Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Sebuah Dilema Pemulihan dan Pemberdayaan Pecandu di After Care Mahameru Jawa Timur

3 Komentar

Ya Allah… hamba tahu ini adalah ujian Mu karena Engkau mengetahui hamba mampu menjalani ujian ini…

After Care Mahameru dulunya adalah After Care Irba Pitoe, digagas oleh BNP Jawa Timur bersama LSM-LSM peduli Narkoba dan AIDS, sepengetahuan saya ada East Java Action (EJA), Yayasan ORBIT, YAKITA,  Yayasan Bina Hati, dan Yayasan Sadar Hati. Aftercare merupakan program pembinaan lanjutan dari Pusat Terapi & Rehabilitasi Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional.

Oktober 2009, Drug Free Community (DFC) dalam hal ini diwakili oleh saya selaku Leader DFC diundang hadir pada pertemuan Aftercare Irba Pitoe untuk diajak serta mendukung program tersebut. Pada pertemuan tersebut ada pergantian pengurus, salah satunya adalah pergantian Koordinator Aftercare, dari saudara Rudy W (EJA) ke saudara Made Wikandana. Pada saat itu saya ditawari untuk menjadi pengurus, tetapi saya keberatan karena kebetulan saya bukan pecandu. Saya memberikan komitmen baik sebagai pribadi dan secara organisasi (DFC), saya akan mendukung program ini. Dengan latar belakang pendidikan, organisasi, dan pekerjaan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat, saya berharap bisa memberikan kontribusi yang baik.

Sebagai sebuah program Negara tentunya After Care Irba Pitoe ini mendapatkan sarana penunjang pembinaan, baik berupa dana dan natural, dalam hal ini adalah hibah seperangkat alat broadcast (Keputusan Kepala BNN No: KEP/21/XII/2009/BNN). Pada pertengahan tahun 2010 ada masalah dalam perkembangannya, diindikasikan banyak pengurus dan anggotanya  masih aktif mengkonsumsi narkoba. Puncak permasalahannya adalah tidak dijinkan After Care Irba Pitoe menempati Rumah di Jalan Irian Barat No. 7 (Irba Pitoe) sebagai Sekretariat. Pada saat itu, baik Pembina dan LSM-LSM penggagas tidak ada yang memberikan solusi bagaiamana kelanjutan program ini, bahkan atas dugaan penjualan asset, maka seluruh asset multi media broadcast disimpan di BNK Surabaya. Inilah hal yang aneh, mengapa harus disimpan di BNK Surabaya bukan di BNP Jawa Timur, sedangkan Aftercare ini adalah program binaan BNP Jawa Timur.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen kepedulian pada penanggulangan narkoba sejak tahun 2001 (saat itu aktif di GRANAT), saya mencoba memfasilitasi bagaimana program yang sudah dibiayai Negara ini tidak sia-sia. Ketidakpedulian banyak pihak terhadap kesinambungan After Care Irba Pitoe ini bisa berdampak pada pembubaran atau matinya After Care Irba Pitoe, yang artinya asset yang berharga puluhan atau katanya ratusan juta ini pun bisa jadi akan hangus. Kemudian saya berkoordinasi dengan Kepala Bidang Terapi dan Rehabilitasi BNP Jawa Timur sebagai Pembina After Care Irba Pitoe untuk menyimpan asset tersebut di BNP.

Penarikan atau pengunduran diri pengurus After Care Irba Pitoe terjadi besar-besaran meskipun saat review pengurus mereka menyatakan bersedia tetapi ternyata tidak diikuti dengan tindakan, hingga tinggal beberapa orang saja, terakhir Koordinatornya harus ke Bali karena mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan pantas. Pengunduran diri juga dikarenakan bahwa sebagian anggota adalah klien rumatan metadon. Sebuah dilema satu sisi bahwa Aftercare adalah program lanjutan pasca tertapi artinya pengurus dan atau anggota aftercare seharusnya adalah sudah terlepas dari ketergantungan narkoba, tetapi kenyataannya sebagian besar justru mereka masih mengikuti program subtitusi metadon.

