Kawan PELANGI

Memanusiakan Manusia Indonesia


Tinggalkan komentar

Rekreasi Kawan PELANGI untuk ADHA

Kiri Kanan... Ketua umum Kawan Pelangi Luthfi Nurzaman, Ning surabaya, Sekretaris Umum Kawan PELANGI Restu rahayu (Ayu)....
Kiri Kanan… Ketua umum Kawan Pelangi Luthfi Nurzaman, Ning Surabaya, Sekretaris Umum Kawan PELANGI Restu Rahayu (Ayu), dan Penasihat Kwan PELANGI Mila Machmudah…. Sabtu, 13 Desember 2014

Rekreasi bagi anak-anak sudah menjadi kebutuhan penting untuk tumbuh kembang mereka. Bagi masyarakat mampu rekreasi bukan lagi barang mewah, tetapi bagi mayarakat tidak mampu rekreasi adalah mahal. Kawan PELANGI sebagai komunitas yang memiliki kepedulian kepada tumbuh kembang anak-anak dengan HIV dan AIDS memiliki kegiatan REKREASI sebagai prioritas program, yang bertujuan untuk memberikan kebahagiaan pada anak-anak sehingga bisa meningkatkan kualitas kesehatan mereka. Berbagi BAHAGIA adalah salah satu bagian dari Advokasi Sosial Kesehatan pada penderita HIV sebagai bagian dari pengobatan HIV dan AIDS secara Holistik (Bio Psiko Sosial Kultural)

Agenda rekreasi kali ini adalah rekreasi edukasi jalan-jalan keliling Surabaya dengan Bus Pariwisata Pemerintahan Kota Surabaya. Mengingat jumlah dampingan yang banyak sedang kursi bus pariwisata terbatas 20 kursi maka kegiatan rekreasi dibagi dua sesi, awalnya tanggal 23 Nopember dan 13 Desember 2014. Sehubungan dengan kondisi politik bulan Nopember tidak kondusif karena ada kenaikan BBM maka kegiatan tanggal 23 Nopember ditunda tanggal 11 Januari 2015.

Pada sesi pertama Hari Sabtu, tanggal 13 Desember 2014 acara rekreasi diikuti 22 orang ibu dan anak dengan rute rekreasi Balai Kota Surabaya, Taman Bermain Prestasi, dan Tugu Pahlawan. Pada sesi ini kegiatan rekreasi didampingi oleh Sekretaris Kawan PELANGI kakak Ayu bersama pedamping ADHA Mbak Endang Rini. Sedangkan sesi kedua Hari Minggu, tanggal 11 Januari 2015 diikuti 20 orang ibu dan anak dengan rute Balai Kota Surabaya, Pantai Ria Kenjeran Lama, dan Taman Flora. Untuk sesi ini langsung dipandu oleh Ketua Umum Kawan PELANGI kakak Luthfi Nurzaman.

Melihat mereka bahagia adalah kebahagiaan kami juga, sangat tersentuh saat salah satu bocah laki-laki umur 7 tahun dengan wajah cerianya bertanya “Bunda, siapa yang membayar bis ini”, kami jawab kalau Bis ini ditraktir oleh kak Luthfi, lalu kami tanya “emang kenapa sayang”, dia jawab dengan cepat “terima kasih, ya”, lalu bocah yang lain menjawab “bunda, bis nya bagus”. Bocah yang bertanya tadi berkata lagi “Bunda, kalau uangnya kurang minta ke mamaku uangnya banyak”, sebelumnya mereka mendapat amplop saat diundang syukuran salah satu simpatisan Kawan PELANGI, dan buat mereka uang itu dianggap cukup banyak. Bocah-bocah lucu dan masih lugu, yang belum tahu virus di dalam tubuhnya.

Bukan hanya anak-anak yang bahagia, para ibu-ibu pun cukup bersuka cita. Mereka mengusulkan untuk rekreasi ke luar kota. Kami mengiyakan dengan catatan mereka mau iuran dan mereka sepakat. Tentu saja mereka bukan iuran dengan uangnya sendiri, melainkan setiap bulan Kawan PELANGI ada program Kelompok Dukungan Keluarg (KDK) bekerjasama dengan Yayasan Nurul Hayat yang membberi dukungan uang transport setiap bulannya. Uang iuran adalah tabungan tiap bulan Rp. 10.000 yang dipotong dari uang transport mereka dari YNH, insya Allah akhir tahun 2015 akan diagendakan rekreasi ke luar kota. KDK sendiri diselenggarakan setiap bulan di Hari Minggu awal bulan, yang sudah dimulai mulai tanggal 1 Pebruari 2015.

