Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Rekomendasi dan Rancangan Program CBT

2 Komentar

Rekomendasi dan Rancangan  Program CBT di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi

Pelaksana Harian Badan Narkotika Propinsi Jawa Timur

2010

Dari temuan data hasil kajian cepat dapat dipetakan permasalahan narkoba di Kecamatan Genteng yang harus menjadi skala prioritas untuk segera ditangani;

  1. Penyalahgunaan obat batuk dextro di kalangan pelajar di Kecamatan Genteng
  2. Penyalahgunaan prosedur pengkonsumsian subutex sebagai terapi subtitusi
  3. Kurang pedulinya pencandu yang teridentifikasi positif HIV untuk melakukan kontrol kesehatan
  4. Kebutuhan terapi dan rehabilitasi
  5. Tidak optimalnya program P4GN di Kabupaten Banyuwangi karena tidak adanya alokasi anggaran khusus.

Penyalahgunaan dextro di kalangan pelajar di Kecamatan Genteng cukup marak bahkan sudah mulai terjadi pemaksaan antar pelajar. PKJM-KKO mengungkapkan bahwa 2 (dua) tahun terakhir ini pasien gangguan jiwa karena bahan adiksi banyak didominasi dari panyalahguna dextro kurang lebih jangka pemakaian dua tahun, sebagian besar mereka dari Kecamatan Muncar. Kalau dibiarkan maka kondisi serupa akan dialami oleh pelajar dari Kecamatan Genteng. Parahnya lagi adalah akan muncul pecandu-pecandu baru di mulai dengan penyalahgunaan dextro, yang dijual bebas di apotik dan toko obat.

Subutex sebagai terapi subtitusi dalam rangka mengurangi dan atau mencegah penularan HIV sebagai dampak dari penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik, yang seharusnya dioral di bawah pengawasan dokter terlatih ternyata disalahgunakan dengan tetap disuntik. Hal ini akan menyebabkan penggumpalan dan pecah pembuluh darah, benjolan pada kelenjar getah bening, dan kematian akibat OD dan atau intoksikasi.

Jumlah pecandu narkoba positif HIV di Kabupaten Banyuwangi ada 104 orang, yang tidak teridentifikasi jauh lebih besar. Sedikitnya jumlah pecandu putaw dan sabu di Kecamatan Genteng 140 orang, mereka sangat beresiko tertular HIV dikarenakan modus penyalahgunaan putaw dan sabu adalah menggunakan jarum suntik. Pada saat observasi lapangan setidaknya kami menemukan lebih dari 10 pecandu positif HIV, bahkan dua diantaranya dalam kondisi kritis dan jarak dua minggu saat laporan ini ditulis kami mendapatkan informasi keduanya sudah meninggal. Disampaikan dari Klinik/Poli VCT RSUD Genteng bahwa ODHA dari kalangan pecandu adalah kelompok yang jarang melakukan control kesehatan.

Terapi dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba di Kecamatan Genteng sudah menjadi kebutuhan baik bagi pecandu, keluarga, dan atau masyarakat. Pecandu pada dasarnya juga sudah lelah secara fisik dan ekonomi mereka ingin berhenti, meskipun sebagian dari mereka lebih memilih terapi subutex atau metadon karena tidak tahan sakit saat pemutusan obat. Orang tua dan atau keluarga juga lelah dan trauma dengan kondisi anggota keluarganya yang kecanduan. Masyarakat juga semakin ketakutan bila itu akan menimpa anak atau saudara mereka.

Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di Kabupaten Banyuwangi tidak optimal karena tidak ada alokasi anggaran yang menyertai pembentukan Badan Narkotika Kabupaten. Program P4GN masuk di masing-masing kedinasan, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Dinas Sosial. Sedangkan BNK sendiri di dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan mengalami kesulitan dalam mengakses anggaran. Hasil FGD di kalangan Stakeholder Kabupaten tidak dapat menjanjikan program-program penanggulangan narkoba di luar rutinitas yang sudah dilakukan karena terkait dengan kebijakan secara keseluruhan Pemerintah Daerah Banyuwangi sendiri, terlebih baru berlangsung suksesi Kepala Daerah atau Bupati.

