Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Anak-anak AIDS berhak Sehat dan Pintar

2 Komentar

Bingkisan untuk anak-anakA yang terinfeksi HIV...

Bingkisan untuk anak-anakA yang terinfeksi HIV…

“Mengapa saya harus minum obat terus padahal saya tidak sakit”. Pertanyaan yang sangat sederhana tetapi tidak mudah dijawab. Pertanyaan ini seringkali muncul dan selalu ditanyakan oleh anak-anak yang terinfeksi HIV dan AIDS kepada orang tua dan atau keluarganya. Ada 2.692 anak usia 0-19 tahun terinfeksi HIV dan AIDS berdasarkan data  Juni 2013, yang tercatat di Kementrian Kesehatan Republik Indonesia..

Satu tahun sudah sejak Juli 2012 Drug Free Community (DFC) melakukan pendampingan (advokasi) akses pelayanan kesehatan bagi penderita HV & AIDS yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Didukung oleh 5 (lima) orang pekerja sosial yang 24 jam siaga memberikan bantuan pada pasien-pasien yang membutuhkan, DFC bekerja sama dengan Couple Community dan JOTHI Korwil Jawa Timur juga menyelenggarakan Shelter bagi pasien terlantar di Raya Darmo 8A Surabaya.

Selama satu tahun berjalan DFC melihat ada ketimpangan dalam penanganan kasus ODHA. Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi dan Kota/Kabupaten bersama LSM-LSM yang ada sudah banyak melakukan program pada ODHA dengan pembagian sasaran/dampingan untuk masing-masing LSM. Untu pendampingan Waria dilakukan oleh Perwakos (Persatuan Waria Kota Surabaya), untuk pendampingan gay dilakukan oleh Gaya Nusantara, untuk pendampingan PSK (Perempuan Pekerja Sosial) dilakukan Yayasan Genta dan Embun, untuk pendampingan pecandu dilakukan oleh Yayasan Orbit dan Yayasan Bina Hati, dan untuk KDS (Kelompok Dukungan Sebaya) dilakukan oleh KP Mahameru. Untuk sosialisas dan pencegahan HIV pada remaja banyak dilakukan oleh Sebaya (PKBI) dan Wahana Visi Indonesia. Sedangkan untuk penderita HIV dan AIDS usia anak maupun anak-anak dari penderita HIV dan AIDS sepertinya belum banyak lembaga yang menangani.

Berdasarkan catatan LSM KP Mahameru melalui stafnya yang bertugas di Poli UPIPI RSUD Dr. Soetomo) sampai bulan Agustus 2013 tercatat anak-anak yang terinfeksi HIV lebih dari 260 anak. Kami sendiri saat ini mendampingi sekitar 50 anak terinfeksi HIV. Sungguh menyedihkan bahwa banyak anak-anak yang tidak berdosa harus menderita secara fisik, sosial, dan ekonomi. Secara fisik, mereka harus terapi minum obat (ARV) sehari 2 (dua) kali, tidak boleh lupa, dan harus diminum seumur hidup. Bila mereka putus ARV maka virus yang menyerang kekebalan tubuh mereka akan imun dan berkembang cepat sehingga kekebalan tubuhnya pun rusak, dengan rusaknya daya kekebalan tubuh maka tubuh akan mudah terserang penyakit. Mengkonsumsi ARV seara continue dalam jangka panjang (seumur hidup) juga berdampak pada kesehatan organ tubuh lainnya seperti ginjal dan hati, karena pada prinsipnya obat selain menyembuhkan juga memberikan dampak pada organ tubuh.

Secara Sosial, bahwa sampai saat ini masih banyak masyarakat kita yang melihat orang denga HIV dan AIDS adalah sosok yang menakutkan sehingga tidak jarang mereka mendapatkan perlakukan yang buruk baik dari keluarga dan atau masyarakat. Pandangan buruk (stigma) dan diskriminasi pun juga banyak terjadi pada kasus anak terinfeksi, misal tidak diterima sekolah, ditolak keluarga bila orang tua sudah meninggal, dan ditolak panti asuhan bila tahu dia positif HIV. Secara ekonomi, setiap bulan mereka harus kontrol ke Rumah Sakit sekaligus untuk ambil obat (ARV), setiap 6 (enam) bulan mereka harus tes CD4 yang harganya lumayan mahal sekitar 100 ribu rupiah, secara rutin setahun pun mereka harus tes secara keseluruhan (general cek up), dan mereka juga harus mengkonsumsi nutrisi/asupan gizi yang baik untuk meningkatkan kualitas kesehatan mereka melawan virus. Bila mereka jatuh sakit maka butuh biaya pengobatan dan perawatan yang cukup mahal, banyak dari mereka tidak memiliki jaminan kesehatan. Banyak anak-anak terinfeksi HIV ini yang orang tuanya sudah meninggal dunia, maka otomatis biaya hidup mereka pun menjadi tanggungan anggota keluarga yang lainnya, yang tentunya tidak terlalu fokus hanya untuk si anak terinfeksi.