Dari kiri ke kanan... Cak Luthfi, Mbak Ayu, Bunda Mila, dan Mbak Endang Rini... Minggu, 11 Januari 2015

Dari kiri ke kanan… Cak Luthfi, Mbak Ayu, Bunda Mila, dan Mbak Endang Rini… Minggu, 11 Januari 2015

PELANGI4

PELANGI5


Tinggalkan komentar

Anugerah Bung Tomo 2014 Bidang Kesehatan

Foto bersama seluruh relawan yang mendapatkan Anugerah Bung Tomo 2014

Foto bersama seluruh relawan yang mendapatkan Anugerah Bung Tomo 2014

Perjalanan panjang Drug Free Community di dalam aktifitas penanggulangan bahaya narkoba dan penularan HIV dan AIDS kembali mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Dalam rangka Hari Pahlawan, Ketua DFC Mila Machmudah Djamhari, S.Sos. mendapatkan penghargaan Anugerah Bung Tomo 2014 di Bidang Kesehatan. Penghargaan ini sebagai apresiasi atas kinerja Tim Relawan Kesehatan DVC untuk Advokasi Pendampingan Pasien HIV dan AIDS di Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya. Anugerah Bung Tomo ini diselenggarakan di Surabaya, tanggal 5 Desember 2014. Berikut selengkapnya Nominator Anugerah Bung Tomo Award 2014 dapat dibaca di sini.

Foto bersama seluruh relawan yang mendapatkan Anugerah Bung Tomo 2014

Foto bersama seluruh relawan yang mendapatkan Anugerah Bung Tomo 2014

Daftar Nominator Anugerah Bung Tomo 2014

Daftar Nominator Anugerah Bung Tomo 2014

Penghargaan ini adalah penghargaan kedua yang diperoleh DFC setelah mendapatkan apresiasi sebagai Inspiring Woman di program tayangan rutin TVRI Jawa Timur bertajuk Wanita Wanita, yang ditayangkan pada tanggal 17 Oktober 2014. Penghargaan ini memberikan motivasi bagi kami untuk bekerja lebih baik lagi. Semoga kedepan kami mampu mewujudkan Rumah untuk anak-anak dan perempuan yang memerlukan perlindungan khusus, seperti penderita HIV dan AIDS.

Untuk semua penghargaan yang telah diperoleh, perkenankan kami menghaturkan banyak terima kasih kepada seluruh Relawan dan Simpatisan Drug Free Community yang telah banyak memberikan dukungan, semoga tidak ada yang terlupa kami sebutkan;

1. Komunitas Tunjungan Ikon Surabaya (TIS)
2. Bidadari
3. Organisasi Cinta Kasih Surabaya (ORCIKS)
4. Couple Community
5. Bunga Langit Production
6. Majelis Pengajian Al Hasan
7. Green Nursing Corp
8. Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku
9. Dinas Kesehatan Kota Surabaya
10. Dinas Sosial Kota Surabaya
11. Seluruh Relawan dan Simpatisan DFC
12. Keluarga Besar Djamhari

Kecintaan akan pekerjaan pendampingan pada pasien-pasien marginal penderita HIIV dan AIDS bukanlah berpamrih pada penghargaan manusia semata, tetapi lebih diniatkan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Relawan DFC dan Tim Seleksi ABT 2014 di Poli UPIPI RSUD DR. Soetomo Surabaya

Relawan DFC dan Tim Seleksi ABT 2014 di Poli UPIPI RSUD DR. Soetomo Surabaya

Bersama Cak Di dan Mas Anto, Relawan Kesehatan di Poli UPIPI RSUD DR. Soetomo Surabaya

Bersama Cak Di dan Mas Anto, Relawan Kesehatan di Poli UPIPI RSUD DR. Soetomo Surabaya

Laporan Pertanggungjawaban pada Komunitas pendukung - Tunjungan Ikon Surabaya

Laporan Pertanggungjawaban pada Komunitas pendukung – Tunjungan Ikon Surabaya


Tinggalkan komentar

Sosok Ketua DFC “Inspiring Women” TVRI Jawa Timur

Ketua DFC bersama Host TVRI Ning Azza

Ketua DFC bersama Host TVRI Ning Azza

Menjelang Hari Jadi Drug Free Community ke-7 taggal 5 Oktober 2014, DFC mendapatkan apresiasi dari TVRI Jawa Timur yang memilih Ketua DFC sebagai salah satu sosok Inspiring Woman di dalam program tayangan bertajuk Wanita Wanita. Mila Machmudah Djamhari adalah sosok wanita yang selama ini membidani berdirinya DFC sejak tahun 2007 dan masih konsisten mengawal program-program kerja yang berbasis kemandirian. Acara ini telah ditayangkan pada Hari Jumat, tanggal 17 OKtober 2014.

Apresiasi TVRI ini sesungguhnya adalah penghargaan untuk Kinerja keseluruhan Relawan DFC yang tidak berbilang jumlah dan kontribusinya masing-masing. DFC merupakan lembaga mandiri yang sangat bergantung pada kesolidan para Relawannya, tujuh tahun ukanlah hal yang singkat untuk dapat eksis melakukan pengabdian. Tidak ada hal yang penting dari sebuah organisasi adalah Kerjasama, inilah yang menjadi kekuatan DFC. Sosok Ketua hanyalah sebatas mengorganisasi potensi yang ada. Apresiasi ini terutama diberikan atas kinerja Tim Relawan Advokasi Kesehatan Penderita HIV dan AIDS di RSUD Dr. Soetomo, khususnya pendampingan anak-anak dan perempuan dengan HIV dan AIDS.