5.1. REKOMENDASI

Dari identifikasi permasalahan di atas maka rekomendasi kami sebagai berikut;

  1. Penyelenggaraan Terapi dan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat atau Community Based Therapy (CBT) secara komperhensip dan holistik di Kecamatan Genteng.
  2. Advokasi kebijakan perencanaan program pembangunan daerah Kabupaten Banyuwangi yang berpihak pada program P4GN.

Penyelenggaraan program CBT sudah menjadi kebutuhan yang mendesak memperhatikan perkembangan kasus narkoba yang terjadi di Kecamatan Genteng. Program CBT sendiri bukan hanya semata untuk pemulihan pecandu aktif tetapi juga untuk pemberdayaan pasca pemulihan pecandu dan keluarga,  penguatan ketahanan keluarga dan atau masyarakat, penguatan ketahanan sekolah, dan pengembangan jejaring kerja sama untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Masalah narkoba bukan masalah sederhana yang hanya bisa diselesaikan oleh masyarakat sendiri, masalah narkoba adalah masalah besar yang melibatkan berbagai aspek, mulai aspek medis, sosial budaya, ekonomi, keamanan, dan hukum. Penyelenggaraan CBT perlu dukungan dari berbagai pihak terutama stakeholder Kecamatan dan Kabupaten. Diharapkan ada upaya-upaya yang mendorong adanya kebijakan dalam penyusunan perencanaan program pembangunan daerah yang memasukkan program P4GN di dalam renstradanya. Penguatan BNK meliputi penguatan kelembagaan, penguatan SDM, dan penguatan anggaran merupakan bagian dari kebijakan yang akan mendukung keberhasilan program CBT. Permasalahan narkoba dan penanggulanggannya diharapkan satu pintu dengan mengintegrasi dan atau mensinergikan seluruh dinas dan lembaga terkait dalam Master Schedule P4GN Kabupaten Banyuwangi.

5.2. RANCANGAN PROGRAM CBT

Rancangan Program Terapi dan Rehabilitasi Berbasis Komunitas atau Community Based Therapy (CBT) dilakukan secara komperhensip dan holistic dimana keterlibatan masyarakat menjadi penentu keberhasilan dari program CBT ini. Pemerintah dalam hal ini Badan Narkotika Nasional (BNN) beserta jajarannya BNNP/BNK dan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi adalah fasilitator atau mediator yang memfasilitasi upaya-upaya yang diselenggarakan dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan oleh masyarakat. Sebagai awal sebuah program CBT diharapkan BNN dan atau Pemda memfasilitasi bukan saja penguatan SDM (Capacity Building) pelaksana CBT di Kecamatan Genteng dengan pelatihan-pelatihan yang menunjang pelaksanaan CBT, misal pelatihan konselor, pengorganisasian, penjangkauan, hingga advokasi hukum, tetapi juga memberikan dukungan pembiayaan sebagai stimulan. Berikut ini adalah tabel dari Rancangan Pengembangan Program community Based Therapy (CBT);

Rancangan program pengembangan CBT ini secara sederhana dibagi dalam 6 (enam) aspek secara bertahap dan juga simultan, yaitu; Workshop CBT, Pemulihan Pecandu, After Care, Penguatan Ketahanan Keluarga dan Masyarakat, Penguatan Ketahanan Sekolah, dan Networking. Workshop CBT bertujuan untuk membangun kesepahaman dan komitmen kepedulian dimana output nya adalah terbentuk Relawan CBT, yang akan menjadi tulang punggung pelaksanaan CBT di Kecamatan Genteng. Relawan CBT ini adalah masyarakat Kecamatan Genteng sendiri yang memiliki kepedulian terhadap pelaksanaan program CBT. Setelah terbentuk relawan maka dilakukan penguatan kapasitas relawan di dalam penanganan masalah CBT dengan pembekalan/pelatihan tentang pengorganisasian, konseling, penjangkauan, dan advokasi hukum. Workshop ini juga bertujuan untuk menyusun Master Plan Strategi dan Rencana Kerja CBT.