Keterbatasan sumber daya sosial dan ekonomi yang buruk ditambah kondisi kesehatan yang perlu lebih diperhatikan menjadikan anak terinfeksi HIV rentan sakit dan rentan termarginalkan dalam hal pendidikan. Di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak mereka berhak untuk memperoleh Hak untuk tumbuh kembang dengan sehat, mereka juga memiliki Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan yang paling utama mereka berhak untuk BAHAGIA.

DFC sebagai lembaga yang ingin merasa terpanggil untuk peduli mencoba untuk memetakan potens dukungan bagi mereka dari berbagai pihak baik secara perseorangan maupun secara kelembagaan, baik dari lingkungan pemerintah maupun dari non pemerintah. Di dalam program Kementrian Sosial ada 22 kategori PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), diantaranya adalah anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar, dan penderita HIV dan AIDS. Di dalam program Kementrian Sosial adan anggaran permakan yang nilainya Rp. 10.000,-/hari untuk mereka yang bermasalah. Permaslahannya adalah anggaran tersebut diturunkan melalui lembaga yang menangani, misal untuk yatim piatu adalah lembaga-lembaga Panti Asuhan, orang-orang terlantar ada dikelola Liponsos, dan untuk penderita AIDS tidak tersebut secara khusus.

Dari pihak Dinas Sosial sudah menyarankan agar kami bekerjasama dengan Panti Asuhan, kami sedang berusaha sebagai alternative terakhir. Kami sendiri berharap bisa membentuk panti asuhan yatim piatu sendiri khusus untuk anak-anak terinfeksi, karena jelas penanganannya sangat berbeda. Apalagi beberapa Panti Asuhan juga belum siap untuk menampung anak-anak terinfeksi. Beberapa dari anak-anak masih dirawat oleh anggota keluarganya yang secara psikologi sangat dibutuhkan oleh si anak, hal ini juga tidak memungkinkan anak untuk tinggal di panti asuhan. Menitipkan anggaran permakan kepada sebuah lembaga panti asuhan resisten dalam pertanggungjawaban, mereka belum tentu percaya kepada kami, sebalikya ada juga resiko tidak sampai pada sasaran. Liponsos sendiri adalah tempat penampungan sementara orang-orang terlantar yang seara fisik tidak bermasalah, seperti gelandangan, orang gila, dan atau pekerja-pekerja seksual yang berkeliaran di jalan.

Selama ini yang sudah kita lakukan buat mereka adalah menjadi media penyaluran zakat maal pada saat lebaran, dan pendampingan akses pelayanan kesehatan seperti membantu mendapatkan Surat Ketrangan Miskin dan Surat Keterangan Telantar untuk mereka mendapatkan jamkesda/jamkesmas non quota. Kedepan kami berharap dapat menyelenggarakan program pendampingan anak-anak terinfeksi HIV dan AIDS ini secara berkelanjutan. Mencari donatur untuk membiayai kebutuhan nutrisi dan pendukung pendidikan, mendapatkan akses pembiayaan kesehatan, dukungan sosial, psikologi, dan spiritual bagi anak dan keluarganya, dan membangun rumah layak dan sehat bagi mereka yang terlantar.

Mimpi ini mungkin terlalu muluk tetapi kami memiliki keyakinan bahwa kami pasti mampu mewujudkannya. Saat ini kami sudah memiliki tempat untuk shelter bagi pasien HIV yang terlantar, sementara pun kami bias menjadikannya juga rumah buat anak-anak. Kami memiliki tenaga-tenaga relawan yang selama ini sudah melakukan pendampingan di RSUD Dr. Soetomo, pengembangan program secara khusus ke pendampingan anak bukan hal yang susah. Kami juga memiliki kerjasama dengan relawan-relawan yang selama ini eksis pendampigan anak-anak marginal, mereka akan memberikan dukungan psikologis untuk membangun mental dan kepercayaan diri anak. Kami juga memiliki tenaga relawan di bidang psikologi dan spiritual yang dapat didayagunakan untuk memfasilitasi kelompok dukungan sebaya bagi keluarga anak-anak yang terinfeksi.

Relawan Kesehatan Drug Free Community untuk Anak.. (ibu-ibu... Harti, Mila, Endang)

Relawan Kesehatan Drug Free Community untuk Anak.. (ibu-ibu… Harti, Mila, Endang)

Anak-anak terinfeksi HIV dan AIDS ini berhak untuk sehat dan pintar seprti anak-anak lainnya, mereka adalah anak-anak Indonesia yang dijamin kesejahteraannya oleh UUD 1945 pasal 34. Merka terinfeksi bukan karena perilaku dan atau kesalahan mereka. Masih sedikit yang peduli kepada mereka, dan semoga kita menjadi bagian yang peduli pada mereka.

Mila Machmudah

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

2 thoughts on “Anak-anak AIDS berhak Sehat dan Pintar

  1. saya ingin bergabung menjadi aktifis relawan,klw boleh tau bagaimana caranya
    ini email saya
    yuu_trie@yahoo.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s