Sebuah pemberdayaan masyarakat sepengetahuan saya berarti adalah sebuah pengorganisasian masyarakat, maka penguatan pengorganisasian menjadi hal yang utama pendampingan yang saya lakukan. Organisasi berarti ada lembaga (seyogyanya berbadan hukum), pengurus dan anggota minimal 3 (tiga) orang (Ketua, Sekretaris, dan Bendahara), ada aturan/anggaran dasar, ada kesekretariatan, dan ada program kerja.  Satu persatu saya coba fasilitasi untuk menyelesaikan permasalahan After Care Irba Pitoe. Kelembagaan sebelumnya sudah diaktakan pada Maret 2010 dengan nama After Care Irba Pitoe, dikarenakan tidak lagi menempati kesekretariatan di jalan Irba No. 7 maka mereka merubahnya menjadi After Care Mahameru, yang segera akan dicatatkan kembali perubahan nama ini pada notaris. Pencatatan ini termasuk di dalamnya adalah anggaran dasar organisasi sebagai pengejawantahan aturan organisasi.

Kesekretariatan berikut papan nama resmi pun sudah dibuat, tepatnya bersekretariat di Jalan Raya Darmo 8 A Surabaya. Selanjutnya tugas saya adalah memfasilitasi penyusunan program kerja dan penggalangan dana opersional kegiatan. Fokus program kerja After Care Mahameru adalah Pemulihan dan Pemberdayaan Sosial Ekonomi. Saat ini sedang dipersiapkan penyusunan proposal-proposal yang akan didistribuskan kepada pihak-pihak terkait yang peduli. Program kerja pemberdayaan social ekonomi ini diprioritaskan dalam bentuk workshop wirausaha mandiri, dengan harapan mendapatkan dukungan dari CSR/Program Kemitraan Perusahaan.

Sampai saat ini memang belum dilakukan penjangkauan kembali secara langsung kepada pecandu untuk bergabung di Aftercare, pertimbangannya adalah masih dalam proses pemberkasan usulan proposal program kerja. Untuk sementara kami ingin mengoptimalkan asset yang sebenarnya dimiliki Aftercare yaitu seperangkat alat multimedia broadcast, untuk Kelompok Usaha Bersama Broadcast. Sebuah dilema pada saat saya mendampingi Aftercare untuk meminta asetnya yang disimpan di BNP Jawa Timur, ternyata justru berkembang isu bahwa saya memanfaatkan pecandu untuk keuntungan pribadi dan atau organisasi DFC.

Sejak saya di GRANAT hingga saat ini di DFC, dua organisasi ini adalah organisasi swadaya murni anggota dan pengurusnya. Kami tidak menerima dana APBN/APBD dan Lembaga Donor manapun. Satu kali pernah di GRANAT Kota Surabaya kita disumbang Walikota Bambang, DH. untuk kegiatan kampanye Festival Band Stop Narkoba bekerja sama dengan TVRI.

DFC sendiri sampai saat ini sejak masih aktif dengan bendera GRANAT Kota Surabaya kita melakukan pembinaan pada pecandu, dan hasilnya adalah sebagian besar dari mereka sudah cukup mandiri dengan memiliki usaha sendiri. Saat ini mereka bergabung dalam usaha bersama yang mereka berikan nama House Of Rangga, mereka melayani foto copy dan pengetikan, pengadaan dan service komputer, service elektronik, dan advertising kerjasama dengan percetakan. Salah satu hasil kerja mereka adalah papan nama DFC dan ACM yang terpasang di Sekretariat. Kelompok Usaha Bersama inilah yang kita akan support mendukung program pemberdayaan pecandu dalam pengembangan usaha broadcast dan workshop wirausaha lainnya.

Saat ini, kami juga ada peluang dari penasihat DFC sekaligus Ketua Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku (YBSI) untuk mengajukan proposal pelatihan dan pengadaan alat service motor dari salah satu perusahaan otomotif di Indonesia, yang sudah seringkali bekerjasama dengan YBSI dan atau DFC. Pada saatnya bila semua telah siap, kami akan melakukan penjangkauan ke Pecandu. DFC sendiri tidak fokus pada pemberdayaan sosial ekonomi pecandu, maka program ini jelas akan menjadi program After Care Mahameru.