Dokumentasi penayangan acara Wanita Wanita TVRI Jawa Timur episode Sosok Ketua DFC

Dokumentasi penayangan acara Wanita Wanita TVRI Jawa Timur episode Sosok Ketua DFC

Terpilihnya Ketua DFC sebagai Inspiring Woman di dalam program TVRI bertajuk Wanita Wanita ini adalah karena dedikasi dan kecintaannya mendampingi anak-anak yang menderita HIV dan AIDS. Tidak banyak orang yang mau meluangkan waktunya untuk mendampingi ADHA, takut tertular menjadi penghalang anak-anak ini mendapatkan kasih sayang. Selengkapnya advokasi yang telah dilakukan bersama Relawan Kesehatan DFC dapat dibaca dalam blog ini, antara lain :

1. Advokasi Pasien HIV dan AIDS di RSUD Dr. Soetomo

2. Anak-anak dengan HIV dan AIDS berhak Sehat dan Pintar

3. Advokasi Kesehatan untuk Anak-anak Termarginalkan

4. Ramadhan Berkah dan Ceria untuk ADHA

Profil singkat Ketua DFC :

Nama : Mila Machmudah Djamhari
Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 13 Maret 1972
Saudara : Anak ke-8 dari 10 bersaudara
Orang Tua : Djamhari (Alm) – Dewi Aminah (Alm)
Purnawirawan AD (Veteran Kemerdekaan)

 

Pendidikan :

SD TPP Khadijah Surabaya1984
SMP Negeri 4 Surabaya 1987
SMA Muhammadiyah 3 Surabaya 1990
Antropologi FISIP Universitas Airlangga Surabaya 1991-1997

 

Organisasi :

1993-1994 Sekretaris Himaprodi Antropologi
1994-1996 Yayasan Nanda Dian Nusantara (Wakil Sekretaris)
1998-2000 DPC PAN Wonokromo (Ketua Kampanye & Pemenangan Pemilu)
2000-2002 DPD PAN Kota Surabaya (Ketua Departemen Sistem Informasi Internal)
2001-2006 DPC GRANAT Kota Surabaya (Sekretaris Eksekutif)
2005-2013 DPD GRANAT Jawa Timur (Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga)
2007- Drug Free Community (Pendiri dan Ketua)
2013- DPW PAN Jawa Timur (Wakil Sekretaris)

Pengambilan gambar oleh TVRI dilakukan pada tanggal 17 dan 18 September 2014, di Kantor DFC, Taman Prestasi, Puskesmas Jagir, dan Villa Doa Yatim Sejahtera.

Relawan Kesehatan DFC untuk Advokasi Pasien HIV dan IDS di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, foto di Sekretariat DFC

Relawan Kesehatan DFC untuk Advokasi Pasien HIV dan IDS di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, foto di Sekretariat DFC

Focus Group Discussion di Taman Pestasi Surabaya

Focus Group Discussion di Taman Pestasi Surabaya

Ayu - Relawan yang bertugas untung birokrasi di Dinas Sosial Kota Surabaya

Ayu – Relawan yang bertugas untung birokrasi di Dinas Sosial Kota Surabaya

Jinal atau dikenal dengan panggilan Mbak Yenny adalah relawan yang 24 Jam di Rumah Sakit

Jinal atau dikenal dengan panggilan Mbak Yenny adalah relawan yang 24 Jam di Rumah Sakit

Sariadi alias Cak Die - 24 Jam siaga di Rumah Sakit

Sariadi alias Cak Die – 24 Jam siaga di Rumah Sakit

Mbak Endang Rini - Konselor tahan banting

Mbak Endang Rini – Konselor tahan banting

Villa Doa Yatim Sejahtera, panti asuhan yang bersedia menerima anak-anak terlantar dan berkebutuhan khusus seperti ADHA

Villa Doa Yatim Sejahtera, panti asuhan yang bersedia menerima anak-anak terlantar dan berkebutuhan khusus seperti ADHA

Suasana di Villa Yatim Sejahtera saat Ashar waktunya baca Alquran

Suasana di Villa Yatim Sejahtera saat Ashar waktunya baca Alquran

Bersama Ustadz Abutaqi Mayestino untuk nasyid Cintaku Karena Allah

Bersama Ustadz Abutaqi Mayestino untuk nasyid Cintaku Karena Allah

 

Bersama Kru TVRI Jawa Timur di Villa Doa Yatim Sejahtera - Pacet Mojokerto

Bersama Kru TVRI Jawa Timur di Villa Doa Yatim Sejahtera – Pacet Mojokerto


Tinggalkan komentar

Peringatan HANI 2012

Tim Baksos Pelayanan Kesehatan DFC dan YBSI

Tim Baksos Pelayanan Kesehatan DFC dan YBSI

 

Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) setiap tanggal 26 Juni, Drug Free Community (DFC) bekerjasama dengan Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku (YBSI) menyelenggarakan kegiatan Bakti Kesehatan dan Sosialisasi Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Bakti Kesehatan berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis dilaksanakan pada Hari Minggu, tanggal 1 Juli 2012, di wilayah RT 01, 02, dan 05 – RW 02, Jalan Kupang Segunting, Kelurahan Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari. Bakti Kesehatan sebagai program rutin YBSI dalam event peringatan HANI ini lebih ditekankan untuk sosialisasi bagaimana seharusnya mengkonsumsi obat dengan benar, tidak disalahgunakan. Pada dasarnya obat adalah untuk membantu mengurangi dan mengobati gejala-gejala sakit, tetapi juga berefek ganda dapat menyebabkan ketergantungan.