Tahap berikutnya adalah Pemulihan Pecandu dan After Care pasca pemulihan, tahapan ini bertujuan untuk memutus ketergantungan narkoba (rehabilitasi medis), pemulihan psikis dan sosial, dan dilanjutkan pemberdayaan sosial ekonomi. Rehabilitasi medis atau detoksifikasi bisa dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas Genteng Kulon atau RSUD Genteng. Penguatan kapasitas paramedis untuk menguasai penatalaksanaan pada penyalahgunaan narkoba menjadi prioritas. Jangka waktu untuk detoksifikasi adalah antara 1 (satu) minggu – 1 (satu) bulan selanjutnya dikembalikan kepada masyarakat dalam hal ini adalah Relawan CBT untuk membangun motivasi dan orientasi tujuan hidup serta pembekalan-pembekalan ketrampilan usaha dan atau wirausaha.

Penguatan ketahanan keluarga dan masyarakat serta penguatan ketahanan sekolah dapat dilakukan secara bersamaan dengan tahapan pemulihan dan after care karena sasarannya berbeda. Tujuan dari penguatan ketahanan keluarga dan masyarakat adalah (1) Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk memberikan dukungan pada pemulihan pecandu; (2) Menciptakan lingkungan masyarakat yang aman bagi tumbuh kembang anak dan remaja; dan (3) Advokasi Hukum dalam bentuk pendampingan sadar hukum.

Selain penguatan ketahanan pada keluarga dan masyarakat perlu juga dilakukan penguatan ketahanan sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari lingkungan tumbuh kembang anak dan atau remaja. Ditemukannya kasus penyalahgunaan dextro dan sex bebas di lingkungan pelajar maka sudah saatnya sekolah mulai turut peduli di dalam pengawasan dan pembinaan siswa berkaitan dengan pencegahan dan penanganan kasus bila siswa terlibat penyalahgunaan dan atau bermasalah dan beresiko tinggi terpengaruh penyalahgunaan narkoba. Penguatan kapasitas guru terhadap masalah narkoba dan pendampingan/konseling perlu diberikan.

Aspek atau tahapan terakhir adalah networking atau pengembangan jaringan guna mensinergikan segala potensi untuk mewujudkan misi dari CBT khususnya dan pemberdayaan masyarakat pada umumnya. Pengembangan jaringan dilakukan untuk memperoleh akses informasi dan pembiayaan. Pengembangan jaringan ini bisa diperoleh dari lembaga pemerintah yang khusus menangani masalah narkotika yaitu BNN beserta jajaran vertikalnya BNNP Jawa Timur dan BNNK Banyuwangi. Selain itu pengembangan jaringan bisa juga dilakukan dengan menggandeng Coorperate Social Responsible (CSR) dan atau LSM/NGO baik dari dalam dan atau luar negeri.




FGD Stakeholder Kecamatan

FGD Stakeholder Kecamatan dibuka Bapak Camat dan Kapolsek Genteng

FGD Stakeholder Kabupaten Banyuwangi

FGD Stakeholder Kabupaten Banyuwangi dihadiri Kalakhar BNK

Ditulis oleh Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Iklan

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

2 thoughts on “Rekomendasi dan Rancangan Program CBT

  1. program yang sangat bagus , ini salah satu cara untuk membuat masyarakat menjadi imun terhadap narkoba , saya ingin tahu strategi dan langkah langkahnya dalam pembentukan CBT.

    Suka

    • Langkah CBT yang pertama tentunya adalah asesmen (kajian permasalahan dan potensi dukungan), setiap komunitas pasti berbeda potensinya. Standar konsep pemberdayaan masyarakat maka langkah kedua adalah penguatan-penguatan kelembagaan/potensi yang ada. Langkah ketiga pengembangan jaringan dan akses untuk pemberdayaan potensi. Salah satu model sesuai hasil kajian seperti yang kami sampaikan tersebut untuk contoh kasus di Kecamatan Genteng Banyuwangi.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s