Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

Dika, bocah 5 tahun… yang terinfeksi HIV dan tercampakkan…

1 Komentar

Banyak anak-anak tidak berdosa harus menderita karena terlahir positif HIV. Bukan untuk menjadi wacana apalagi perdebatan siapa yang salah dan siapa yang berdosa. Sebuah realita bahwa di Rumah Sakit Dr. Soetomo saja per Agusrus 2013 tercatat lebih 260 anak positif HIV. Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi beban derita mereka.

Sebuah penyesalan panjang yang sulit dilupakan saat kami tidak mampu menampung si kecil dan ibunya untuk tinggal di shelter kami karena kebetulan pada saat itu tidak ada relawan yang menjaga shelter. Sedangkan relawan yang akan tinggal di shelter masih tidak kunjung pasti. Akhirnya Dika dan Ibunya dirawat oleh Mami Vera dari Yayasan Abdi Asih, mereka di kontrakkan di sebuah rumah di pemukiman penduduk.

Dika dan ibunya adalah penderita HIV, mereka sebelumnya tinggal di Kalimantan Iibunya tertular dari suaminya, yang belum genap satu tahun meninggal dunia. Saat di Kalimantan si ibu didapatkan sakit TB, oleh keluarga di Kalimantan si Ibu dikrim ke Surabaya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Datanglah si Ibu ke RSUD Dr. Soetomo dan ternyata si Ibu bukan hanya kena TB tetapi juga positif AIDS, begitu juga Dika juga positif tertular HIV. Setelah diketahui bahwa si Ibu menderita AIDS keluarga di Surabaya menolak Dika dan ibunya tinggal bersama mereka. Kondisi Dika sendiri juga tidak lebih baik dari si Ibu, selain dia juga kena TB juga mal gizi (busung lapar).

Setelah tiga bulan tinggal di rumah kontrakan si Ibu kesehatannya drop dan harus dirawat di Rumah Sakit. Selama ibunya dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya si Di ka menemani, bila siang Dika bermain dengan perawat dan juga relawan-relan kami yang memang 24 jam ada di rumah sakit dan bila malam si kecil Dika tidur disamping ibunya yang dalam kondisi kritis/koma. Selang seminggu dirawat si ibu meninggal dunia, si kecil Dika dilihatkan ke jasad ibunya, entah apa yang ada di benak bocah kecil ini, tidak ada air mata setetes pun yang keluar, tetapi matanya hanya berkaca-kaca.

Dika di samping jasad ibunya ditemani Ibu Endang Relawan Kesehatan Kesehatan Drug Free Community

Dika di samping jasad ibunya ditemani Ibu Endang Relawan Kesehatan Kesehatan Drug Free Community

Dika di samping jasad ibunya ditemani Ibu Endang Relawan Kesehatan Kesehatan Drug Free Community

Siang hari ibunya meninggal dunia, sebelum petang jenasah sudah diambil Yayasan Abdi Asih untuk dimakamkan, dan relawan kami lebih menemani si kecil Dika. Dika malam itu pun tidur bersama Cak Di dan Mbak Yeni di lorong ruang Cendana RSUD Dr. Soetomo karena keluarga tidak mau menerima Dika. Tengah malam badan Dika panas tinggi, akhirnya dilarikan ke IGD, tinggal minggu Dika dirawat di ruang Bona RSUD Dr. Soetomo sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir tepat jam 23.30.

Bersama Cak Di dan Mbak Yenny malam sesaat ibunya meninggal

Bersama Cak Di dan Mbak Yenny malam sesaat ibunya meninggal

Selama Dika dirawat di Rumah Sakit budenya dari Kalimantan yang setia menemani, meski sempat seminggu balik ke Kalimantan mengurus sekolah kakaknya Dika.  Keluarga yang di Surabaya hanya sekali datang dan terlihat jijik melihat Dika. Kondisi Dika sebenarnya sudah mulai membaik saat budenya yang selama di Kalimantan memang yang merawatnya datang mendampingi, saat budenya balik ke Kalimantan kondisi Dika mulai drop lagi hingga tidak tertolong lagi, meski budenya sudah datang menemani.

Dika hanyalah satu dari anak-anak yang terinfeksi dan termarginalkan Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya sampai Agustus 2013 tercatat oleh Lembaga KP Mahameru ada lebih 260 anak, kami sendiri juga mencatat diantaranya sekitar 50 anak. Anak-anak itu memiliki kisah-kisah sendiri.  Banyak anak yang harus kehilangan orang tuanya terenggut HIV.  Ada juga kisah seorang anak terinfeksi yang orang tuanya sudah meninggal dunia dirawat kakek dan neneknya, saat kakeknya meninggal si nenek diambil keluarganya, tetapi si bocah tetap dibiarkan sendiri.

Dika bersama relawan dari Yayasan Abdi Asih, hari terakhir sebelum menghembuskan nafas

Dika bersama relawan dari Yayasan Abdi Asih, hari terakhir sebelum menghembuskan nafas

Anak-anak yang rawat jalan di RSUD Dr. Soetomo sebagian besar dari kalangan masyarakat tidak mampu, sebagian dari mereka sudah kehilangan orang tua mereka. Ada yang kondisinya cukup bagus seperti anak-anak sehat lainnya, tetapi tidak sedikit yang kondisinya mal gizi. Sebagian mereka segera diketahui terinfeksi ketika salah satu orang tuanya diketahui sakit dan ternyata positif HIV. Sebagian justru mereka yang ternyata diketahui lebih dahulu sakit, mereka-mereka ini kadang kondisinya sudah sangat buruk. Belum lagi bayi-bayi baru yang dilahirkan oleh ibu yang positif HIV, banyak kasus mereka lahir tanpa Bapak. Ada beberapa anak yang ternyata hanya anak angkat, mereka dibuang oleh orang tua kandungnya, saat orang tua angkatnya mengambilnya sebagai anak mereka tidak tahu si bayi positif HIV.

Ada anak putri  yang sudah beranjak remaja, tinggal bersama kakeknya karena orang tuanya sudah meninggal. Si putri belia ini mulai bertanya mengapa dia harus minum obat terus sedang dia tidak sakit, si kakek bingung menjelaskan. Cepat atau lambat pertanyaanpertanyaan ini akan ditanyakan mereka, dan bukan hal yang mudah untuk menjelaskan kepada mereka bahwa di tubuh mereka ada HIV. Ada juga remaja putri yang cukup riang meski mengetahui bahwa dirinya positif HIV, tiap bulan dia harus kontrol ke Rumah Sakit, dia cukup percaya dri menjelaskan kepada guru dia kontrol karena sakit TB.  Dia juga sudah yatim piatu, tinggal bersama neneknya.

Saat ini banyak anak-anak yang tidak terdaftar dalam jamkesmas, sedangkan mereka membutuhkan perawatan dan pengobatan rutin berkelanjutan seumur hidup. Bila penderita thalasemia dalam UU Sistem Jaminan Kesehatan Sosial tercantum dijamin Negara, anak-anak yang terlahir postif HIV meskinya juga berhak mendapatkan jaminan kesehatan itu karena bukan salah dan dosa mereka tertular HIV. Semoga tidak ada lagi anak terinfeksi HIV dan tercampakkan.

Mila Machmudah

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

One thought on “Dika, bocah 5 tahun… yang terinfeksi HIV dan tercampakkan…

  1. I simply couldn’t go away your site before suggesting that I actually enjoyed the usual information a person supply in your visitors? Is going to be back regularly to check up on new posts

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s