk mencegah penularan HIV semakin tidak terkontrol yang menyebabkan terjadi epidemi HIV dan AIDS di Indonesia. Selain tentunya untuk keberlangsungan terapi bagi ODHA untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Aksi ini tidak hanya berhenti pada momen ini semata, tetapi kami secara bersama-sama seluruh elemen yang peduli akan terus melakukan advokasi untuk mengawal ketersediaan ARV Generik di Indonesia.

Kami berharap semua elemen masyarakat juga dapat berpartisipasi mendukung aksi ini untuk kepentingan bersama mewujudkan Indonesia Bebas AIDS 2015, seperti yang disepakati negara-negara di dunia dalam kesepakatan MDGs (Millenium Development Goals) Tahun 2015. Penanggulanag AIDS dan penyakit menular lainnya adalah satu dari 8 (delapan) tujuan MDGs.

Acara ini terselenggara atas kerjasama Forum Jejaring Peduli AIDS, Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku, After Care Mahameru Jawa Timur, Drug Free Community, Wahana Visi Indonesia, Surya Community, Citilink Creative Community, InsBreak Management, Paguyuban Cak & Ning Surabaya, dan MPM Honda.

Bapak Rachmat Hargono... Koordinator Forum Jejaring Peduli AIDS

Bapak Rachmat Hargono... Koordinator Forum Jejaring Peduli AIDS

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

2 thoughts on “Press Release MRAN “Indonesia Unite for AIDS”

  1. Menanggapi kampanye yg diadakan oleh DFC saya sangat senang sekali ttp lebih baik mengena sasaran misalnya ke daerah yang rawan HIV seperti ke Dolly dengan melakukan kampanye…gimana…?

    Suka

    • Sebelumnya terima kasih untuk komentar Sahabat Punkmungkas dan Sahabat Fherry Wu… kami menampilkan apa adanya pernyataan masyarakat… semoga menjadi hikmah bagi kita semua…

      Untuk Sahabat Rini… kegiatan MRAN ini bukan gawe DFC sendiri… DFC sendiri lebih bersifat semacam mengoraganisir acara… ada skala isu yang perlu kami prioritaskan yaitu berkaitan tentang Lisensi ARV… maka kemasan acaranya terbuka dengan harapan dapat diakses masyarakat banyak.

      DFC sebenarnya lebih konsen di bidang pengoraganisasian komunitas anak muda untuk peduli masalah narkoba… saat ini kita sedang konsen untuk melakukan persiapan Kajian Terapi dan Rehabilitasi Ketergantungan Narkoba.

      Untuk bidang AIDS mungkin kita belum terlalu banyak berbuat… kami melihat sudah sangat banyak lembaga yang bergerak langsung di bidang ini… jadi kami tidak ingin tumpang tindih kegiatan… kami lebih bersifat membantu saja…

      Untuk di daerah Dolly kemarin juga sempat didiskusikan antara Kepala Dinas Sosial dengan Forum Jejaring Peduli AIDS… sementara yang bisa kami lakukan mencoba memetakan potensi riil… Kami juga coba untuk membahas dengan Prodi Antropologi Unair untuk menyusun proposal observasi holistik termasuk tentang orientasi nilai pelaku-pelaku di Dolly… Sementara informasi ini yang bisa DFC sampaikan… Insya Allah sudah banyak lembaga yang pendampingan di Dolly.

      Mohon doanya… kita diberikan selalu kesehatan dan rejeki sehingga mampu berbuat lebih banyak…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s