Salah satu prioritas program After Care Mahameru adalah pemulihan, program ini sedang dalam proses pelaksanaan. Kami mengundang salah satu pecandu yang telah menjalani program rehabilitasi di Bali untuk mendukung program pemulihan ini. Kedepan After Care Mahameru dapat menjadi Center atau Rumah Singgah bagi teman-teman pecandu yang membutuhkan tempat untuk pemulihan.

Kedepan akan dilakukan perubahan strategi, konsep ideal adalah bahwa anggota aftercare adalah pecandu yang telah menjalani terapi dengan kata lain telah melakukan pemulihan untuk abstinen, sehingga menjadi dilemma ketika sebagian besar adalah masih aktif mengikuti program subtitusi. Salanjutnya akan dilakukan perubahan pendekatan siapapun pecandu akan diterima untuk program workshop wirausaha, dengan pertimbangan pengalihan ketergantungan narkoba dengan kegiatan produktif ekonomi. Dalam hal ini program pemulihan berjalan seiring dengan program pemberdayaan sosial ekonomi.

Pada dasarnya, saya sebagai pendamping After Care Mahameru tidak terlalu memiliki masalah atau hambatan di dalam pelaksanaan program After Care Mahameru kedepan. Masalah dana yang seringkali menjadi alasan klise sebuah program pendampingan/pemberdayaan tidak menjadi alasan yang membenarkan tidak ada aktifitas atau kegiatan. Setiap kegiatan pasti butuh dana, tetapi bukan mutlak tanpa kucuran dana segar kemudian menjadikan tidak bisa berkegiatan. Budaya penjangkauan yang selalu ada iming-iming uang transport memang menjadikan hambatan untuk melakukan penjangkauan ke mereka. Masih banyak pecadu yang belum terjangkau terutama di luar penasun, akan mejadi alternatif sasaran penjangkauan ke depan.

Permasalahan yang lain, meskipun ada tetapi tidak prinsip buat saya adalah persepsi bererapa pihak yang menuduh saya mencari keuntungan di dalam pendampingan After Care Mahameru. Tuduhan seperti ini buat saya mengulang tuduhan di masa lalu saat saya sebagai Sekretaris Eksekutif DPC GRANAT Kota Surabaya, bahwa GRANAT mendapat banyak sumbangan. Saya persilahkan kepada siapapun pada saat itu yang bisa membuktikan ada yang memberikan donasi di luar pengurus GRANAT, apalagi bila saya tidak bisa mempertanggungjawabkan. After Care Mahameru memang mendapatkan dana pembinaan, Insya Allah apa yang saya pegang dapat saya pertanggungjawabkan secara Hukum Negara dan Hukum agama saya.

Dengan Bismillahirahmanirrahim, meskipun banyak tudingan bahwa saya mencari keuntungan di dalam program pendampingan pemberdayaan pecandu ini, saya akan tetap malakukan pendampingan program aftercare ini dalam organisasi After Care Mahameru. Bagi saya semua tuduhan-tuduhan tersebut hanyalah ujian Allah yang Insya Allah saya akan mampu menjalani. Saya tidak akan membuktikan apapun kepada pihak manapun, karena apa yang saya lakukan dan dilakukan seluruh anggota Drug Free Community semata pengabdian buat Negeri ini… Dari Kita… Oleh Kita… Untuk Bangsa…

Mila M. Djamhari

Iklan

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

3 thoughts on “Sebuah Dilema Pemulihan dan Pemberdayaan Pecandu di After Care Mahameru Jawa Timur

  1. i like it Sebuah Dilema Pemulihan dan Pemberdayaan Pecandu di in imitation of solicitude Mahameru Jawa Timur « unsalable article Free Community now im your rss reader

    Suka

  2. menarik sekali tulisan di atas
    namun saya tidak terlalu kaget
    jika saya jadi Anda, saya pasti sudah meninggalkan organisasi tersebut, organisasi tanpa masa depan, tidak ada keuntungan ekonomi sama sekali
    namun untunglah masih ada Anda yang mau peduli pada orang2 itu meski saya yakin Anda sudah sangat mengerti bahwa komunitas tersebut selalu berpendapat, JUNKIES HELP JUNKIES, ORANG2 DARI LUAR KOMUNITAS JUNKIES HANYA MENGAMBIL KEUNTUNGAN DARI PARA JUNKIES ITU
    biarlah hanya Tuhan yang membalas kebaikan Anda sebab Anda berkeyakinan bahwa manusia harus berbuat baik pada sesama manusia
    jika saya ada di pihak Anda, saya memilih masuk neraka daripada bersama komunitas seperti itu, saya tidak terlalu peduli sekalipun Tuhan menuduh saya sebagai orang apatis yang tidak mau peduli dengan sesama manusia yang membutuhkan