Lokasi bakti kesehatan ini adalah perkampungan yang dulunya dikenal sebagai salah satu sarangnya penyalahgunaan narkoba, seperti disampaikan salah satu tokoh pemudanya Priyo Prasojo, yang juga dulu adalah mantan pecandu sekaligus pengedar. Dulu banyak pemuda kampung yang terlibat penyalahgunaan bahkan sebagian juga terlibat peredaran gelap narkoba, dengan pendekatan spiritual dan aktifitas di Karang Taruna secara perlahan banyak yang sudah terlepas dari ketergantungan. Keberhasilan mengentaskan para pemuda dari ketergantungan narkoba secara mandiri menjadi pertimbangan bagi YBSI dan DFC untuk melakukan penjajagan kerjasama berkelanjutan saling belajar dan berbagi pengalaman dalam rangka mendukung program pemerintah P4GN, Program Penanggulangan penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba.

Acara peringatan HANI untuk tahun 2012 ini juga diselenggarakan acara Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Eropa, bertempat di Sekretariat Jalan Raya Darmo 8A Surabaya. Pada acara nobar ini dibagikan juga pembatas buku yang berisi daftar Institusi Penerima Wajib Lapor bagi pecandu, diharapkan masyarakat dapat melaporkan anggota keluarganya yang menjadi pecandu untuk bisa segera dibantu mendapatkan rehabilitasi. Disampaikan oleh Mila M. Djamhari selaku Leader DFC bahwa masih perlu banyak sosialisasi ke masyarakat perihal akses untuk mendapatkan rehabilitasi, yang paling utama adalah menyadarkan kepada pecandu dan keluarga bahwa Sehat itu adalah Hak dan Kewajiban pecandu.

Virly Mavitasari dari YBSI menjelaskan bahwa YBSI sebagai lembaga yang konsen di bidang kesehatan sangat peduli dan mendukung setiap kegiatan yang terkait masalah penanggulangan bahaya narkoba, terutama yang terkait dengan masalah masa depan generasi bangsa. Acara Peringatan HANI adalah kerjasama rutin tahunan dengan DFC dan didukung MPM Motor sudah terselenggara sejak tahun 2004. Tahun ini mengambil tema Selamatkan Anak Bangsa dari Bahaya Penyalahgunaan Narkotika.

Pemeriksaan tekanan darah dari para relawan Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya

Pemeriksaan tekanan darah dari para relawan Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya

Masyarakat yang sabar menunggu pelayanan kesehatan

Masyarakat yang sabar menunggu pelayanan kesehatan

 

Sosialisasi IPWL versi Nobar

Sosialisasi IPWL versi Nobar

 

Nobar Piala Eropa di Sekretariat Bersama Drug Free Community - Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku - AfterCare Mahameru

Nobar Piala Eropa di Sekretariat Bersama Drug Free Community – Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku – AfterCare Mahameru

 

Pembatas buku media sosialisasi IPWL dan VCT di Suabaya

Pembatas buku media sosialisasi IPWL dan VCT di Suabaya

 

 

 

 

Peringatan Hari AIDS Se-Dunia 2011

Tinggalkan komentar

“Save Children from AIDS”

Surabaya, 1-3 Desember 2011

Royal Craft Center – Lantai LG – Royal Plaza 

Selama ini penanggulangan HIV dan AIDS lebih terkosentrasi pada populasi kunci. Populasi anak masih kurang diperhatikan, misal hak anak dalam program PMTCT, ART khusus untuk anak, edukasi tentang kesehatan reproduksi pada anak dan remaja juga masih banyak dianggap tabu, perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi seks dan narkoba, hingga pendampingan kasus anak dan atau remaja bermasalah yang beresiko tinggi melakukan tindakan/perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba.

Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sampai bulan Juni 2011 (update data tertanggal 27 Juli 2011), jumlah kumulatif kasus AIDS berdasarkan resiko penularan tertinggi adalah dari hubungan seksual hetero dengan jumlah 14.513 orang dari total jumlah 26.483 orang (54,8%). Kasus AIDS dari faktor resiko transmisi perinatal adalah 742 orang/anak (2,8%). Berdasarkan jenis kelamin kasus perempuan positif mencapai 7.255 orang (27,4%). Berdasarkan usia, total usia anak 0-19 tahun yang terinfeksi HIV/AIDS ada 1.616 orang/anak (6,1%), usia remaja sendiri (15-19 tahun) adalah 821 orang/anak (3%). Usia Produktif 20-39 tahun mencapai 20.630 orang (77,9%), dimana yang masuk kategori orang muda 20-30 tahun 12.288 orang (46,4%). Memperhatikan data di atas ada beberapa situasi yang bisa diasumsikan:

  1. Kasus penularan HIV dari Ibu ke bayi cukup signifikan maka perlu adanya perhatian khusus.
  2. Jumlah usia produktif 20-39 tahun mencapai 77.9% kasus maka resiko kehamilanpun cukup tinggi, yang artinya resiko penularan kepada bayi bila tidak ada penanganan sejak dini akan cukup tinggi pula.
  3. Adanya kasus remaja terinfeksi HIV dan menjadi introspeksi di kalangan keluarga dan dunia Pendidikan.
  4. Kasus AIDS di kalangan usia orang muda yang mencapai 46,4% bisa diasumsikan bahwa mereka kemungkinan tertular pada masa remaja.

