Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia

ALDA, Si Bayi Suspect HIV yang Termarginalkan oleh Negara

2 Komentar

Ini kisah tentang ALDA si bayi cantik yang lahir tanpa tanggung jawab seorang Bapak, dilahirkan seorang remaja belia yang cantik dan teridentifikasi positif HIV. Si bayi ditinggal di panti asuhan dan ketika diketahui si bayi suspect HIV, para pengasuh panti bingung dan takut.

Selasa, 26 Nopember 2014, belum siang ada telpon dari Kepala Perawat di UPIPI RSUD Dr. Soetomo Surabaya, beliau meminta tolong kami untuk membantu mencarikan panti asuhan yang bersedia merawat bayi umur satu bulan suspect HIV (reaktif hasil tes rapid dan tiga metode). Bayi ini sendiri sejak lahir dirawat di UPT Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur di Kabupaten Sidoarjo. Selain membuka info di media sosial dengan harapan ada jejaring sosial yang bisa membantu, kami coba melaporkan via sms ke staf Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi (KPAP) Jawa Timur. Di jejaring sosial ada seorang Romo yang segera merespon bersedia menerima bayi tersebut dan merawatnya di panti asuhan milik gereja. Meskipun di jejaring banyak orang bicara sok moralis, sok peduli sosial, bahkan sebagian ada politikus, ternyata berbicara dan bertindak tidak selalu seiring dan sejalan.

Bagaimana dengan respon dari KPAP, seperti biasanya tidak ada tindakan apapun meski tupoksi mereka adalah koordinasi program penanggulangan AIDS. Untuk kesekian kalinya melaporkan masalah AIDS pada orang KPAP Jawa Timur sejak kami mulai intens di advokasi kesehatan masyarakat marginal Juni 2012, tidak ada satu pun laporan yang direspon positif apalagi ditindaklanjuti secara kongkrit. Berbicara dengan orang KPAP sama dengan berbicara dengan orang gila, hanya sebuah kesia-siaan belaka.

Diantara kegalauan hati dan keprihatinan, Alhamdulillah masih ada pasangan suami istri menikah lima tahun tidak memiliki anak bersedia untuk merawat dan menjaganya sebagai anaknya sendiri. Tanpa perlu proses panjang bayi cantik itu diserahterimakan dari UPT LKSA Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur kepada lembaga kami Drug Free Community, yang selanjutnya kami titipkan kepada suami istri tersebut. Sebaik-baiknya seorang bayi adalah tumbuh dan berkembang dalam kasih sayang ayah dan ibu, meskipun bukan ayah dan ibu kandungnya.

Serah terima dari UPT LKSA Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur ke Drug Free Community

Serah terima dari UPT LKSA Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur ke Drug Free Community

UPT LKSA Dinas Sosial Propinsi di Sidoarjo adalah sebuah lembaga resmi milik pemerintah propinsi yang bertanggung jawab merawat dan mengasuh balita-balita terlantar, mestinya bayi cantik yang terlantar itu sudah benar berada pada mereka, tetapi karena tidak mengertinya para pengasuh disana bagaimana merawat bayi suspect HIV sehingga ada kebingungan mendekati paranoid. Mereka takut bayi cantik itu akan menularkan virus pada bayi-bayi yang lain sehingga harus diletakkan di ruang isolasi, begitupun saat memandikan mereka menggunakan sarung tangan. Bagaimana mungkin sebuah lembaga milik Dinas Sosial belum memahami bagaimana cara penularan HIV.

Dinas Sosial Jawa Timur adalah bagian dari Pokja Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi Jawa Timur. Apalagi UPT LKSA ini banyak menerima bayi-bayi terlantar baik korban trafficking maupun korban hamil di luar nikah. Hubungan seksual adalah faktor tertinggi penularan HIV, trafficking dan atau seks bebas adalah kegiatan atau perilaku beresiko tinggi penularan HIV. Bagaimana mungkin sebuah lembaga yang terkait langsung dengan bayi-bayi hasil perbuatan beresiko tinggi ini belum terpahamkan pengetahuan tentang HIV & AIDS.

