Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Siapa Takut Bikin Rehabilitasi Versi “Sakkareppe Dewe” (Antropologi)

Tinggalkan komentar

Masih ingat bagaimana saat aku diterima sebagai Sekretaris Eksekutif DPC GRANAT (Juni 2001) sama sekali nol pengetahuan tentang narkoba apalagi tentang terapi ketergantungan narkoba… sebagai SE mestinya aku cuma bertanggungjawab pada operasional sekretariat, yang saat ini menjadi sekretariat DFC. Dengan latar belakang pekerjaan sebelumnya di bidang community development dan didukung latar belakang “skol” antropologi ditambah lagi aktifitas aku di berbagai organisasi sosial dan politik, sekedar menjadi SE bukanlah sebuah pilihan yang baik. Dewan Pimpinan Cabang Kota Surabaya dan Dewan Pimpinan Daerah Jawa Timur GRANAT memberi kesempatan banyak buat aku mengaktualisasi diri di GRANAT.

Langkah pertama untuk belajar tentang narkoba adalah dari para sahabat aku, yang ternyata selama ini mereka adalah pecandu. Selama ini aku memang tidak pernah mengerti terlalu banyak kehidupan mereka. Langkah kedua, belajar dari internet yang saat itu belum cukup banyak memberikan informasi tentang narkoba. Langkah ketiga, duduk mendengarkan kuliah private dari para pengurus GRANAT baik tingkat Surabaya maupun tingkat Jawa Timur. Semua tentang narkoba mulai dari aspek medis, sosial, hukum, dan rehabilitasi dituangkan ke dalam otak aku… Apakah hanya cukup dengan mendengarkan mereka???? jawabnya pasti adalah TIDAK.

Pooling-pooling saat sosialisasi bahaya narkoba aku lakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan pengetahuan dan kasus narkoba. Focus Group Disscusion di kalngan pecandu adalah ilmu yang berharga. Kontrol hukum di Kepolisian, Kejaksaaan, dan PN adalah santapan wajib, sampai kajian kasus proses peradilan narkoba di lingkungan Kota Surabaya berdasarakan data kualitatif mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, dan PN. Investigasi laporan dari masyarakat tentang peredaran gelap narkoba sampai ikut dalam tim razia narkoba di diskotik adalah ilmu tersendiri buat aku.

Tentang Rehabilitasi, DPD GRANAT Jatim pernah memilikinya. Drop In Center Yayasan Insan Pengasih Indonesia, Inabah Suralaya, dan Wahana Kinasih sangat terbuka untuk aku belajar pada mereka. Kajian tentang rehabilitasi di Surabaya pun pernah aku lakukan. Apakah cukup puas sampai disini???? jawabnya pasti TIDAK. Mengakomodasi pecandu-pecandu yang ingin berhenti dan menjadi relawan GRANAT adalah laboratorium hidup tentang dunia pecandu dari dekat. Hidup sehari-hari bersama mereka dengan segala tipu daya dan manipulasi mereka menjadi pemahaman baru tentang “kecerdasan” mereka. Sebagian besar dari mereka berusia remaja/muda. Segala daya dan upaya untuk menghentikan mereka dari kecanduan dengan pemahaman yang terbatas aku miliki maksimal aku lakukan.

Ilmu tidak pernah gratis, semua butuh proses dan biaya. Kehilangan barang-barang kantor karena dicuri pecandu adalah sebuah nilai yang harus ditebus, selain waktu, tenaga, dan pikiran aku untuk pendampingan sekaligus observasi mereka. Aku tidak ingin berbangga apalagi untuk sombong bahwa dengan kerjasama yang cukup manis di seluruh jajaran Pengurus dan Relawan GRANAT, kami “berhasil” menghentikan kecanduan sebagian dari mereka. Saat ini mereka cukup mandiri tanpa bantuan dana dan pelatihan dari lembaga manapun selain dari GRANAT pada saat mereka menjadi bagian dari GRANAT. Ada yang jadi broker, ada yang jadi tukang service komputer, dan ada yang jadi manager marketing salah satu property, bahkan saat ini mereka masih saling mendukung sesamanya dengan membentuk kelompok usaha bersama. Menjadikan mereka berhenti dan memotivasi mereka untuk berdaya adalah hal terindah yang aku dapatkan dari sekian tahun di dunia penanggulangan narkoba. Apakah itu sudah cukup???? Manusia yang berpikir dan selalu ditambah ilmunya tiap hari, akan menjadi zalim bila hanya puas berbuat sampai disini.