Pada asumsi 1 dan 2 saat ini telah digalakkan Program PMTCT dimana ada 3 (tiga) Intervensi:

  1. Mengurangi jumlah ibu hamil dengan HIV positif
  2. Menurunkan viral load/kadar virus serendah-rendahnya
  3. Meminimalkan paparan janin dan bayi terhadap cairan tubuh ibu
  4. Memaksimalkan kesehatan ibu dengan HIV positif

Mengingat adanya kemungkinan transmisi vertikal dan adanya kerentanan tubuh selama proses kehamilan maka pada dasarnya perempuan dengan positif HIV dianjurkan untuk tidak hamil. Dengan Alasan hak asasi manusia, perempuan ODHA dapat memberikan kepututusan untuk hamil setelah melalui proses konseling. Mulai proses kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan, seorang janin/bayi tetap memiliki resiko terpapar. PMTCT dalam perspektif hak asasi ODHA khususnya perempuan ODHA saat ini sangat marak disosialisasikan. Bagaimana dengan perspektif hak asasi anak? Dalam penjelasan Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 tahun. Bertitik dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komperhensif maka kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas sebagai berikut:

  1. Nondiskriminasi
  2. Kepentingan yang terbaik buat anak
  3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan
  4. Penghagaan terhadap pendapat anak.

Pada dasar pemikiran di atas kami menyelenggarakan seminar/dialog terbuka dengan topik bahasan PMTCT dalam perspektif Hak Anak. Acara diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 1 Desember 2011, bertepatan dengan Hari AIDS Se-Dunia.

Pembicara yang hadir pada seminar 1 adalah :

1. dr. Yati S. dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur

2. Selvin Pancarina – Koordinator Wilayah Jawa Timur Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI)

3. Yuliati Umrah, S.IP.  – Direktur Yayasan Arek Lintang (ALIT) Surabaya

Moderator adalah Dr. Ananto Sidohutomo, MARS.

Seminar 1 : PMTCT dalam Perspektif Hak Anak
Seminar 1 : PMTCT dalam Perspektif Hak Anak

Pada poin 3 dan 4 dapat diperhatikan bahwa penularan HIV di kalangan remaja dan orang muda cukup tinggi. Penularan HIV di lingkungan anak muda faktor paling beresiko adalah seks bebas dan narkotika maka perlu menjadi perhatian keluarga dalam hal ini orang tua dan perhatian kalangan pendidik dalam hal ini guru, karena merekalah orang-orang yang langsung berinteraksi dengan anak/siswa. Penyalahgunaan narkotika seringkali beriringan dengan adanya perilaku seks bebas, maka pendidikan tentang seks sejak dini sudah perlu dilakukan. Pada kesempatan ini kami juga menyelenggarakan seminar/dialog terbuka dengan topik bahasan Peranan Orang Tua dan Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja pada hari ke-2, Jumat, tanggal 2 Desember 2011.

Pembicara pada seminar ke-2 ini adalah :

1.  Drs. H. Arief Sadhono S, M.Psi – Dinas Pendidikan Kota Surabaya

2. Drs. M. Ikhsan, M.Si – Kepala Bapemas KB Kota Surabaya

3. Dr. Ananto Sidohutomo, MARS – Bidadari

Moderatornya adalah dr. Rachmat Hargono – Forum Jejaring Peduli AIDS

Seminar 2 : Peran Orang Tua dan Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja

Seminar 2 : Peran Orang Tua dan Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja

Seminar 2

Materi Seminar :

1.   PMTCT dalam Perspektif Hak Anak – Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur

2.  PAPARAN ADVERSITY Q HIV-AIDS – Dinas Pendidikan Kota Surabaya

 

Foto dokumentasi Peringatan Hari AIDS Se-Dunia 2011 bisa dilihat di

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1663035431336.49588.1700745376&type=1

Acara Peringatan Hari AIDS Se-Dunia ini diselenggarakan di Royal Plaza Surabaya (Lantai LG Royal Craft Center) pada tanggal 1-3 Desember 2011. Acara yang mengambil tema Save Children From AIDS ini diselenggarakan atas kerjasama 8 (delapan) Lembaga yang memiliki kepedulian pada masalah AIDS dan Anak, yaitu:

1. Drug Free Community

2. AfterCare MAHAMERU

3. Yayasan Arek Lintang (ALIT) Surabaya

4. Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku (YBSI)

5. Bidadari

6. Forum Jejaring Peduli AIDS (FJPA)

7. Couple Community (CC)

8. Organisasi Cinta Kasih Surabaya (ORCIKS)

Didukung oleh :

9. Teater Samudra SMA Barunawati Surabaya

10. JJFM Surabaya dan SMART FM Surabaya

11. Royal Plaza Surabaya

12. Djarum Foundation Sumbangsih Sosial

13. Pelindo III Tanjung Perak Surabaya

This gallery contains 3 photos

Sinergi Program Harm Reduction dan Pemberdayaan Korban Narkoba

1 Komentar

Sekretaris ACM, Direktur Yayasan Alit, Sekretaris KPA Sidoarjo, dan Leader DFC (Fasilitator ACM)