    Anda berani mengatakan bahwa Anda bukan pecandu, menurut saya Anda tidak mempunyai kewajiban atau tanggung jawab untuk tetap ada di dalam komunitas tersebut, karena spirit yang mereka sebarkan adalah JUNKIES HELP JUNKIES, ORANG BUTA MENUNTUN ORANG BUTA, suatu semangat yang sangat indah karena mereka dengan yakin menyatakan bahwa tidak ada satupun dari luar komunitas mereka yang boleh membantu mereka, mandiri tuh emang harus

    namun jika MANDIRI tersebut diusahakan dengan menarik orang lain agar mau menjadi salah satu dari komunitas mereka, dengan mempropagandakan bahwa narkoba tidak berbahaya, dan menuntut untuk menghentikan perang terhadap narkoba, silahkan saja mereka bermimpi sepuas mereka selama mereka masih bisa hidup dan bisa berimajinasi, semoga Tuhan mengampuni imajinasi mereka

    mungkin benar bahwa suatu komunitas akan menjadi besar jika anggota komunitas itu besar, jadi intinya, akan semakin banyak orang yang menjadi JUNKIE, yang salah sebenarnya bukan JUNKIE itu, namun pihak yang telah menjadikannya sebagai JUNKIE

    kalo bicara tentang keikhlasan atau kerelaan dengan komunitas tsb. kayaknya salah alamat deh, karena setahu saya yang diperlukan seorang JUNKIE tuh hanya UANG dan NARKOBA, just it
    gak percaya??? tanya aja orang2 itu langsung, bahkan sebenarnya mereka gak butuh hidup kan, buat apa peduliin orang yang gak butuh hidup

    saya hanya bisa kirim doa aja deh, semoga Anda bisa menjadi seberkas cahaya lilin di dalam kegelapan itu
    sekalipun suatu saat lilin cinta dan keyakinan telah padam, namun lilin harapan akan selalu menyalakan kedua lilin itu kembali.

    saya nantikan testimoni Anda yang lain, daripada mendengarkan testimoni palsu yang diucapkan hanya demi uang 250rb, sungguh memalukan, namun tak apalah, dia juga berasal dari komunitas yang sangat memalukan dan testimoni palsunya hanya membuat citra komunitasnya semakin buruk, tidak membuat orang menjadi berbelas kasihan

    Suka

    • Terima kasih atas pujiannya, saya menulis bukan untuk mendapatkan pujian tetapi lebih pada sebuah klarifikasi atas tuduhan-tuduhan mencari keuntungan atas nama pecandu, yang dialamatkan kepada saya sebagai pribadi dan DFC secara organisasi dimana saya adalah leadernya. Dogma junkie help junkie atau addict help addict dalam konsep pemulihan (abstinen dari ketergantungan narkoba) bisa dipahami, dimana sesama merekalah yang paling mengetahui psikologi mereka, meskipun tidak bisa menafikan kemampuan profesional/konsultan/dokter/psikolog, rohaniawan dalam bidang pemulihan. Dalam konsep pemberdayaan memang menjadi kontra produktif, pecandu pemulihan (eks pecandu) kurang mempercayai dukungan pihak non pecandu, semua dicurigai memiliki kepentingan. Dogma ini bisa jadi menjadi andalan beberapa lembaga untuk “mengakangi” proyek-proyek atas nama pemberdayaan pecandu. Secara pribadi dan kelembagaan kami memang ANTI DOGMA JUNKIE HELP JUNKIE, dan kami juga sedang mengkritisi mengapa kata EKS PECANDU itu TIDAK BOLEH, sedangkan dalam konsep pemberdayaan setiap pelabelan negatif hanya akan membuat manusia yang akan diberdayakan tidak memiliki rasa percaya diri. Percaya diri adalah pondasi pemberdayaan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s