Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Strategi Adaptif Dalam Pemberdayaan Masyarakat

2 Komentar

Pengembangan atau pemberdayaan masyarakat pada berbagai bidang pada dasarnya sama, bagaimana mengoptimalkan sumber daya  yang ada di masyarakat tersebut, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya pembiayaan. Fasilitator atau pendamping dalam program pemberdayaan masyarakat hanyalah mediator semata, secara penuh peran perencana, pelaksana, dan pengawasan ada di kewenangan dan tanggung jawab masyarakat dampingan. Fasilitator seyogyanya memiliki kemampuan pemetaan potensi baik hambatan dan dukungan pengembangan masyarakat. Fasilitator juga harus memiliki kapasitas untuk melakukan Pembangunan Motivasi dan Orientasi pada masyarakat dampingan, juga mampu menjadi provokator untuk mobilisasi potensi SDM dalam bentuk pengorganisasian masyarakat. Fasilitator juga harus memiliki kemampuan pengembangan jejaring dan akses. Pada dasarnya masyarakat menjadi miskin dan atau termarginalkan karena ketidakmampuan mereka mendapatkan akses pengembangan diri dan komunitas.

Secara sederhana ada dua model pemerdayaan yaitu program swadaya mandiri dan program bantuan hibah atau proyek. Meskipun pada dasarnya strategi yang dilakukan adalah sama, pemetaan potensi, membangun motivasi dan orientasi pembangunan/pemberdayaan, selanjutnya memfasilitasi pengorganisasian masyarakat, di dalamnya adalah capacity building dan pengembangan jejaring dan akses. Pada pemberdayaan berdasarkan adanya program bantuan hibah (proyek) fasilitator terikat oleh batasan-batasan target waktu dan capaian, sehingga seringkali banyak kondisi dipaksakan tidak berjalan natural, seperti dalam memfasilitasi pengorganisasian masyarakat. Fasilitator seringkali terjebak “penunjukan” pelaku-pelaku yang dominan selalu berperan disetiap ada proyek, fasilitator tidak cukup waktu dan atau keleluasaan untuk mencari dan memotivasi anggota masyarakat lain yang lebih memiliki kemampuan dan kerelawanan (komitmen).

Pada program pemberdayaan berdasarkan kerelawanan (swadaya dan mandiri) capaian program/kegiatan akan sangat tergantung dari kemampuan finansial pelaku-pelakunya. Bila secara finansial mampu maka pencapaian target kerja optimal, tetapi bila kemampuan finansial terbatas maka pelaksanaan kegiatanpun terbatas sehingga ada target yang tercapai ada yang tidak. Keterbatasan finansial bukan berarti tidak bisa melakukan pekerjaan, kekurangan ini kami imbangi dengan pengembangan jejaring kerja sama sehingga pekerjaan atau kegiatan tetap dapat terlaksana dengan berbagi potensi, missal kami menyediakan SDM pelaksana, satu lembaga menyediakan tempat, satu lembaga lagi membantu akses sponsorship, dan satu lembaga lagi menyediakan pendukung acara secara gratis.

Berdasarkan hal di atas maka di setiap fasilitasi pemberdayaan masyarakat tidak selalu sama antara satu kelompok atau komunitas, prinsipnya adalah Strategi Adaptif, penyesuaian-penyesuaian pada situasi dan kondisi setempat. Pengembangan masyarakat artinya titik utamanya adalah potensi anggota masyarakat itu sendiri, maka strategi adaptif yang biasa saya lakukan adalah menyesuaikan dengan ketersediaan SDM pelaku “organisasi” pemberdayaan.

Selama ini kita sangat terbiasa melihat banyak orang-orang yang hanya pintar berbicara usulan-usulan program tetapi saat dituntut untuk berkomitmen mencapai usulan tersebut seringkali mengelak dengan alasan-alasan yang tidak penting, sibuk. Sebagai salah satu bentuk strategi adaptif adalah memberlakukan sebuah kesepakatan bersama, setiap yang mengajukan usulan program kegiatan maka dia memiliki kewajiban untuk menjadi penanggungjawab pelaksanaan dengan kata lain sebagai koordinator usulan program tersebut. Dilarang usul bila tidak bersedia tanggung jawab. Seringkali seseorang malu untuk mengusulkan sesuatu karena ketidakmampuan dia membuat rencana besar dan atau mengemas dalam retorika hebat, sehingga potensinya selalu tertutup oleh orang-orang yang cuma modal omong besar. Meskipun usulan itu sangat sederhana akan lebih bermakna bila terwujud dari olah rasa dan karyanya. Inti dari pemberdayaan masyarakat adalah Eksistensi Manusia maka mengakui, memberikan kepercayaan. dan menghargai adalah modal besar untuk orang atau masyarakat tersebut mengembangkan diri lebih baik.

Secara singkat strategi adaptif pemberdayaan masyarakat versi Drug Free Community :

  1. Pemetaan potensi hambatan, dukungan, dan peluang
  2. Pengorganisasian berdasarkan komitmen
  3. Motivational Building dan Capacity Building
  4. Pengembangan jejaring dan akses kerja sama
  5. Memanusiakan manusia bekerjasama berdasarkan kepercayaan dan saling menghargai

Surabaya, 4 Desember 2010

Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

2 thoughts on “Strategi Adaptif Dalam Pemberdayaan Masyarakat

  1. tetapi tampaknya orang yang akan membantu harus melihat dulu komunitas macam apa yang akan mereka bantu, apakah ada benefit, advantage, faedah, manfaat, atau setidaknya hal yang mereka lakukan tidak akan mengganggu kepentingan umum

    apakah masih ada pihak yang mau membantu komunitas yang ingin melakukan legalisasi ganja? jika masih ada, silahkan saja

    buat admin dan penulis, jika kurang berkenan dengan koment saya silahkan melarang saya untuk memberikan koment, namun saya telah berhenti memberi koment di blog komunitas2 ga penting itu, dan saya berharap melalui blog ini saya bisa berdiskusi dengan pihak yang saya pikir dapat membantu saya mewujudkan cita2 saya, yaitu menghapus segala bentuk legalisasi narkoba, dengan rencana awal untuk menggagalkan program HR dan program legalisasi ganja yang semakin gencar diteriak2kan komunitas itu

    saya berharap ada yang menanggapi karena sepertinya saya tidak mungkin bisa berdiskusi atau berdebat jika tidak mempunyai sekutu atau pihak oposisi
    thanks bwt artikelnya, setidaknya saya semakin yakin di pihak mana seharusnya saya berada, di dunia ini tidak pernah ada keadilan, semua orang harus memutuskan di pihak mana dia berada

    Suka

    • Sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran dan hati nurani pastinya kita harus memiliki sikap… tulisan-tulisan kami sudah menunjukan sikap kami…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s