Sekretaris ACM, Direktur Yayasan Alit, Sekretaris KPA Sidoarjo, dan Leader DFC (Fasilitator ACM)

Sidoarjo, 11 Pebruari 2011, sebuah diskusi lesehan sederhana di KPA Sidoarjo, hadir pada saat itu Sekretaris Komisi Penangggulangan AIDS Kabupaten (KPAK) Sidoarjo beserta stafnya, Badan Narkotika Propinsi Jawa Timur yang diwakili dari Bidang Terapi dan Rehabilitasi, Direktur Yayasan Alit Surabaya, Sekretaris dan Fasilitator After Care Mahameru (ACM) Jawa Timur, Jaringan pecandu Sidoarjo beserta pendampingnya dari Yayasan Bina Hati (YBH). Diskusi kali ini mengambil tema pemberdayaan korban NAPZA/Narkoba di masyarakat. Tema ini sebagai tindak lanjut diskusi trimester tiga bulan yang lalu saat ACM diundang sebagai narasumber, saat itu ACM memberikan materi motivasi, diharapkan para pecandu mulai berpikir untuk pemulihan.

Pertemuan Jaringan Pecandu di Sidoarja (Binaan KPA Sidoarjo)

Pertemuan Jaringan Pecandu di Sidoarja (Binaan KPA Sidoarjo)

Sebagai kelanjutan tema sebelumnya motivasi pemulihan, ACM pada diskusi kali ini memfasilitasi berbagai pihak untuk bisa melakukan sinergi program pemberdayaan bagi pecandu jaringan KPA Sidoarjo. KPA Sidoarjo dengan program Harm Reductionnya memiliki jaringan pecandu terutama pecandu IDU, yang pendampingannya bekerjasama dengan YBH. Selama ini program HR seringkali identik dengan pelayanan jarum suntik steril dan terapi/rumatan metadon. Sebagai program kesehatan untuk mengurangi dampak/resiko penularan HIV di kalangan pecandu IDU (penasun) seolah menafikan pemulihan dan pemberdayaan di kalangan penasun itu sendiri.  Bagaimana konsep pemberdayaan bisa diimplementasikan pada para pecandu bila mereka masih terjebak ketergantungan pada narkoba.

Badan Narkotika Propinsi Jawa Timur dalam bidang terapi dan rehabilitasi memiliki konsep program Workshop Aftercare, sebuah program yang memfasilitasi para pecandu dalam program kelanjutan terapi untuk pembekalan ketrampilan sekaligus bengkel produksi dengan orientasi kewirausahawan. Program Workshop yang direncanakan akan diselenggarakan di komplek Kantor BNP Jawa Timur ini sudah melakukan penjajagan kerjasama dengan dinas-dinas terkait mulai dari Disnaker, Disperindag, dan juga Dinas Koperasi Jawa Timur. Yayasan Alit sendiri adalah lembaga yang memiliki kepedulian pada pemberdayaan anak-anak jalanan dan komunitas marginal. Dalam perkembangannya Yayasan Alit mampu mengembangkan konsep kewirausahawan di kalangan anak-anak dan atau komunitas dampingannya. Mereka memiliki akses pasar untuk pemasaran hasil produksi binaan mereka, bahkan sampai menembus pasar luar negeri. Outlet mereka menempati tempat yang cukup besar di Pusat Kerajinan di Plasa Royal Surabaya (http://www.facebook.com/album.php?fbid=181126518592401&id=100000851621876&aid=35062).

Outlet Bambu milik Yayasan Alit di Plasa Royal

Outlet Bambu milik Yayasan Alit di Plasa Royal

Outlet Handycraft Yayasan Alit di Plasa Royal

Outlet Handycraft Yayasan Alit di Plasa Royal

Aftercare sebagai program kelanjutan pemulihan terutama di bidang, psikis, sosial, dan ekonomi melihat ada potensi-potensi yang bisa dioptimalkan untuk pemulihan dan pemberdayaan di kalangan pecandu. Didorong rasa kepedulian terhadap teman-teman pecandu ACM mencoba mensinergikan lembaga-lembaga tersebut di atas dalam satu program yaitu pemberdayaan korban NAPZA/Narkoba. Diskusi dibuka oleh Sekretaris KPA Sidoarjo yang begitu terbuka untuk bekerjasama dengan pihak manapun untuk mendukung pemberdayaan pecandu dalam jaringan pembinaannya.

Pada paparan yang disampaikan Direktur Yayasan Alit Yuliati Umrah, S.Ip. dijelaskan bahwa untuk menjadi pengusaha tidak harus dengan modal dana, yang utama adalah justru niat. Beliau menjelaskan pengalaman dari binaannya yang pendidikannya rendah mampu membuka usaha kerajinan/handycraft hanya dari memanfaatkan limbah yang ada. Yayasan Alit siap memberikan pelatihan kewirausahawan berikut akses pemasaran hasil produksinya.

BNP yang disampaikan drg. Vitria pun senada dengan Yayasan Alit tentang utamanya niat sebagai modal utama melakukan wirausaha. BNP Jawa Timur hanya akan memfasilitasi dalam bentuk fasilitas tempat, pelatihan, dan natural barang untuk produksi. Sesuai namanya Workshop Aftercare diharapkan yang terlibat dalam pelatihan dan produksi tersebut sudah dalam kondisi berhenti pakai. BNP tidak menutup mata keberadaan sebagian teman-teman pecandu aktif dan atau yang mengikuti terapi metadon, mereka juga ditawari untuk mengikuti program pemulihan.

