Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Narkoba di Kalangan Masyarakat Miskin

Tinggalkan komentar

Banyak kalangan orang tua terutama ibu-ibu rumah tangga di masyarakat miskin tanpa sadar telah ketergantungan narkoba…

Masalah narkoba seringkali hanya dikaitkan dengan penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda, kalangan entertain, hingga pengusaha muda. Narkoba banyak diidentikan hanya dengan alkohol, heroin, sabu, ekstasi, kokain, dan atau ganja. Masyarakat diminta mewaspadai pergaulan putra-putrinya agar tidak terjerat rayuan pengedar narkoba, tetapi masyarakat tidak sadar bahwa sebagian besar masyarakat kita sebenarnya terjebak ketergantungan narkoba. Penyalahgunaan narkoba banyak terjadi pada kalangan orang tua, terutama di kalangan masyarakat miskin.

Apa sebenarnya narkoba??? Bolehkah mengkonsumsi narkoba???
Narkoba adalah obat, selama dikonsumsi untuk kebutuhan pengobatan dan sesuai dengan dosis yang dianjurkan maka narkoba diperbolehkan. Narkoba tidak diperbolehkan adalah bila dikonsumsi tidak sesuai untuk tujuan pengobatan dan atau tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan, dengan kata lain disebut penyalahgunaan narkoba. Prinsip obat ada dua, yang pertama dia memiliki fungsi meredakan, mengurangi, dan atau mengobati rasa sakit. Prinsip kedua setiap obat memiliki efek ganda yaitu berdampak pada kerusakan organ tubuh lain dan mempengaruhi kerja Susunan Saraf Pusat (SSP). Pengkonsumsian obat berlebihan juga akan menimbulkan ketergantungan karena setiap obat memiliki sifat peningkatan dosis pemakaiannya.

Pengamatan pada saat mengikuti baksos pengobatan gratis banyak didapati masyarakat yang mengeluhkan sakit pusing, linu, nyeri, dan sejenisnya, yang sebenarnya adalah karena faktor kecapekan, kekurangan vitamin B, dan atau stres. Pada masyarakat di desa seringkali bila berobat minta diinjeksi kalau tidak diinjeksi pusing-pusing dan nyerinya tidak hilang. Cairan yang diinjeksikan sebenarnya bukanlah obat melainkan vitamin B, yang memang dibutuhkan oleh mereka yang kekurangan vitamin B dan secara langsung memang bisa mengurangi rasa nyeri. Beberapa dokter/tenaga medis terkadang juga memberikan obat kelompok depresan pereda rasa sakit kepada pasien yang datang dengan keluhan pusing dan atau nyeri. Permasalahannya adalah perilaku pasien yang sakit sedikit langsung mengkonsumsi obat depresan tersebut. Obat pereda rasa sakit banyak juga dijual bebas di apotik dan atau toko obat. Tanpa sadar masyarakat banyak mengalami ketergantungan obat depresan ini. Stres akibat tekanan ekonomi pada kelompok masyarakat/keluarga juga menjadi penyebab utama keluhan pusing dan nyeri. Kondisi ini memperparah perilaku pengkonsumsian obat di kalangan masyarakat miskin.

Pengkonsumsian obat secara berlebihan akan mengakibatkan ketergantungan karena tubuh beradaptasi dengan obat yang masuk, sehingga dibutuhkan dosis yang lebih besar (secara kuantitas) untuk mendapatkan efek yang sama mengurangi rasa sakit. Bila terus berlanjut seringkali obat tersebut sudah tidak mampu memberi efek mengurangi rasa sakit sehingga harus beralih ke zat/obat lain yang sifatnya lebih kuat. Bila kita mau sedikit melihat lingkungan sekitar kita, pasti akan banyak kita temukan masyarakat terutama di kalangan ibu-ibu dari keluarga miskin yang secara tidak disadari menjadi korban penyalahgunaan obat depresan (pereda rasa pusing dan nyeri).

Dampak lanjutan dari ketergantungan obat depresan ini adalah kerusakan pada hati dan ginjal. Organ hati secara sederhana berfungsi membersihkan darah dalam tubuh kita, bila darah kita banyak terkontaminasi oleh zat-zat yang dikandung obat maka kerja hati akan lebih keras bahkan zat-zat tersebut bisa menyebabkan peradangan pada organ hati yang biasa disebut juga dengan hepatitis, bila tidak segera mendapatkan pengobatan dengan benar bisa berlanjut pengerasan hati (siriosis) atau biasa disebut kanker hati. Organ ginjal secara sederhana juga bertugas untuk menyaring racun dari semua zat yang masuk ke dalam tubuh dan dikeluarkan lewat urine (cairan kencing). Bila berlebihan mengkonsumsi obat dimana zat-zat yang dikandungnya tidak mudah dilarutkan maka kerja organ ginjal pun semakin berat maka beresiko terkena gagal ginjal.

Bila sudah ketergantungan obat depresan ini maka juga akan mengalami gejala putus obat (withdrawal syndrome) atau yang biasa disebut sakaw, gejala gangguan fisik dan psikis yang timbul akibat menghendaki atau dikuranginya pemakaian zat. Gejala sakit yang muncul seperti nyeri-nyeri dan pusing yang berat, badan demam panas dingin, tulang-tulang semua terasa nyeri, dan juga gelisah.

Pengalaman pribadi, ibu saya meninggal karena siriosis (kanker hati) karena pola perilaku dalam mengkonsumsi obat-obatan pereda pusing dan nyeri berlebihan. Hampir bisa dipastikan tiada hari tanpa obat depresan. Pada saat bulan puasa otomatis harus berhenti mengkonsumsi obat saat waktunya puasa, yang tentunya berdampak pada gejala putus obat, kesakitan yang amat sangat. Puncaknya dipertengahan bulan puasa anfal dan masuk rumah sakit dalam kondisi koma, dan tepat seminggu sebelum lebaran berpulang dengan vonis meninggal karena kanker hati.

Semoga tulisan ini bisa menjadi informasi bagi kita semua untuk tidak tergantung pada obat-obatan depresan, seperti pereda rasa sakit pusing, linu, dan nyeri. Rasa pusing, linu, dan nyeri seringkali diakibatkan pola hidup yang tidak sehat serta asupan gizi yang buruk. Mulailah ditata pola hidup kita, olah raga, istirahat yang cukup, mengkonsumsi sayur dan buah yang cukup, mengkonsumsi air putih minimal 5 (lima) liter perhari, dan menghindari stres dengan mendekatkan diri pada yang Kuasa. Bila sudah mengalami ketergantungan mulailah dikurangi secara perlahan dan pasti, bila pusing dan nyeri bisa ditahan lebih baik ditahan, diusahakan segera istirahat dan minum air hangat. Banyak cara meredakan rasa pusing dan nyeri tanpa harus mengkonsumsi obat.

Ketidaktahuan masyarakat terutama masyarakat miskin bagaimana seharusnya mengkonsumsi obat dengan baik dan benar menjadikan masyarakat sebagai korban penyalahgunaan obat. Obat tidak pernah salah karena dibutuhkan untuk terapi medis, yang salah adalah perilaku manusianya yang mengkonsumsi obat tidak sesuai kebutuhan. Tidak semua gejala sakit perlu obat, terkadang kondisi psikis yang tidak baik (stres) juga menimbulkan gejala sakit.

Memori untuk Bunda tercinta… semoga tidak ada lagi bunda-bunda lain yang merasakan sakit seperti bunda… aku cinta bunda… semoga damai bersama kekasih bunda.. ayah tercinta di alam sana di sisi Allah SWT…

Mila M. Djamhari

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s