House of Rangga... KUBE alumni relawan DPC GRANAT Surabaya

House of Rangga… KUBE alumni relawan DPC GRANAT Surabaya

Aku sadar bahwa dulu banyak dari “klien” aku adalah anak muda maka pencarian ilmu tentang ketergantungan narkoba di kalangan orang dewasa menjadi sebuah target berikutnya. Pemahaman tentang pecandu di kalangan dewasa banyak belajar di lingkungan para sahabat aku tetapi itu belum cukup. Tidak lagi beraktifitas di GRANAT Kota Surabaya tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar dan belajar tentang narkoba dan terapi ketergantungan narkoba. Bersama bendera DFC ada kesempatan kembali untuk melakukan kajian dan pengembangan tentang terapi ketergantungan narkoba. Bila magang di lembaga rehabilitasi resmi milik pemerintah ditolak mentah-mentah, apakah harus berhenti untuk berbuat, jawabnya adalah tidak.

After Care Irba Pitoe/Mahameru menjadi sebuah kawah candradimuka pemahaman pragmatis aku tentang dunia pecandu dikalangan usia dewasa. Banyak terjadi perdebatan antara aku yang non pecandu dengan kalangan pecandu tentang masalah adiksi. Tanpa mengurangi hormat dan menghargai perspektif mereka, aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Dengan latar belakang antropologi (ilmu tentang manusia/nilai) dan community development mempengaruhi perspektif aku memahami tentang masalah adiksi.

Mantan Pecandu (House of Rangga - After Care Mahameru Jatim) mengerjakan pemesanan papan nama

Mantan Pecandu (House of Rangga – After Care Mahameru Jatim) mengerjakan pemesanan papan nama

Terima rental, percetakan, sampai service komputer dan elektronik. Keterbatasan modal bukan berarti alasan untuk berhenti berdaya

Terima rental, percetakan, sampai service komputer dan elektronik. Keterbatasan modal bukan berarti alasan untuk berhenti berdaya

Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tentang terapi dan rehabilitasi ketergantungan narkoba, tanpa mengurangi tanggungjawab aku sebagai Leader DFC. Apa yang aku lakukan masih dalam garis organisasi, yang aku yakin akan didukung oleh tim DFC. Siapa takut bikin terapi dan rehabilitasi ketergantungan narkoba versi aku, versi “sakkareppe dewe” alias versi antropologi (orientasi Nilai). TR Holistik… Kajian dan pengembangan terapi berbasis antropologi.

Catatan :

Terapi ini adalah terapi alternatif dan tidak rawat inap, kecuali saat proses detoksifikasi (kurang dari satu bulan).

Hormat aku untuk Guru-guruku di bidang Narkoba dan Comdev :

1. Alm. Bapak Sony (Care Internasional)

2. Alm. Bapak Eddy Pirih (Ketua DPD GRANAT Jatim)

3. Alm. Bapak Slamet, SH. (Mantan Jaksa, Dosen Pasca Sarjana Hukum UNAIR, dan DPD GRANAT Jatim)

4. Bapak Sonny Wibisono (Mantan Ketua DPC GRANAT Surabaya)

5. Bapak dr. Eddy Sofyan Herman (dokkes Polrestabes Surabaya dan DPD GRANAT Jatim)

6. Bapak Singky Suwadji (Mantan Sekretaris DPD GRANAT Jatim)

7. Bapak Henry Yosodiningrat, SH. (Ketua DPP GRANAT)

8. Sdr. Ibrahim (mantan Staf DIC YIPI)

9. Sahabatku (Legowo, Arman, Totok, dan Fadjar)

10. Seluruh Relawan GRANAT termasuk di dalamnya yang mantan pecandu

11. Seluruh Relawan DFC (kalian juga guru buat aku)

12. Sahabat sekaligus mitra kerjaku (Made dan Rollys)

13. Bapak dr. Rahmat Hargono (Guru Pertamaku tentang AIDS)

14. Bapak Dede Oetomo M.Pd. (Guruku tentang NILAI dan HEGEMONI)

15. Bapak dr. Hisnisdarsyah (guru sekaligus mitra kerja)

Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s