BNP Jawa Timur mensosialisasikan program Workshop Aftercare

BNP Jawa Timur mensosialisasikan program Workshop Aftercare

ACM melihat kondisi di atas bukan sebagai kendala untuk mengakomodasi teman-teman yang masih aktif pakai/terapi metadon, selama teman-teman pecandu benar-benar memiliki komitmen untuk berwirausaha dalam program Workshop ini maka akan diupayakan untuk mendapatkan kebijaksanaan dari pihak BNP bagi teman-teman pecandu dispensasi selama proses membangun motivasi dan pelatihan kewirausahawan sambil jalan mereka juga mulai proses pemulihan untuk berhenti pakai.

Sekarang semua kembali pada niat dan komitmen teman-teman pecandu dan juga lembaga-lembaga yang memfasilitasi mereka, program HR mestinya memilki nilai tambah bagi pecandu bukan hanya sekedar pengurangan resiko penularan HIV melalui jarum suntik tidak steril melainkan mampu berfungsi untuk pemulihan pecandu itu sendiri dari ketergantungan, yang selanjutnya pemberdayaan sosial dan ekonomi mereka.

Peserta pertemuan trimester Jaringan Pecandu Binaan KPAK Sidoarjo

Peserta pertemuan trimester Jaringan Pecandu Binaan KPAK Sidoarjo

Peserta pertemuan trimester Jaringan Pecandu Binaan KPAK Sidoarjo

Peserta pertemuan trimester Jaringan Pecandu Binaan KPAK Sidoarjo

Salam,

Mila Machmudah Djamhari

Fasilitator After Care Mahameru

This gallery contains 7 photos


Tinggalkan komentar

Siapa Takut Bikin Rehabilitasi Versi “Sakkareppe Dewe” (Antropologi)

Masih ingat bagaimana saat aku diterima sebagai Sekretaris Eksekutif DPC GRANAT (Juni 2001) sama sekali nol pengetahuan tentang narkoba apalagi tentang terapi ketergantungan narkoba… sebagai SE mestinya aku cuma bertanggungjawab pada operasional sekretariat, yang saat ini menjadi sekretariat DFC. Dengan latar belakang pekerjaan sebelumnya di bidang community development dan didukung latar belakang “skol” antropologi ditambah lagi aktifitas aku di berbagai organisasi sosial dan politik, sekedar menjadi SE bukanlah sebuah pilihan yang baik. Dewan Pimpinan Cabang Kota Surabaya dan Dewan Pimpinan Daerah Jawa Timur GRANAT memberi kesempatan banyak buat aku mengaktualisasi diri di GRANAT.

Langkah pertama untuk belajar tentang narkoba adalah dari para sahabat aku, yang ternyata selama ini mereka adalah pecandu. Selama ini aku memang tidak pernah mengerti terlalu banyak kehidupan mereka. Langkah kedua, belajar dari internet yang saat itu belum cukup banyak memberikan informasi tentang narkoba. Langkah ketiga, duduk mendengarkan kuliah private dari para pengurus GRANAT baik tingkat Surabaya maupun tingkat Jawa Timur. Semua tentang narkoba mulai dari aspek medis, sosial, hukum, dan rehabilitasi dituangkan ke dalam otak aku… Apakah hanya cukup dengan mendengarkan mereka???? jawabnya pasti adalah TIDAK.

Pooling-pooling saat sosialisasi bahaya narkoba aku lakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan pengetahuan dan kasus narkoba. Focus Group Disscusion di kalngan pecandu adalah ilmu yang berharga. Kontrol hukum di Kepolisian, Kejaksaaan, dan PN adalah santapan wajib, sampai kajian kasus proses peradilan narkoba di lingkungan Kota Surabaya berdasarakan data kualitatif mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, dan PN. Investigasi laporan dari masyarakat tentang peredaran gelap narkoba sampai ikut dalam tim razia narkoba di diskotik adalah ilmu tersendiri buat aku.

Tentang Rehabilitasi, DPD GRANAT Jatim pernah memilikinya. Drop In Center Yayasan Insan Pengasih Indonesia, Inabah Suralaya, dan Wahana Kinasih sangat terbuka untuk aku belajar pada mereka. Kajian tentang rehabilitasi di Surabaya pun pernah aku lakukan. Apakah cukup puas sampai disini???? jawabnya pasti TIDAK. Mengakomodasi pecandu-pecandu yang ingin berhenti dan menjadi relawan GRANAT adalah laboratorium hidup tentang dunia pecandu dari dekat. Hidup sehari-hari bersama mereka dengan segala tipu daya dan manipulasi mereka menjadi pemahaman baru tentang “kecerdasan” mereka. Sebagian besar dari mereka berusia remaja/muda. Segala daya dan upaya untuk menghentikan mereka dari kecanduan dengan pemahaman yang terbatas aku miliki maksimal aku lakukan.