Sebuah diskusi kecil dengan beberapa teman, mereka mengatakan bahwa tanggung jawab Dinas Sosial adalah terkait masalah social orang-orang miskin, orang terlantar, dan orang-orang berkebutuhan khusus, yang secara fisik (bio medis) dikatakan tidak sakit. Orang-orang berkebutuhan khuss ini seperti pecandu, PSK, orang cacat, orang jompo, dan korban bencana. Bagaimana dengan orang-orang yang terinfeksi HIV atau ODHA??? Dinas Sosial hanya membantu di bidang pelatihan-pelatihan ketrampilan pada ODHA yang secara kasat mata tidak sakit. Bagaimana dengan ODHA yang kondisi lemah (sakit dan atau pemulihan), ketika mereka diusir oleh keluarga dan atau masyarakat, adakah tempat di bawah tanggung jawab Dinas Sosial yang bisa menerima dan melindungi mereka. Faktanya beberapa kali kasus pasien terlantar kondisi pemulihan pulang dari RSUD Dr. Soetomo tidak ada tempat di Dinas Sosial yang bisa menampungnya, karena memang tidak ada tempat khusus untuk orang yang masih kategori sakit tetapi tidak dirawat di rumah sakit.

Dinas Kesehatan seolah sudah merasa cukup bahwa tanggung jawab mereka adalah memberikan pengobatan dan tindakan-tindakan medis sebatas di rumah sakit, lepas dari rumah sakit maka lepas pula tanggung jawabnya. Ada satu masa tanggung jawab yang terputus antara saat pasien sakit dan sehat, masa pemulihan ini menjadi masa transisi dimana ternyata tidak atau belum ada institusi Negara yang bertanggung jawab. Pada masa pemulihan tentunya pasien tidak bisa dituntut untuk produktif dan melakukkan kegiatan mandiri, dia masih membutuhkan bantuan orang lain atau perawat.

Kembali ke masalah bayi terlantar suspect HIV. Secara medis dia harus mendapatkan terapi pengobatan ARV yang bersifat rutin tiap hari sampai si bayi dinyatakan non reaktif/negatif HIV atau seumur hidup saat si bayi dinyatakan reaktif/positif HIV. Siapa seharusnya yang paling bertanggung jawab. Dia bukan satu-satunya bayi yang suspect HIV, banyak bayi-bayi dan anak-anak yang terlahir suspect HIV dan sebagian besar tes lanjutan teridentifikasi positif HIV. Di dampingan kami ada lebih 50 anak positif HIV & AIDS dan atau suspect HIV, sebagian besar mereka saat ini sudah kehilangan satu dan atau kedua orang tuanya. Mereka terlahir dengan warisan virus tanpa warisan harta, mereka terlahir dengan stigma yang menyertainya.

Tulisan ini hanyalah sebatas curahan hati dan kegelisahan kami atas masa depan mereka, dan hanya akan menjadi sebuah tulisan tanpa makna bila hati anda tidak tersentuh dan mulai peduli…

ditulis oleh Mila Machmudah

Penulis: Kawan PELANGI "Memanusiakan Manusia Indonesia"

Kawan PELANGI adalah metamorfosa dari Drug Free Community yang dideklarasikan tanggal 5 Oktober 2007 Memiliki Visi Mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

2 thoughts on “ALDA, Si Bayi Suspect HIV yang Termarginalkan oleh Negara

  1. he…he…he….tahune 2014…?
    BTW….ayo galang kekuatan untuk pengidap HIV miskin (fakir miskin ditanggung negara…UUD ’45)

    Suka

    • Hambatan utama adalah egosentris lembaga-lembaga, masing-masing ingin menjadi leadernya… ingin menjadi bagian dari proposal yang harus mereka garap… sedang kita berpikir program ini akan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan apabila langsung dikendalikan oleh institusi pemerintah. Tulisan ini adalah bagian dari penggalangan kekatan di luar LSM-LSM… menulis… bertindak… menlis…. bertindak….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s