Ilmu tidak pernah gratis, semua butuh proses dan biaya. Kehilangan barang-barang kantor karena dicuri pecandu adalah sebuah nilai yang harus ditebus, selain waktu, tenaga, dan pikiran aku untuk pendampingan sekaligus observasi mereka. Aku tidak ingin berbangga apalagi untuk sombong bahwa dengan kerjasama yang cukup manis di seluruh jajaran Pengurus dan Relawan GRANAT, kami “berhasil” menghentikan kecanduan sebagian dari mereka. Saat ini mereka cukup mandiri tanpa bantuan dana dan pelatihan dari lembaga manapun selain dari GRANAT pada saat mereka menjadi bagian dari GRANAT. Ada yang jadi broker, ada yang jadi tukang service komputer, dan ada yang jadi manager marketing salah satu property, bahkan saat ini mereka masih saling mendukung sesamanya dengan membentuk kelompok usaha bersama. Menjadikan mereka berhenti dan memotivasi mereka untuk berdaya adalah hal terindah yang aku dapatkan dari sekian tahun di dunia penanggulangan narkoba. Apakah itu sudah cukup???? Manusia yang berpikir dan selalu ditambah ilmunya tiap hari, akan menjadi zalim bila hanya puas berbuat sampai disini.

House of Rangga... KUBE alumni relawan DPC GRANAT Surabaya

House of Rangga… KUBE alumni relawan DPC GRANAT Surabaya

Aku sadar bahwa dulu banyak dari “klien” aku adalah anak muda maka pencarian ilmu tentang ketergantungan narkoba di kalangan orang dewasa menjadi sebuah target berikutnya. Pemahaman tentang pecandu di kalangan dewasa banyak belajar di lingkungan para sahabat aku tetapi itu belum cukup. Tidak lagi beraktifitas di GRANAT Kota Surabaya tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar dan belajar tentang narkoba dan terapi ketergantungan narkoba. Bersama bendera DFC ada kesempatan kembali untuk melakukan kajian dan pengembangan tentang terapi ketergantungan narkoba. Bila magang di lembaga rehabilitasi resmi milik pemerintah ditolak mentah-mentah, apakah harus berhenti untuk berbuat, jawabnya adalah tidak.

After Care Irba Pitoe/Mahameru menjadi sebuah kawah candradimuka pemahaman pragmatis aku tentang dunia pecandu dikalangan usia dewasa. Banyak terjadi perdebatan antara aku yang non pecandu dengan kalangan pecandu tentang masalah adiksi. Tanpa mengurangi hormat dan menghargai perspektif mereka, aku memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Dengan latar belakang antropologi (ilmu tentang manusia/nilai) dan community development mempengaruhi perspektif aku memahami tentang masalah adiksi.

Mantan Pecandu (House of Rangga - After Care Mahameru Jatim) mengerjakan pemesanan papan nama

Mantan Pecandu (House of Rangga – After Care Mahameru Jatim) mengerjakan pemesanan papan nama

Terima rental, percetakan, sampai service komputer dan elektronik. Keterbatasan modal bukan berarti alasan untuk berhenti berdaya

Terima rental, percetakan, sampai service komputer dan elektronik. Keterbatasan modal bukan berarti alasan untuk berhenti berdaya

Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tentang terapi dan rehabilitasi ketergantungan narkoba, tanpa mengurangi tanggungjawab aku sebagai Leader DFC. Apa yang aku lakukan masih dalam garis organisasi, yang aku yakin akan didukung oleh tim DFC. Siapa takut bikin terapi dan rehabilitasi ketergantungan narkoba versi aku, versi “sakkareppe dewe” alias versi antropologi (orientasi Nilai). TR Holistik… Kajian dan pengembangan terapi berbasis antropologi.

Catatan :

Terapi ini adalah terapi alternatif dan tidak rawat inap, kecuali saat proses detoksifikasi (kurang dari satu bulan).

Hormat aku untuk Guru-guruku di bidang Narkoba dan Comdev :

1. Alm. Bapak Sony (Care Internasional)

2. Alm. Bapak Eddy Pirih (Ketua DPD GRANAT Jatim)

3. Alm. Bapak Slamet, SH. (Mantan Jaksa, Dosen Pasca Sarjana Hukum UNAIR, dan DPD GRANAT Jatim)

4. Bapak Sonny Wibisono (Mantan Ketua DPC GRANAT Surabaya)

5. Bapak dr. Eddy Sofyan Herman (dokkes Polrestabes Surabaya dan DPD GRANAT Jatim)

6. Bapak Singky Suwadji (Mantan Sekretaris DPD GRANAT Jatim)

7. Bapak Henry Yosodiningrat, SH. (Ketua DPP GRANAT)

8. Sdr. Ibrahim (mantan Staf DIC YIPI)

9. Sahabatku (Legowo, Arman, Totok, dan Fadjar)

10. Seluruh Relawan GRANAT termasuk di dalamnya yang mantan pecandu

11. Seluruh Relawan DFC (kalian juga guru buat aku)

12. Sahabat sekaligus mitra kerjaku (Made dan Rollys)

13. Bapak dr. Rahmat Hargono (Guru Pertamaku tentang AIDS)

14. Bapak Dede Oetomo M.Pd. (Guruku tentang NILAI dan HEGEMONI)

15. Bapak dr. Hisnisdarsyah (guru sekaligus mitra kerja)

Mila Machmudah Djamhari, S.Sos.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.107 pengikut lainnya.